Dewan Pers

Dark/Light Mode

PM Belanda Minta Maaf, Kemlu RI: Apa Makna Di Balik Itu?

Sabtu, 19 Februari 2022 20:19 WIB
Presiden Joko Widodo berbincang dengan PM Belanda Mark Rutte di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin, 7 Oktober 2019. (Foto Associated Press/Dita Alangkara)
Presiden Joko Widodo berbincang dengan PM Belanda Mark Rutte di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin, 7 Oktober 2019. (Foto Associated Press/Dita Alangkara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu RI) menanggapi permintaan maaf Perdana Menteri Belanda Mark Rutte atas kekerasan ektrem di masa lalu.

Menurut juru bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah, Pemerintah sedang mempelajari dokumen-dokumen hasil penelitian sejarah perang kemerdekaan Indonesia untuk dapat memaknai dengan benar permintaan maaf yang disampaikan PM Belanda itu.

Berita Terkait : PM Belanda Minta Maaf, Kita Maafkan Apa Tidak?

Belanda minta maaf atas kekejaman militernya dalam Perang Kemerdekaan 1945-1949 di Indonesia. Selama ini, Pemerintah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Agustus 1949. Yang  ditandai dengan penyerahan kedaulatan yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.

"Kami tengah mempelajari dokumen tersebut agar bisa memaknai secara utuh pernyataan yang disampaikan PM Rutte tersebut," kata Teuku Faizasyah dalam keterangan pers, Jumat (18/2).

Berita Terkait : Luca Marini Raja Di Hari Kedua

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia mengikuti secara saksama publikasi hasil penelitian sejarah Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950. Studi tersebut dilakukan  tiga lembaga peneliti Belanda. 

Pertama, Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/KITLV). Kedua, The National Institute of Mental Health (NIMH). Ketiga, NIOD Institute for War, Holocaust and Genocide Studies (Institut NIOD untuk Pembelajaran Perang, Holokaus dan Genosida) dan sejumlah peneliti Indonesia.
 Selanjutnya