Dark/Light Mode

Catatan Agus Sutoyo

Ramadan Mubarak: Puasa Berkah Makin Semarak

Rabu, 18 Februari 2026 11:42 WIB
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional RI, Agus Sutoyo (Foto: Dok. Agus)
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional RI, Agus Sutoyo (Foto: Dok. Agus)

RM.id  Rakyat Merdeka - Selasa malam Menteri Agama Nazaruddin Umar mengumumkan penetapan dimulainya puasa Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Tahun ini ada perbedaan dalam memulai puasa Ramadan dengan Ormas Islam Muhammadiyah, karena Muhammadiyah mengawali puasa di hari Rabu, 18 Februari. Perbedaan yang kerap terjadi ini, kita sebagai umat Islam yang menjalankan keduanya dengan keyakinannya masing-masing tetap menjalankannya dengan sukacita penuh kegembiraan di bulan yang dimuliakan-Nya. 

Tentu saja ucapan yang paling baik dalam menyambut datangnya bulan Ramadan adalah ‘alhamdulillah’, meski ada juga yang mengucapkan ‘Marhaban ya Ramadan’. Dahulu Nabi Muhammad SAW biasa memberitahu orang-orang tentang bulan yang diberkati ini. Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Hai manusia, bulan Ramadan yang diberkahi sudah dekat kepadamu, dan Allah SWT telah mewajibkanmu untuk berpuasa di bulan ini”. 

Kita bergembira karena pada bulan Februari ini justru rasa kemanusiaan, rasa persaudaraan kita di Indonesia semakin dikokohkan karena mengawali di bulan Ramadan ini, sebelumnya, pada Selasa, Rabu, dan Kamis ini (17, 18, 19 Februari) Indonesia menggelar parade tiga jalan penemuan jatidiri: Imlek, Rabu Abu, dan awal Puasa Ramadan. Jalan beda warna—sukacita, teduh, hening—namun bertemu pada satu muara: pencarian makna dan penjernihan hati. Di antara ragam agama dan kepercayaan, kuyakini hanya ada satu yang benar: agama penyerahan diri pada keluhuran yang tak terhingga, kasih sayang pada segala ciptaan, keberpihakan pada kebenaran, kebaikan, keadilan, dan keindahan.

Prof. Yudi Latif, dalam satu catatan renungannya, menyebut agama yang benar bukanlah tembok, melainkan jembatan. Ia seperti lentera Imlek yang menerangi tanpa membakar perbedaan; seperti abu di dahi yang menorehkan kerendahan hati; seperti puasa yang melatih batin agar tak dikuasai angkara nafsu dan ego. Suatu ketika, Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lama, “Yang Mulia, apakah agama terbaik?” Ia menjawab, “Agama terbaik adalah agama yang membuatmu lebih dekat kepada Tuhan—yang menjadikanmu manusia yang lebih baik.”

Ukuran kebenaran bukanlah nama, melainkan nurani yang bertumbuh; bukan klaim yang lantang, melainkan laku yang baik. Pope Francis mengingatkan, hidup bagi orang lain adalah hukum alam: sungai tak minum airnya sendiri, pohon tak makan buahnya sendiri, mentari tak bersinar bagi dirinya. Kita dilahirkan untuk saling membahagiakan. Sebagaimana diungkapkan Ali bin Abi Thalib, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Ia memberi bagian yang sama kepada bangsawan Quraisy dan perempuan Yahudi dari Afrika, seraya menegaskan bahwa di hadapan Kitabullah tak ada kelebihan satu atas yang lain. Di hadapan keadilan, semua manusia setara.

Keagungan Ramadan

Kita banyak melihat dan mendengar ucapan “Ramadan Mubarak”, secara etimologis perlu juga disampaikan di sini bahwa ucapan Ramadan Mubarak ini kebanyakan diucapkan di sub-benua India oleh orang India dan Pakistan. Mubarak berarti barakah (berkah) yang berasal dari bahasa Arab. Tetapi ketika diucapkan oleh orang India dan Pakistan, kata itu menjadi sejenis ucapan selamat, sebagaimana seseorang yang lulus ujian, orang memberi selamat dengan mengatakan “Mubarak” dalam bahasa Urdu. 

Baca juga : Jelang Ramadan dan Idul Fitri, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

Jadi, ketika Ramadan tiba, mereka mengucapkan “Ramadan Mubarak” dan menurut ulama hal itu bukan bid’ah. Ada baiknya mereka menyebut bulan ini sebagai bulan yang diberkati. Sedangkan kata apa yang kita pilih adalah mubah dan opsional sebagaimana di India orang mengatakan “Ramadan Mubarak”. Adapun di negara teluk orang menyebut dan mengucapkan “Ramadan Karim”. 

