Dark/Light Mode

Catatan Miftahun Najah, Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) HMI 2024-2026

Menafsir Ulang “Yakin-Usaha-Sampai” Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Jumat, 6 Februari 2026 14:48 WIB
Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) Himpunan Mahasiswa Islam 2024 – 2026 Miftahun Najah. (Dok. Pribadi)
Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) Himpunan Mahasiswa Islam 2024 – 2026 Miftahun Najah. (Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jejak usia bukanlah sebatas penanda waktu, melainkan ukuran tentang sejauh apa sebuah organisasi tetap setia pada nilai yang melahirkannya. Pada titik ini, Milad HMI ke-79 tidak cukup dirayakan sebagai catatan panjang usia dan kontribusi historis, tetapi mesti dihadapi sebagai momen evaluasi diri yang jujur dan berani. Sebab organisasi yang telah melewati hampir delapan dekade tidak lagi diuji terutama oleh tekanan eksternal, melainkan oleh kemampuannya menjaga idealisme di tengah kemapanan, mempertahankan integritas di tengah godaan pragmatisme, serta merawat iman dan memantapkan ilmu sebagai energi moral-sosial, bukan sekadar simbol identitas.

Di tengah situasi keislaman dan keindonesiaan dewasa ini—yang ditandai oleh pragmatisme politik, banalitas wacana keagamaan, dan krisis keteladanan moral—HMI dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah ia masih menjadi ruang pembentukan insan beriman, berilmu, dan bertanggung jawab sosial, atau telah bergeser menjadi sekadar mesin reproduksi elite dan terjebak rutinitas struktural? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan seremoni, melainkan dengan refleksi ideologis yang jujur.

Semboyan “yakin – usaha – sampai” menjadi pintu masuk refleksi itu. Ia tidak hadir sebagai slogan motivasional, melainkan kristalisasi etos keislaman yang seharusnya membimbing arah gerak perjuangan HMI. Namun justru karena terlalu sering diucapkan, semboyan ini berisiko kehilangan daya kritiknya. Maka, pada Milad ke-79 ini, “yakin – usaha – sampai” perlu ditafsirkan ulang secara filosofis, teologis, dan sosiohistoris—bukan untuk dimuliakan secara simbolik, melainkan untuk diuji relevansinya di tengah krisis idealisme kader dan disrupsi zaman.

Yakin: Iman yang Teguh dan Idealisme yang Menolak Rapuh

Dalam doktrin Islam, yakin (yaqīn) bukanlah kepercayaan dangkal, apalagi loyalitas buta. Ia adalah iman yang telah melewati proses pergulatan rasional dan pengalaman eksistensial, sehingga melahirkan keteguhan sikap moral. Yakin bukan sekadar percaya, melainkan keberanian untuk berpihak pada kebenaran yang diiringi kecakapan pengetahuan, penghayatan, dan harapan akan hal-hal baik terwujudkan. Al-Qur’an sendiri tidak menempatkan hakikat atas yaqīn sebagai titik awal iman, melainkan sebagai tingkat kesadaran iman yang matang, sebagaimana terlihat dalam pembedaan ‘ilm al-yaqīn, ‘ayn al-yaqīn, dan ḥaqq al-yaqīn (At-Takātsur/102: 5–7). Artinya, yakin adalah buah dari proses panjang pencarian makna, bukan klaim iman yang lahir secara instan atau diwarisi secara dogmatis.

Di sinilah pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) menjadi relevan bagi HMI. Cak Nur (1971) memahami iman bukan sebagai ideologi tertutup yang membelenggu akal, melainkan sebagai sumber idealisme yang membebaskan dan mencerahkan. Iman, baginya, justru harus melahirkan etos intelektual, keterbukaan berpikir, dan komitmen moral terhadap keadilan sosial. Iman yang tidak menumbuhkan idealisme hanya akan menjelma menjadi simbol identitas—ramai dalam retorika keagamaan, miskin dalam tanggung jawab etis.

