Dark/Light Mode

Buang Air Limbah PLTN Fukushima Ke Laut, Jepang Panen Protes

Sabtu, 26 Agustus 2023 03:32 WIB
Aktivis Korea Selatan melakukan protes di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul pada 22 Agustus 2023. Massa menentang keputusan Jepang untuk membuang air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, ke laut, 24 Agustus 2023. (Foto Kyodo)
Aktivis Korea Selatan melakukan protes di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul pada 22 Agustus 2023. Massa menentang keputusan Jepang untuk membuang air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, ke laut, 24 Agustus 2023. (Foto Kyodo)

 Sebelumnya 
Meski diklaim aman, aksi protes terhadap tindakan Pemerintah Jepang tetap terjadi.

Di Korea Selatan (Korsel), polisi menangkap sedikitnya 16 orang yang memasuki gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang di Seoul, buntut aksi protes pelepasan air limbah nuklir PLTN Fukushima ke laut.

“Laut bukan tempat sampah Jepang,” demikian bunyi salah satu spanduk yang dibawa kelompok pemrotes.

Baca juga : Tak Khawatir Limbah Nuklir Jepang, Warga Hong Kong Santai Makan Sushi

Di kantor polisi Jongno, Seoul, 16 orang ditangkap atas tuduhan masuk tanpa izin, dan menuduh mereka mencoba masuk ke kedutaan. Saat itu ada sekitar 50 orang berkumpul di luar kedutaan untuk melakukan protes. Sebagian besar terdiri dari kaum muda.

Sebelumnya, Korsel menjadi salah satu negara yang bersikap “adem” terhadap kebijakan pelepasan air limbah nuklir PLTN Fukushima. Seoul memandang, tidak ada masalah ilmiah dengan pelepasan air tersebut. Tapi, mereka mendesak Tokyo untuk transparan selama proses tersebut, yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa dekade.

“Yang penting sekarang adalah apakah Jepang akan melakukan seperti yang dijanjikannya kepada komunitas internasional, secara ketat mengikuti standar ilmiah dan memberikan informasi secara transparan,” kata Perdana Menteri (PM) Korea Selatan Han Duck-soo.

Baca juga : Jepang Mulai Buang Limbah Radioaktif PLTN Fukushima Ke Samudera Pasifik

Negara-negara Kepulauan Pasifik juga ikut menentang. Penolakan bangsa Pasifik dibahas dalam pertemuan Melanesian Spearhead Group (MSG). Perwakilan bangsa-bangsa Melanesia berkumpul pada 23-24 Agustus 2023 di Port Vila, Vanuatu.

“Menolak pencemar untuk membuang air olahan di Samudra Pasifik sampai terbukti air itu terbukti benar-benar aman,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Vanuatu, Matai Seremaiah.

Penolakan juga disampaikan Pemerintah Tuvalu. ”Samudra adalah sumber daya dan hidup kami di Pasifik. Kami akan melakukan semua hal untuk melindungi samudra dan mencegah inisiatif (pembuangan limbah PLTN Fukushima) terjadi,” demikian pernyataan Pemerintah Tuvalu.

Baca juga : Danpuspom TNI: Mayor Dedi Unjuk Kekuatan, Berupaya Pengaruhi Proses Hukum

China bersikap lebih keras. Wakil Menlu China Sun Weidong memanggil Duta Besar Jepang di Beijing, Hideo Tarumi. Sun menyampaikan protes resmi China atas kebijakan tersebut.

Jepang disebut mencemari tetangga dan kawaskoki tentang tetangga dan kawasan. “Sikap itu tidak bertanggung jawab dan egois,” kata Sun, dilansir Global Times. Tak cuma itu, setelah pelepasan air limbah, kantor bea cukai Chi￾na melarang impor makanan laut dari Fukushima dan beberapa prefektur. Bahkan larangan ini akan segera diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Jepang. Dikatakan, alasannya adalah untuk melindungi kesehatan konsumen China. Dari dalam negeri, Kepala Federasi Asosiasi Koperasi Perikanan Jepang Masanobu Sakamoto mengumumkan penolakan atas keputusan Pemerintah Jepang. “Posisi kami tetap tidak setu￾ju, tidak berubah. Keamanan ilmiah dan rasa aman itu berbe￾da. Meskipun aman, kerusakan reputasi tetap akan terjadi,” ujar Masanobu. Berdasarkan laporan Kyodo, setidaknya 230 orang berunjuk rasa di depan kantor PM Jepang pada Selasa (22/8). Mereka menolak keputusan PM Fumio Kishida membuang limbah PLTN Fukushima. "Pemerintah harus mendengar suara nelayan. Jangan buang limbah ke laut,” demikian per￾)nyataan mereka. Kamis (24/8), Jepang mulai membuang air limbah nuklir PLTN Fukushima Daiichi,. Jepang yang pernah mengalami kerusakan akibat tsunami yang dipicu gempa Magnitudo 9,0 pada 2011, ke Samudera Pasifik. Meski kontroversial, bagi Jepang proses tersebut ini adalah tonggak sejarah perjuangan melawan limbah radioaktif yang semakin meningkat. “Pembuangan limbah ini sa￾ngat mendesak dan tidak bisa ditunda,” tandas PM Kishida. Saat ini, kapasitas tangki limbah PLTN Fukushima sudah terisi 98 persen, dengan volume 1,37 juta ton. Dalam kondisi itu, tangki-tangki yang menutupi sebagian besar kompleks pabrik, harus dikosongkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.