Dark/Light Mode

Ramadan: Mengaudit Hati, Menjaga Integritas Negeri

Rabu, 18 Februari 2026 13:11 WIB
H. Suripto (Foto: Dok. Pribadi Penulis)
H. Suripto (Foto: Dok. Pribadi Penulis)

Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan itu bukan sekadar keputusan administratif, melainkan penanda bahwa umat Islam kembali memasuki bulan suci Ramadan, bulan yang oleh Allah SWT dimuliakan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Ramadan selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Ia bukan hanya pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan momentum pembaruan iman. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai bulan penuh keberkahan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “Barang siapa yang bergembira menyambut Ramadan, Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka”. Sabda itu bukan sekadar janji pahala, tetapi pesan agar Ramadan disambut dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.

Puasa yang diwajibkan pada bulan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Allah SWT berfirman bahwa tujuan puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya soal ibadah ritual, melainkan kesadaran batin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Kesadaran inilah yang melahirkan kejujuran, bahkan ketika tidak ada manusia yang menyaksikan.

Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan orang lain. Namun ketika ia sendirian, hanya dirinya dan Allah yang tahu. Di situlah hakikat puasa diuji. Ramadan mendidik manusia untuk jujur dalam kesunyian.

Nilai inilah yang sangat relevan dengan kehidupan berbangsa. Kita menyaksikan bagaimana berbagai persoalan moral masih menjadi tantangan, di antaranya penyalahgunaan wewenang, manipulasi data, ketidakjujuran dalam pengelolaan keuangan, hingga praktik yang merugikan kepentingan masyarakat. Semua itu pada dasarnya berakar pada lemahnya integritas.

Baca juga : Pandangan Politisi Gerindra, MBG Jadi Investasi Pembangunan Manusia

Islam menempatkan amanah sebagai prinsip yang sangat luhur. Al-Qur’an mengingatkan bahwa amanah pernah ditawarkan kepada langit dan bumi, tetapi manusia yang memikulnya. Setiap jabatan, setiap tanggung jawab, setiap kepercayaan adalah amanah. Dan amanah itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam keyakinan Islam, ada konsep hisab, perhitungan atas seluruh amal manusia. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari catatan. Kesadaran tentang hisab inilah yang seharusnya menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri setiap Muslim, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tugas publik.

Ramadan adalah bulan saat pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Namun ampunan tidak datang tanpa perbaikan diri. Puasa melatih pengendalian diri, menahan hawa nafsu, menundukkan ego, dan membersihkan hati dari sifat tamak dan serakah. Sifat-sifat inilah yang sering kali menjadi akar dari berbagai penyimpangan sosial.

Ketika seorang pejabat menyalahgunakan kekuasaan, ketika seorang pemimpin tidak jujur, atau ketika seseorang mengkhianati kepercayaan, sesungguhnya yang rusak bukan hanya sistem, melainkan hati. Dan hati hanya bisa diperbaiki dengan kesadaran spiritual.

Ramadan memberi kesempatan untuk mengaudit hati. Bukan audit dalam arti administratif, melainkan muhasabah, introspeksi diri. Apakah amanah yang kita pegang sudah dijalankan dengan benar? Apakah hak orang lain sudah kita tunaikan? Apakah keputusan yang kita ambil membawa keadilan atau justru sebaliknya?

Baca juga : Jelang Ramadan, Pengungsi Tapteng Sambut Masjid Bantuan BAZNAS

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi bangsa yang kokoh secara moral. Integritas negeri lahir dari integritas warganya. Jika individu jujur, maka lembaga akan kuat. Jika hati bersih, maka kebijakan akan adil.

Puasa mengajarkan empati. Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan pada saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari empati lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir keadilan sosial. Inilah dimensi sosial Ramadhan yang sering kali terlupakan.

Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah madrasah ruhani, sekolah kehidupan yang mengajarkan disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran akan pengawasan Ilahi. Jika nilai-nilai ini benar-benar dihayati, maka dampaknya akan terasa jauh melampaui bulan suci itu sendiri.

Menjaga integritas negeri tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia dimulai dari kesadaran kecil: tidak berbohong, tidak mengambil yang bukan haknya, tidak menyalahgunakan kepercayaan. Dari situlah perubahan bertumbuh.

Pada akhirnya, Ramadan mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju pertanggungjawaban. Kita boleh saja luput dari pengawasan manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT.

Baca juga : Angkutan Jalan Perintis: Menggapai Pelosok, Menyejahterakan Negeri

Nasihat terbaik yang dapat kita renungkan di bulan suci ini adalah sederhana namun mendalam. Jangan jadikan Ramadan hanya ramai di masjid, tetapi sunyi dalam perubahan akhlak. Jangan biarkan lisan kita fasih membaca ayat-ayat suci, sementara tangan dan keputusan kita masih melukai keadilan. Jangan pula kita khusyuk dalam doa, tetapi lalai dalam menunaikan amanah.

Jika kita benar-benar ingin melihat negeri ini lebih bermartabat, maka mulailah dari diri sendiri. Perbaiki yang kecil sebelum menuntut yang besar. Jaga yang dekat sebelum mengkritik yang jauh. Sebab perubahan bangsa tidak lahir dari pidato yang panjang, melainkan dari hati yang jujur dan tindakan yang konsisten.

Ramadan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan berulang bagi sebagian dari kita. Maka gunakanlah ia untuk membersihkan hati, meluruskan niat, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah jabatan, bukan kekuasaan, bukan pula harta, melainkan hati yang bersih dan amal yang ikhlas.

Semoga Ramadan tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, masyarakat yang lebih berempati, dan bangsa yang lebih berintegritas. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia Propinsi Banten

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.