Selain itu, yang lebih banyak orang gunakan adalah kalimat "Marhaban ya Ramadan", ini adalah sebuah ungkapan yang berarti juga "Selamat datang wahai Ramadan" atau "Kami menyambut kedatanganmu, wahai bulan Ramadan, dengan penuh kebahagiaan". Kata marhaban sendiri berasal dari akar kata Arab "rahb" yang bermakna kelapangan dada, keluasan hati, dan kesiapan menerima tamu dengan hormat. Maka ketika umat Islam mengucapkan "Marhaban ya Ramadan", sesungguhnya yang dihadirkan bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sikap batin berupa hati yang lapang, jiwa yang siap, dan raga yang bersedia ditempa.

Ungkapan ini hampir selalu menggema setiap menjelang bulan suci. Ia hadir di mimbar-mimbar masjid, di ruang keluarga, di media sosial, bahkan di baliho-baliho pinggir jalan. Suasananya mirip seperti seseorang yang menyambut tamu agung yang telah lama dinanti. Rumah dibersihkan, hati ditata, dan suasana diciptakan agar sang tamu merasa dimuliakan. Penyebutan "Marhaban ya Ramadan" memperlihatkan bahwa bulan ini memang istimewa, sehingga perlu disambut dengan hormat, sopan, dan kebahagiaan yang luar biasa. Ia berbeda dengan penyebutan bulan-bulan lain dalam kalender Hijriah yang cenderung berjalan biasa saja. Kita jarang, misalnya, mendengar ungkapan "Marhaban ya Rajab", "Marhaban ya Muharam", atau "Marhaban ya Safar". Padahal bulan-bulan tersebut juga memiliki nilai sejarah dan spiritualitas tersendiri. Muharam dikenal sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan. Rajab sering dikaitkan dengan peristiwa Isra Mi'raj. Sya'ban menjadi bulan persiapan menuju Ramadan. Namun tetap saja, gaung penyambutannya tidak semeriah Ramadan. 

Di sinilah letak keunikan sekaligus keagungan Ramadan. Ia bukan sekadar bulan dalam hitungan kalender, melainkan musim spiritual yang menghadirkan atmosfer berbeda. Dalam tradisi keislaman, Ramadan disebut sebagai syahrul mubarak (bulan penuh keberkahan); syahrul maghfirah (bulan ampunan); dan syahrut tarbiyah (bulan pendidikan jiwa). 

Sebenarnya, semua kata-kata ini baik untuk bulan suci dan penuh berkah. Orang harus saling mendoakan dan mengingatkan satu sama lain tentang bulan yang diberkati ini. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah SWT karena telah membuat kita bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah ini. Kita harus bersyukur atas rahmat-Nya dan mohon ampunan-Nya agar segala dosa kita yang lalu diampuni. Kita harus berterima kasih kepada Allah untuk semua nikmat, berkah, dan rahmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah:185 yang berbunyi: Syahru ramadaanal-lazii unzila fiihil-qur'aanu hudal lin-naasi wa bayyinatim minal-hudaa wal-furqaan, fa man syahida minkumusy-syahra falyasumh, wa man kaana mariidan au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhar, yuriidullaahu bikumul-yusra wa laa yuriidu bikumul-'usr, wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullaaha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykurun

Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur".

Baca juga : Mantan Jadi Penentu, Slavko Patahkan Rekor Tak Terkalahkan Persebaya

Dan tentu saja di Al-Baqarah ayat 183 yang sangat populer ketika memasuki Ramadhan adalah: Yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba 'alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba 'alalladzîna ming qablikum la'allakum tattaqûn. Yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dalam ayat ini, kata yang digunakan adalah tattaquun yang artinya “kamu sekalian bertaqwa”. Dengan demikian, kita belajar untuk menyadari berbagai hikmah dengan benar agar ‘taqwa’ kita meningkat. Bulan ini adalah bulan di mana seseorang bisa menjadi lebih bertaqwa.

Inilah saatnya ketaqwaan kita bisa mencapai puncaknya. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa bulan ini adalah semacam pelatihan tahunan. Seperti mesin yang perlu diservis, jika kita menyebut manusia sebagai mesin paling kompleks di dunia, mesin itu perlu diservis. Bulan ini adalah pelatihan spiritual dan moralitas bagi manusia. Dalam hadits sahih al Bukhari, “Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa Nabi tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan dia tidak berpuasa di bulan apa pun berhari-hari seperti dia berpuasa di bulan Syaban”. Dari hadits ini kita bisa mengetahui bahwa Nabi biasa menyambut atau mempersiapkan bulan Ramadhan dengan berpuasa beberapa hari di bulan sebelumnya, yaitu bulan Sya’ban.

