Dewan Pers

Dark/Light Mode

Nekat Nyalon Lagi Jadi PM Malaysia

Anwar Ibrahim: Pemilu Ini Lemparan Dadu Terakhir

Selasa, 8 November 2022 07:05 WIB
Anwar Ibrahim menyapa para pendukungnya saat mendaftarkan pencalonan dirinya untuk daerah pemilihan di 
Tambun, negara bagian Perak, Malaysia, Sabtu, 5 November 2022. (Foto Getty Images)
Anwar Ibrahim menyapa para pendukungnya saat mendaftarkan pencalonan dirinya untuk daerah pemilihan di Tambun, negara bagian Perak, Malaysia, Sabtu, 5 November 2022. (Foto Getty Images)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anwar Ibrahim kembali mencoba peruntungan lagi, mencalonkan diri menjadi kandidat Perdana Menteri (PM) Malaysia. Pemilu ini, baginya merupakan kesempatan terakhir untuk bisa menjadi orang nomor satu di negeri jiran tersebut.

Seperti dilansir Sydney Morning Herald, kemarin, sambil bersandar di sofa di kamar hotelnya usai berkampanye maraton di negeri bagian Perak, Anwar Ibrahim mengakui, pertarungan kali ini adalah lemparan dadu terakhirnya.

Berita Terkait : Mau Cek Tagihan Listrik di PLN Mobile? Ini Caranya

“Secara realistis, saya harus menerima itu,” kata pemimpin oposisi berusia 75 tahun itu kepada The Sydney Morning Herald dan The Age.

“Mari terus melangkah. Ayo bekerja. Tak ada gunanya berpikir negatif. Ini yang terakhir kali, bagaimana jika itu tidak berhasil? Tidak, saya buka seperti itu. Saya seorang yang optimis,” kata pemimpin koalisi Pakatan Harapan itu.

Berita Terkait : Rekat Indonesia Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Tuntas

Setelah dua dekade sebagai pemimpin oposisi, Anwar sebetulnya tinggal selangkah lagi menjadi PM Malaysia pada 2020. Namun aliansinya runtuh karena pertikaian, membuatnya semakin jauh dari jabatan puncak.

Kini, di usia 75 tahun, Anwar kembali mencoba meyakinkan warga Malaysia untuk memilihnya dalam pemilihan 19 November nanti, agar dia bisa mewujudkan mimpi menjadi PM.

Berita Terkait : Kurangi Fatalitas Kecelakaan Tabrak Belakang Truk, Ini Saran Pengamat Transportasi

“Bagi saya, ini tentang menyelamatkan negara, mengubah lanskap politik negara ini,” katanya.

“Anda tidak bisa naif untuk berasumsi bahwa memerangi sistem korupsi sistemik, yang sudah mengakar kuat, akan mudah. Tetapi saya benar-benar terdorong melihat masyarakat yang sangat antusias tentang masalah ini,” imbuhnya.
 Selanjutnya