Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kerusuhan Kazakhstan Tewaskan 164 Orang, Lebih Dari 5.000 Orang Ditahan

Minggu, 9 Januari 2022 22:11 WIB
Kerusuhan Kazakhstan Tewaskan 164 Orang, Lebih Dari 5.000 Orang Ditahan

RM.id  Rakyat Merdeka - Sedikitnya 164 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 5.000 orang ditahan dalam kerusuhan di Kazakhstan pekan ini.

Total angka kematian ini melonjak dibanding data Kementerian Kesehatan yang diumumkan kanal TV Khabar 24, pada Jumat (7/1).

Demo ricuh di negara Asia Tengah ini telah memaksa mundur pemerintah. Presiden Kazakhstan Kassym Jomart Tokayev bahkan telah mengumumkan status emergency pada 5 Januari, yang berlaku hingga dua pekan setelahnya.

Aliansi militer yang dipimpin Rusia pun dikerahkan untuk mengatasi situasi tersebut.

Berita Terkait : Kasus Omicron Tembus 46 Orang, Luhut: Liburan Di Dalam Negeri Saja

Kerusuhan adalah tantangan terbesar bagi pemerintahan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev yang otokratis.

Kemarahan publik dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar yang meluas, yang merembet pada ketidakpuasan yang lebih luas kepada pemerintah atas korupsi, standar hidup, kemiskinan dan pengangguran di bekas negara kaya minyak itu.

Media pemerintah Kazakhstan yang mengutip Kementerian Dalam Negeri mengumumkan, sedikitnya 5.135 orang telah ditahan karena diduga berpartisipasi dalam demo ricuh tersebut.

Demo ini juga berujung pada 125 kasus kriminal yang terkait dengan insiden kekerasan, pembunuhan, perampokan.

Berita Terkait : Korban Kecelakaan Terbanyak Tahun Ini Dari Moda Transportasi Laut

"Pasukan penjaga perdamaian dari negara-negara anggota Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) telah dikerahkan ke Kazakhstan, dan sekarang beroperasi penuh di dalam negeri," kata Komandan Jenderal CSTO Andrey Sedyukov dalam konferensi pers, seperti dikutip CNN, Minggu (9/1).

CSTO yang meliputi Rusia, Belarus, Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan bertugas melindungi fasilitas penting militer, negara, dan sosial yang signifikan di kota Almaty dan daerah sekitarnya.

"CSTO akan tetap berada di Kazakhstan, sampai situasinya betul-betul stabil," imbuhnya.

Para pejabat tinggi, termasuk mantan ketua Komite Keamanan Nasional Kazakhstan Karim Massimov, telah ditahan karena dicurigai melakukan pengkhianatan.

Berita Terkait : Ini Keuntungan Pancasila Digali Dari Kearifan Lokal

Terkait hal ini, Uni Eropa menegaskan, pihaknya sangat menyesalkan hilangnya nyawa dan mengutuk aksi kekerasan yang meluas di Kazakhstan. 

"Dukungan militer dari luar harus menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Kazakhstan, serta hak-hak dasar semua warga negara," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam pernyataannya, Sabtu (8/1). [HES]