Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ribuan Orang Tewas Akibat Gempa

Dunia Gandengan Tangan Bantu Rakyat Afghanistan

Jumat, 24 Juni 2022 08:05 WIB
Seorang kakek terlihat terpaku, menatap pilu reruntuhan bangunan akibat gempa di wilayah Paktia, Afghanistan.(Getty Images/Sardar Shafaq)
Seorang kakek terlihat terpaku, menatap pilu reruntuhan bangunan akibat gempa di wilayah Paktia, Afghanistan.(Getty Images/Sardar Shafaq)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ribuan orang meninggal dunia akibat gempa dahsyat di Afghanistan. Musibah ini mendapat perhatian internasional. Dunia bergandengan tangan mengucurkan bantuan untuk para korban.

Palang Merah Singapura menyampaikan akan memberikan 50.000 dolar Singapura atau sekitar Rp 534 juta untuk mendukung masyarakat terdampak gempa Magnitudo 6,1 di wilayah tenggara Afghanistan, Rabu dinihari (22/6).

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, semua organisasi di bawah naungannya berupaya memberikan bantuan kemanusiaan secepat mungkin ke area terdampak.

“Kami sudah menggerakkan tim kesehatan dan pasokan obat-obatan, makanan dan kamp penampungan ke zona bencana,” ujar Guterres dikutip Reuters, Kamis (23/6).

Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan, mereka sedang berusaha menyediakan tempat penampungan darurat, perawatan trauma, dan bantuan makanan bagi warga Afghanistan yang terdampak gempa.

Berita Terkait : RS Afghanistan Ada Yang Hanya Punya 5 Tempat Tidur

Cuaca ekstrem di wilayah terdampak membuat proses penyaluran bantuan mesti dipercepat. OCHA menyebut warga Afghanistan paling terdampak gempa berada di Provinsi Paktika dan Khost. Mereka menjadi prioritas untuk memperoleh bantuan. Dalam hal ini, OCHA berkoordinasi dengan otoritas Taliban.

 

Pemerintah China juga menyampaikan kesiapannya menyalurkan bantuan kemanusiaan darurat ke Afghanistan. Berbicara kepada media dalam konferensi pers, Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyampaikan belasungkawa mendalam kepada korban gempa di Afghanistan.

“Afghanistan adalah tetangga bersahabat, dan China bersedia menyalurkan bantuan kemanusiaan darurat sesuai kebutuhan masyarakat Afghanistan,” ucap Wang.

Amerika Serikat (AS) juga menyatakan kesedihannya. Dan, akan mencari cara untuk mengirimkan bantuan. Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan, mitra kemanusiaan AS sudah merespons, termasuk dengan mengirim tim medis untuk membantu mereka yang terkena dampak.

Uni Eropa juga berupaya mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Afghanistan. Perwakilan UE untuk Afghanistan Tomas Niklasson mencuit di akun Twitter-nya bahwa pihaknya terus memonitor kondisi di area bencana.

Berita Terkait : Indonesia Care Galang Kepedulian Gempa Afganistan

“Uni Eropa terus memantau dan siap memberikan bantuan dan berkoordinasi untuk menyalurkan bantuan,” cuit Niklasson.

Negara tetangga Afghanistan, Pakistan, yang merasakan getaran gempa dan melaporkan satu korban jiwa, juga menawarkan bantuan kemanusiaan.

 

Sementara itu, Wakil Ketua Sekretaris Kabinet Jepang Seiji Kihara mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan pengiriman bantuan.

“Pemerintah Jepang sedang berkoordinasi untuk memberikan bantuan sesegera mungkin,” ujar Kihara dalam pernyataan resminya dikutip Strait Times, Kamis.

Bulan Sabit Merah Afghanistan, bersama dengan Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), telah memobilisasi anggota membantu para korban gempa.

Berita Terkait : Kurangi Transaksi Non Tunai, Bank Mandiri Gandeng Bank Banten

Gempa bumi ini terjadi di saat Afghanistan berusaha mengatasi krisis ekonomi parah setelah Taliban kembali mengambil alih pemerintahan negara itu dari AS tahun lalu.Provinsi Khost dan Paktia adalah wilayah paling parah terdampak gempa.

Menurut badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) gempa bumi Magnitudo 5,9 (sebelumnya disebut M 6,1) itu terjadi sekitar 44 km dari kota Khost, tenggara Afghanistan, di kedalaman 51 km. Gempa bumi tersebut merupakan yang terdahsyat dalam 20 tahun terakhir. Akibat musibah ini, sedikitnya 1.000 tewas dan 1.500 lainnya luka-luka.

Tim penyelamat di Afghanistan, berlomba dengan waktu untuk mengevakuasi korban gempa yang masih terjebak di reruntuhan bangunan.

“Warga terus menggali lubang demi lubang. Kondisinya sudah seperti liang lahat,” ujar Kepala Informasi dan Kebudayaan Patika Mohammad Amin Huzaifa dikutip Strait Times, kemarin.

“Masih banyak sekali yang terjebak di reruntuhan. Kami tidak tahu bisa menyelamatkan berapa nyawa,” ujarnya terdengar khawatir.***