Jika ditarik ke dalam konteks ke-HMI-an hari ini, pertanyaannya menjadi tak terelakkan: apakah “yakin” masih hidup sebagai nalar iman yang kritis, atau telah merosot menjadi sekadar kepatuhan struktural secara dogmatis? Tidak jarang nilai keislaman dan keindonesiaan diucapkan dengan lantang, tetapi gagal menjelma menjadi sikap kritis terhadap ketidakadilan, dekadensi moral, dan penyalahgunaan kekuasaan—bahkan ketika itu dilakukan oleh “orang sendiri” dan dilegitimasi atas nama kepentingan organisasi.

Baca juga : Bank Haji Tanpa Disiplin Investasi: Ancaman Nyata Bagi Jamaah

Padahal, sejarah HMI justru dibangun dari iman yang berani mengambil risiko, bukan iman yang mencari aman. HMI lahir sebagai gerakan yang meyakini bahwa nilai-nilai universal Islam dan esensi keindonesiaan dapat—dan harus—dipertemukan secara bermartabat di tengah tekanan ideologis-politis zamannya. Jika hari ini makna yakin kehilangan daya kritis dan idealismenya, maka yang terancam bukan hanya relevansi HMI di ruang publik, melainkan roh ideologis yang sejak awal menjadi sumber vitalitas gerakan.

Usaha: Ikhtiar sebagai Doa dan Ruh bagi Arah

Dalam perspektif teologis, usaha (ikhtiār) merupakan konsekuensi langsung dari iman, bukan pelengkap spiritual. Iman tidak berhenti pada pengakuan batin, tetapi menuntut keterlibatan aktif manusia dalam ruang tindakan dan tanggung jawab etis. Al-Qur’an menegaskan prinsip ini secara tegas: “bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (An-Najm/53: 39). Ayat ini menegaskan hukum moral dasar, bahwa manusia dipanggil untuk bertanggung jawab atas pilihan dan kerja historisnya sendiri. Dengan demikian, ikhtiar bukan sekadar aktivitas pragmatis, melainkan ekspresi iman yang sadar akan arah, nilai, dan konsekuensi. Iman yang tidak menjelma menjadi usaha hanyalah keyakinan pasif, sementara usaha tanpa orientasi nilai kehilangan makna transendennya.

Dalam lintasan sejarahnya, HMI memaknai usaha sebagai kerja-kerja kaderisasi, pengembangan intelektual-manajerial, dan keterlibatan aktif dalam problem keumatan-kebangsaan. Usaha ini menjadikan HMI bukan sebatas organisasi mahasiswa, tetapi ruang pembentukan kepemimpinan moral, harapan masa depan umat dan bangsa.

Namun, masalah besar HMI dewasa ini adalah pergeseran orientasi usaha. Banyak energi organisasi terserap dalam rutinitas struktural, kontestasi internal, dan manuver politik temporal. Aktivisme direduksi menjadi portofolio normatif organisasi, bukan lagi jalan sunyi pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Dalam situasi seperti ini, usaha kehilangan makna spiritualnya dan berubah menjadi sekadar teknik bertahan dalam sistem.

Padahal, dalam tradisi Islam, usaha selalu mengandung dimensi etis: apakah ia dilakukan untuk kebaikan bersama atau kepentingan sempit saja? Apakah ia mendekatkan manusia pada keadilan atau justru melanggengkan ketimpangan? Jika usaha dilepaskan dari pertanyaan-pertanyaan ini, maka ia tidak lagi bernilai ibadah.

HMI pernah dikenal sebagai ruang intelektual kritis—tempat kader berlatih berpikir, membaca realitas, dan menyusun alternatif perubahan sosial. Jika hari ini usaha HMI lebih banyak dihabiskan untuk merespons momentum sesaat tanpa kedalaman analisis dan gerak strategis, maka yang terjadi adalah inflasi aktivitas dan deflasi makna. Usaha menjadi ramai, tetapi hampa. Ikhtiar yang tidak disertai keberanian berpikir dan keberpihakan pada yang lemah adalah ikhtiar yang hampa secara moral. Jika usaha tidak lagi diarahkan untuk membangun kesadaran kritis, memperjuangkan keadilan sosial, dan merawat etika publik, maka HMI berisiko terjebak dalam pragmatisme berkedok perjuangan.

Baca juga : Ketua Dewan Pers Kenang Era Koran Sebagai Pusat Wacana Sosial Dan Intelektual

Refleksi Milad seharusnya mengajukan pertanyaan mendasar: usaha macam apa yang sedang dijalankan HMI hari ini? Apakah ia masih menjadi ikhtiar kolektif untuk memuliakan manusia dan bangsa, atau justru menjauh dari cita-cita awalnya?

Sampai: Tawakal dan Esensi Hasil

Bagian terakhir dari semboyan ini—sampai—sering dipahami secara simplistik sebagai keberhasilan atau kemenangan. Namun dalam perspektif teologis, sampai selalu berkaitan dengan tawakal: kesadaran bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Tawakal bukan sikap pasrah sebelum berjuang, melainkan penyerahan diri kepada Tuhan setelah ikhtiar maksimal.

Masalahnya, dalam praktik organisasi modern, sampai sering bergeser menjadi obsesi hasil. Keberhasilan diukur dari capaian jabatan, pengaruh politik, atau kedekatan dengan rezim kekuasaan. Ketika hasil menjadi tujuan utama, nilai-nilai mudah dinegosiasikan. Tawakal pun kehilangan maknanya dan digantikan oleh mentalitas “yang penting menang/berhasil”.

Padahal, baik dalam sejarah Islam maupun sejarah HMI, tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan instan. Ada perjuangan yang secara politis gagal, tetapi secara moral justru bermakna dengan bersetia pada integritas. Tawakal mengajarkan bahwa tugas manusia adalah setia pada nilai dan proses, bukan memonopoli hasil. Nilai tawakal justru menjaga organisasi agar tidak terjebak dalam ilusi bahwa segala sesuatu bisa dikendalikan sendiri.

Bagi HMI, sampai seharusnya dimaknai sebagai kesetiaan pada nilai-nilai luhur hingga akhir bahkan ketika itu tidak menghasilkan keuntungan, bukan pencapaian target jangka pendek. Tanpa tawakal, “yakin” akan berubah menjadi fanatisme dan “usaha” akan melahirkan kesombongan: tanpa kesadaran batas.

Milad HMI sebagai Titik Balik Refleksi

Memasuki usia ke-79, HMI tidak kekurangan pergulatan sejarah, justru sebaliknya berpotensi kekurangan keberanian untuk mengkritik diri sendiri. Milad ini seyogyanya bukan menjadi panggung euforia, melainkan ruang sunyi untuk refleksi: apakah HMI masih setia pada yakin yang melahirkan idealisme, usaha yang bermakna sebagai doa, dan sampai yang disertai tawakal?

Baca juga : Wagub Aryoko Resmikan Bahtera Kristoforus Sebagai Pusat Spiritual Modern

Milad ini tidak semestinya dirayakan dengan kepuasan diri, melainkan dengan kesediaan untuk mengakui kegamangan, kekeliruan, dan disorientasi arah yang terjadi. Sebab organisasi yang besar bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang berani mengoreksi dirinya sendiri.

Menafsirkan kembali “yakin – usaha – sampai” pada momentum Milad HMI berarti menegaskan ulang bahwa iman harus melahirkan idealisme yang teguh, usaha harus bermakna sebagai doa bagi kehidupan sosial, dan sampai harus disertai tawakal serta kerendahan hati. Jika semboyan ini hanya berhenti sebagai jargon, maka HMI sedang berjalan tanpa kompas nilai. Tetapi jika ia dihidupkan kembali sebagai etos perjuangan, maka HMI masih memiliki peluang untuk tetap relevan dan menjadi harapan bagi umat dan bangsa.

Milad HMI ke-79 adalah momen untuk memperbarui kesadaran dan menegaskan kembali bahwa HMI bukan organisasi yang sebatas ingin bertahan, tetapi gerakan spiritual-intelektual-sosial yang ingin terus bermakna. Sebab dalam arus sejarah, suatu organisasi tidak diingat karena lamanya usia, melainkan karena keteguhannya menjaga nilai di tengah pergolakan zaman. Selamat Milad HMI ke-79!

*) Penulis adalah Miftahun Najah, Anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 2024–2026, saat ini menjabat Deputy GM Cabang Utama Jakarta PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.