Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Inggris Vs Argentina, Duel Mental Juara Menuju Final Piala Dunia 2026
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- Pelita Harapan Group Perluas Jaringan Ekosistem Pendidikan Di Bandung
- Purbaya: Rating BBB Dari S&P Buktikan Sentimen Negatif RI Tak Terbukti
Catatan Tatang Muttaqin, Dirjen Pendidikan Khusus dan Menengah Kemendikdasmen
Estafet Ideologi Sumitro Ke Prabowo Di Tengah Perubahan Zaman
Senin, 13 Juli 2026 09:22 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ada pepatah yang mengatakan bahwa gagasan yang baik tidak pernah mati, hanya berganti tangan, berganti zaman, lalu diuji kembali oleh realitas yang berbeda. Pesan itulah yang terasa kuat ketika membaca buku “Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo: Komunikasi Politik, Ekonomi, dan Momentum Perubahan di Peralihan Zaman” besutan pengamat komunikasi politik, Dr. Hendri Satrio alias Hensa.
Buku yang diterbitkan Kedai Kopi ini hadir pada saat yang tepat, ketika publik sedang memperdebatkan arah kebijakan ekonomi, komunikasi politik pemerintah, dan masa depan Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Buku ini menarik karena tidak hanya mengulas dua tokoh dari dua generasi berbeda, Sumitro Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto, tetapi juga mencoba menjembatani gagasan keduanya dalam konteks perubahan zaman. Hensa tidak sekadar menyusun biografi atau sejarah pemikiran ekonomi, melainkan mengajak pembaca memahami bagaimana sebuah ide diwariskan, dimodifikasi, lalu diterjemahkan menjadi kebijakan publik.
Hensa memulai dengan kutipan reflektif dari buku “Recollection of My Career” karya Sumitro Djojohadikusumo. Setelah itu, pembaca diajak memasuki prolog bertajuk "Narasi, Ekonomi, dan Krisis Kepercayaan." Pada bagian ini, Hensa mengangkat sebuah paradoks yang terasa akrab dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia dinilai sangat produktif melahirkan slogan besar, mulai dari revolusi mental, transformasi nasional, hilirisasi, ekonomi kerakyatan, hingga Indonesia Emas 2045. Namun, di lapangan masyarakat sering menyaksikan kebijakan yang berubah-ubah, komunikasi pemerintah yang tidak sinkron, bahkan program yang terasa belum matang.
Prolog tersebut mengingatkan pembaca pada buku “Paradoks Indonesia dan Solusinya” karya Presiden Prabowo Subianto. Hensa seolah ingin menegaskan bahwa tantangan terbesar bangsa ini bukan hanya merancang kebijakan yang baik, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui komunikasi yang jujur, konsisten, dan mudah dipahami.
Baca juga : Bug Bounty Kemendikdasmen Raih Pengakuan Dunia
Bab pertama mengupas sosok Sumitro sebagai arsitek nasionalisme ekonomi Indonesia. Hensa menggambarkan bagaimana lingkungan keluarga, khususnya didikan ayahnya, membentuk karakter Sumitro yang memiliki empati sosial tinggi. Baginya, kemiskinan bukan semata akibat kemalasan individu, melainkan warisan struktur ekonomi kolonial yang timpang.
Dari sinilah lahir pandangan bahwa ekonomi harus menjadi alat untuk memulihkan martabat bangsa dan negara perlu hadir memimpin arah pembangunan, memperkuat industrialisasi, membangun koperasi, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mencetak sumber daya manusia unggul. Dalam perspektif Sumitro, pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka statistik. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa.
Hensa juga mengingatkan bahwa Sumitro bukan hanya ekonom, namun juga diplomat, perumus kebijakan, pendidik, komunikator publik, sekaligus pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dalam pandangan Sang Begawan Ekonomi ini, bangsa yang tidak menguasai ekonominya sendiri belum sepenuhnya merdeka.
Bab kedua memperlihatkan sisi lain Sumitro yang menarik. Mengutip kesaksian almarhum Thee Kian Wie, Hensa mengungkap bahwa Sumitro sebenarnya lebih mencintai filsafat dan sastra dibanding ilmu ekonomi. Namun, ia memilih ekonomi karena ingin memahami persoalan bangsa dan mencari jalan keluarnya.
