Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rangkul Negara-Negara Pasifik, Indonesia Ciptakan Lompatan Besar

Minggu, 16 Juni 2019 19:01 WIB
Dubes RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya (Foto: IG @tantowiyahyaofficial)
Dubes RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya (Foto: IG @tantowiyahyaofficial)

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) RI untuk Selandia Baru, Samoa, dan Kerajaan Tonga Tantowi Yahya menegaskan, Indonesia mengambil inisiatif untuk merangkul negara-negara di kawasan Pasifik dengan berbagai program ekonomi, peningkatan kapasitas SDM dan penanganan bencana, serta perubahan iklim.

Menurutnya, program-program bantuan ini sudah berjalan dan akan semakin digalakkan dalam bentuk yang lebih besar dan berskala regional.

"Indonesia adalah bagian dari Pasifik. Lima provinsi kita di wilayah Timur (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di kawasan ini. Karena penduduknya mayoritas dari ras Melanesia dan Polinesia, maka Indonesia pun berhak untuk masuk dalam pergaulan komunitas Melanesia dan Polinesia di dunia. Berbicara dari sisi jumlah, mayoritas Melanesia/Polinesia justru ada di Indonesia. Fakta geografis dan demografis ini, tentunya harus kita manfaatkan dengan baik," jelas Tantowi.

Berita Terkait : Harga Garam Petani Anjlok, Penetapan HET Mendesak

Untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, investasi, dan pariwisata sesama negara di kawasan ini, Indonesia menggagas Pacific Exposition yang merupakan pameran perdagangan, investasi dan pariwisata untuk negara-negara Pasifik.

Inisiatif ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah Selandia Baru dan Australia, yang selama ini menjadi "saudara tua" negara-negara di kawasan yang belakangan ini semakin menyita perhatian banyak negara.

"Indonesia memandang Pasifik sebagai kawasan penting dan strategis, pasar baru yang potensial untuk berbagai produk eskpor dan tetangga terdekat setelah ASEAN. Inilah yang sering disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam berbagai kesempatan," papar Tantowi.

Berita Terkait : Sowan Ke Gedung Sate Bahas Sapi

"Pernyataan Menlu sejalan dengan harapan Presiden Jokowi, agar Indonesia mulai banyak berkiprah di Pasifik dengan memanfaatkan status kita sebagai anggota G20, dan bagian dari Middle Income Countries. Dalam kaitan kerja sama luar negeri, Indonesia harus datang dengan tangan di atas. Presiden Jokowi bilang, sudah saatnya memberi, jangan lagi meminta," sambung mantan presenter acara TV ini.

Harapan Retno dan Jokowi, disambut Tantowi dengan serangkaian kegiatan berbasis sosial dan budaya, yang bukan saja bermuara pada peningkatan hubungan RI dengan masyarakat Pasifik, tetapi juga ekonomi.

"Kita mengajak Australia dan Selandia Baru untuk datang lebih sebagai pasar dan pembeli dibanding sebaliknya, dalam berbagai program ekonomi yg kita bangun. Negara-negara di Pasifik itu membutuhkan bantuan. Tidak lagi berupa ikan, tapi berupa kail" ujar Tantowi.

Berita Terkait : Jojo vs Ginting, Indonesia Pastikan Satu Gelar

Masuknya Indonesia ke dalam kelompok negara-negara Pasifik, adalah suatu lompatan besar. Kawasan ini akan mempunyai kekuatan 300 juta penduduk dengan Produk Domestik Brutto (PDB) atau GDP 2,8 triliun dolar AS.

"Ini adalah lompatan jauh, dari yang tadinya 30 juta penduduk, dengan PDB 1,2 triliun dolar AS," tutup Tantowi. [HES]