Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ogah Kasih Panggung Ke Rusia Dan China

PM Inggris Ajak Sekutu Jangan Boikot KTT G20

Sabtu, 2 Juli 2022 08:00 WIB
PM Inggris Boris Johnson (kiri) jalan bareng dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kiev, April 2022.(Foto CNN)
PM Inggris Boris Johnson (kiri) jalan bareng dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kiev, April 2022.(Foto CNN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mengajak negara Barat tidak memboikot Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty, G20, di Nusa Dua, Bali, November mendatang. Pasalnya, pemboikotan event itu justru memberi panggung untuk Rusia dan China.

Menurut Johnson, dia yakin Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan berani hadir di KTT G20. “Saya kagum dan kaget kalau Putin datang dan menghadiri G20. Dia sosok yang dikucilkan. Saya tidak yakin dia bakal hadir,”ujarJohnson dikutip Guardian, Jumat (1/7).

Untuk menekan pengaruh Rusia dan China, Johnson memutuskan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menghadiri event G20. Padahal, beberapa waktu lalu, Inggris dan beberapa negara Barat lainnya mengancam akan memboikot KTT G20, jika tuan rumah, Indonesia, tetap mengundang Putin hadir di acara tahunan tersebut.

Berita Terkait : Ketum GMKI: Jokowi Ingatkan Kita Pada Bung Karno

“Kalau kami mengosongkan kursi di acara seperti G20, malah membiarkan pihak lain menyebarkan propaganda mereka,” sebut Johnson.

Mantan Wali Kota London ini pun mengajak rekan-rekannya dari negara Barat tetap hadir pada KTT G20. “Kami perlu berbuat lebih banyak untuk meyakinkan negara lain terhadap posisi kami,” tegas Johnson, usai menghadiri pertemuan organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Madrid, Spanyol.

Para Pemimpin Barat heboh setelah Moskow mengkonfirmasi Putin akan menghadiri KTT G20 di Bali. Namun, bagaimana detail kehadiran Putin belum ditentukan. Apakah Putin hadir langsung atau secara virtual. Beberapa negara seperti China, Afrika Selatan dan Brazil, telah memperjelas bahwa mereka mendukung keanggotaan Rusia dalam G20, meski adanya invasi ke Ukraina.

Berita Terkait : Atasi Kelangkaan Chip, Industri Semikonduktor Jerman Siap Investasi Triliunan

Kanselir Jerman Olaf Scholz, pada Senin (27/6), mengindikasikan akan hadir dalam KTT G20 meski Putin tetap hadir secara fisik di Bali. 

“Pada akhirnya, kita harus membuat keputusan sesaat sebelum keberangkatan,” ucapnya saat itu.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melontarkan pandangan yang sama dengan Johnson bahwa KTT G20 terlalu penting untuk diboikot.

Berita Terkait : Jemaah Haji Indonesia Diimbau Patuhi Prokes Selama Di Tanah Suci

“Kami harus mempertimbangkan dengan sangat hati-hati, apakah kami akan melumpuhkan G20,” ujarnya, awal pekan ini.

PM Australia Anthony Albanese juga memastikan akan hadir di KTT G20. “Saya akan menghadiri KTT G20 di Bali pada November. Saya melakukan itu karena G20 merupakan momen kritis di tengah ketidakpastian ekonomi global,” ujar Albanese saat bertemu Presiden Jokowi, 6 Juni lalu. ■