Dari pemikiran tersebut lahirlah cetak biru pembangunan ekonomi yang menekankan lima agenda utama, yaitu: menjaga keseimbangan anggaran negara, mengendalikan inflasi, memperbaiki sistem perpajakan, meningkatkan produksi kebutuhan pokok, dan membangun sektor-sektor strategis. Pesan yang ingin disampaikan sederhana, tetapi sangat relevan hingga hari ini: ekonomi pada akhirnya selalu berbicara tentang kehidupan manusia.
Baca juga : Pakar Pendidikan Apresiasi Kemendikdasmen Perkuat Mutu Pembelajaran
Bab ketiga menjadi bagian paling aktual karena menghubungkan gagasan Sumitro dengan perjalanan politik Prabowo Subianto yang kini menjadi orang nomor satu di negeri ini. Hensa menunjukkan bahwa identitas politik tidak pernah bersifat permanen karena persepsi masyarakat dapat berubah mengikuti dinamika komunikasi publik, pengalaman politik, dan momentum sejarah.
Di era Sumitro, tantangan komunikasi datang dari elite politik namun kiwari tantangan komunikasi jauh lebih kompleks. Pemerintah harus berhadapan dengan media sosial, algoritma, pemengaruh (influencer), oposisi digital, pasar global, hingga komentar warganet yang bergerak jauh lebih cepat daripada proses pengambilan keputusan di birokrasi, bahkan di siding kabinet. Dalam situasi seperti ini, kebijakan yang baik belum tentu dipersepsikan baik apabila gagal dikomunikasikan kepada publik.
Bab terakhir membandingkan apa yang disebut Hensa sebagai Sumitronomics dan Prabowonomics. Keduanya sama-sama berakar pada nasionalisme ekonomi, tetapi tumbuh dalam konteks yang berbeda. Sumitronomics lebih menekankan reformasi struktural jangka panjang melalui pendekatan teknokratis yang bertumpu pada stabilitas dan kepercayaan. Sementara itu, Prabowonomics lebih menonjolkan peran aktif negara melalui intervensi yang kuat dengan dukungan legitimasi politik.
Menariknya, Hensa tidak berhenti pada analisis namun juga menawarkan enam prinsip komunikasi ekonomi politik yang dinilai penting bagi pemerintahan Prabowo, yaitu: arah kebijakan yang jelas, keterbukaan informasi, pelibatan publik, penggunaan data daripada drama politik, konsistensi kebijakan, serta narasi kebangsaan yang mampu menyatukan masyarakat.
Buku ini ditutup dengan epilog yang mengingatkan bahwa komunikasi politik saat ini jauh lebih rumit dibanding era Sumitro. Pemerintah tidak lagi cukup menguasai media massa karena kini opini publik dibentuk oleh potongan video, media sosial, algoritma, dan arus informasi yang bergerak tanpa henti. Kepercayaan publik menjadi aset yang semakin mahal sekaligus semakin rapuh.
Baca juga : Hendri Satrio Rilis Buku Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo
Sebagai sebuah resensi pemikiran, buku ini memiliki kekuatan pada keberhasilannya menghubungkan sejarah, ekonomi, komunikasi politik, dan kepemimpinan dalam satu alur yang relatif utuh. Bahasa yang digunakan ringan, argumentasinya mudah diikuti, dan pembaca tidak harus memiliki latar belakang ekonomi atau politik untuk memahami isinya.
Meski demikian, buku ini akan terasa lebih kuat apabila rekomendasi komunikasinya diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih operasional, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Dengan demikian, gagasan yang ditawarkan tidak berhenti sebagai refleksi akademik, tetapi dapat menjadi panduan praktis bagi para pengambil kebijakan.
“Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo” bukan sekadar buku tentang dua tokoh, namun juga ajakan untuk memahami bahwa estafet kepemimpinan bukan hanya perpindahan kekuasaan, melainkan juga perpindahan gagasan, nilai, dan tanggung jawab. Sebab, perubahan zaman memang tidak bisa dihindari, tetapi arah perubahan selalu ditentukan oleh kualitas ide yang kita wariskan kepada generasi berikutnya. Buku ini layak dibaca oleh akademisi, mahasiswa, birokrat, politisi, maupun masyarakat yang ingin memahami hubungan antara ekonomi, komunikasi, dan kepemimpinan dalam membangun Indonesia.
Dirjen Tatang Muttaqin. Dok. Kemendikdasmen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya