Dewan Pers

Dark/Light Mode

Politisi Bikin Covid Di Afrika Makin Melonjak

Sabtu, 4 Desember 2021 15:25 WIB
Duta Besar RI Untuk Afrika Selatan, Salman Al Farisi.
Duta Besar RI Untuk Afrika Selatan, Salman Al Farisi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Aksi penolakan politisi di Afrika Selatan (Afsel) terhadap vaksinasi Covid menyebabkan kondisi Covid semakin parah. Pemerintah Afrika lebih cenderung mendengar pendapat politisi dibanding pakar kesehatan. 

Hal itu diungkapkan Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan, Salman Al Farisi saat menjadi narasumber Focus Group Discussion Rakyat Merdeka (RM.id)  tentang "Omicron Dan Nasib WNI Di Afrika Selatan", Jumat (3/12)

“Fanatisme politik di Afsel mengakibatkan kondisi Covid semakin parah. Pemangku kepentingan kesulitan bernegosiasi pengadaan vaksin. Kemunculan awal vaksin AstraZeneca dianggap tidak memadai, dan akhirnya mereka batal pakai Astra, lalu disuplai ke negara tetangga," kata Salman. 

Berita Terkait : Erling Haaland, Ogah Diikat Setan Merah

Bahkan, diakui Salman, ada salah satu partai yang sangat keras menentang adanya vaksinasi. Bukan cuma itu, masyarakat Afsel berkulit hitam mengganggap penggunaan vaksin simbol kelemahan. Ia tidak percaya diri terhadap imunitas tubuhnya. 

"Ini satu budaya yang kurang produktif dibandingkan dengan kita semua dalam menghadapi situasi yang memang sangat-sangat penuh kewaspadaan," ujarnya. 

Padahal, berbagai negara berkembang telah sepakat menjadikan Afsel sebagai lokasi untuk melakukan pengembangan vaksin. 

Berita Terkait : Tarif Cukai Naik, Rokok Ilegal Bakal Semakin Merajalela

"Kemudahan akses vaksin menjadi persoalan yang sangat penting dan menjadi persoalan politik yang yang sangat signifikan. Serta menjadi salah satu isu yang didorong Pemerintah agar masyarakat internasional memberi perhatian mengenai hal ini," ungkap dia.

Salman menjelaskan, China mengambil langkah positif untuk membereskan Covid di Afsel. Negeri Panda itu bersedia mengirim 1 miliar dosis kepada negara-negara yang ada di Benua Afrika. 

"Saya kira ini prinsip untuk meningkatkan vaksinasi di negara-negara Afrika. Toh, tingkat vaksinasi di Afrika belum mencapai 2 digit. Masih 1 digit. Tentu saja ini menjadi persoalan terdepan dan menjadi persoalan internasional yang memang patut menjadi perhatian kita semua," papar Salman. [UMM]