Satu hal yang perlu dicatat adalah, Nabi tidak secara khusus mengucapkan ini hanya untuk bulan Ramadan. Tetapi juga untuk semua bulan baru yang biasa dia lihat ketika melihat hilal. Ingatlah nasehat bijak Ali Bin Abi Tholib: Barang siapa yang bersandar dengan harta, maka ia akan miskin. Barang siapa yang bersandar dengan harga diri, maka ia akan hina. Barang siapa yang bersandar pada akal, maka ia akan tersesat. Dan barang siapa yang bersandar hanya kepada Allah, maka ketahuilah ia tak akan miskin, hina dan tersesat. 

Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT untuk menjadi hamba yang istiqomah menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah. Khususnya di bulan Ramadan ini, kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya dengan meningkatkan ibadah di malam-malam ramadhan, bershodaqoh, tadarus alqur’an, semoga ibadah kita ini dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. 

Puasa Itu Jalan Cahaya

Ramadan pada akhirnya adalah cermin. Ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya. Bila di bulan ini kita mampu menahan amarah, berarti selama ini kita sebenarnya mampu, hanya saja jarang mau. Bila kita mampu memperbanyak sedekah, berarti selama ini kita sebenarnya cukup, hanya saja kurang peduli. Ramadan membuka tabir bahwa kebaikan selalu mungkin, jika kita bersedia melapangkan hati. Maka ketika kita kembali mengucapkan "Marhaban ya Ramadan", semestinya yang hadir bukan sekadar kegembiraan seremonial, tetapi juga kesadaran eksistensial bahwa kita sedang menyambut bulan pendidikan jiwa. Bulan yang mungkin datang tahun ini, tetapi belum tentu kita jumpai tahun depan.

Di situlah kerendahan hati diuji. Kita menyambut Ramadan bukan hanya karena ia tamu agung, tetapi juga karena kita adalah tuan rumah yang belum tentu layak. Maka penyambutan terbaik bukan pada kemeriahan ucapan, melainkan pada kesungguhan perubahan. Sebab Ramadan tidak pernah meminta disambut dengan kata-kata indah. Ia hanya meminta hati yang bersedia ditempa, jiwa yang siap dibersihkan, dan hidup yang mau diarahkan kembali kepada Tuhan. 

Baca juga : Mendag Minta Produsen Bikin Second Brand Migor

Dan ketika Ramadan usai, ukuran keberhasilan penyambutan itu bukan pada seberapa meriah kita mengucap "Marhaban ya Ramadhan", melainkan pada seberapa berat kita mengucap "Selamat tinggal, wahai Ramadan." Jika perpisahan terasa haru, jika air mata menetes saat takbir Idul Fitri berkumandang, di situlah tanda bahwa Ramadhan benar-benar kita sambut dengan jiwa, bukan sekadar kata. Bahwa ia tidak hanya singgah di kalender, tetapi menetap di karakter. Tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga membekas dalam perilaku.

Pada akhirnya, "Marhaban ya Ramadan" bukan sekadar ucapan selamat datang. Ia adalah janji-janji untuk memperbaiki diri, menata ulang hidup, dan melapangkan hati seluas-luasnya bagi datangnya cahaya Ilahi.

Jika Imlek mengajarkan cahaya harapan, Rabu Abu kerendahan hati, dan Ramadhan pengendalian diri, maka agama yang benar adalah ketika cahaya itu kita bagi, kerendahan hati itu kita hayati, dan pengendalian diri itu kita wujudkan dalam keadilan sosial. Pada akhirnya, agama bukan sekadar ritual, melainkan transformasi—cara Tuhan hadir dalam perlakuan kita terhadap sesama. Bila seseorang menjadi pelita cahaya bagi sekitar, teduh bagi yang lelah, dan adil bagi yang lemah, ia telah berjalan di jalan yang benar: jalan cahaya dan rahmat bagi semesta. 

Semoga di bulan keberkahan-Nya yang berlimpah ini dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya, karena sejatinya Ramadhan mubarak adalah puasa itu membawa berkah buat semua manusia, semakin semarak seluruh aktifitasnya semakin banyak keberkahan-Nya bertabur kebahagiaan bagi yang menjalankannya dengan penuh gembira. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Salam literasi.***

Agus Sutoyo
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional RI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.