Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pakistan Kewalahan Hadapi Banjir

Pengungsi Kekurangan Makanan, Baju Dan Obat

Selasa, 30 Agustus 2022 08:35 WIB
Warga berjalan menerjang banjir di Suhbatpur, Pakistan, Minggu, 28 Agustus 2022. (Foto Reuters/Amir Hussain)
Warga berjalan menerjang banjir di Suhbatpur, Pakistan, Minggu, 28 Agustus 2022. (Foto Reuters/Amir Hussain)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Pakistan kewalahan menangani warga korban banjir akibat hujan muson. Para pengungsi di Negara di Asia Selatan itu menjerit kekurangan pasokan pangan, pakaian dan obat-obatan.

Ribuan pengungsi pun berupaya mencari bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak. Saat tim BBC International mengunjungi kawasan lembah Manoor di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, kemarin, mereka dititipi surat permohonan bantuan dari warga yang mengungsi di bantaran sungai. Bangunan dan rumah di kawasan tersebut ambruk akibat diterjang banjir.

Berita Terkait : Bikin Konsumen Nyaman, Mitsubishi Hadirkan Layanan Darurat

“Kami membutuhkan pasokan makanan, pakaian serta obat-obatan. Jembatan kami runtuh, kami tidak punya apa-apa lagi sekarang,” demikian jerita pilu korban banjir di Lembah Manoor.

Angka kematian akibat banjir di Pakistan mencapai 1.033 jiwa. Jumlah itu terhitung sejak Juni 2022 berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) Pakistan.

Berita Terkait : Hadir Di RS Mentari, Morula IVF Tangerang Maksimalkan Layanan Ibu Dan Anak

Seperti dilansir AFP, Minggu (28/8), disebutkan, sudah 119 orang meninggal dunia dalam 24 jam terakhir akibat banjir karena hujan muson. NDMA menyebutkan, lebih dari 2 juta hektare tanaman yang siap panen musnah, 3.451 kilometer (km) jalanan rusak, dan 149 jembatan hancur.

Pemerintah Pakistan juga meminta bantuan komunitas internasional untuk meringankan beban korban banjir. Menteri Luar Negeri Pakistan Bilawal Bhutto-Zardari berharap, lembaga keuangan seperti Dana Moneter Internasional (IMF) memperhitungkan dampak ekonomi.

Berita Terkait : Sayangi Mpus Kesayangan, Cleo Kenalkan Makanan Bernutrisi

“Saya belum pernah melihat kehancuran dalam skala ini. Saya merasa sangat sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Ini luar biasa,” ujar Bhutto-Zardari dalam sebuah wawancara dengan Reuters, kemarin.
 Selanjutnya