Dark/Light Mode

Tuding Iran Bom Kilang Minyak, Saudi-Amerika Seiya Sekata

Senin, 23 September 2019 09:45 WIB
Pekerja memperbaiki saluran pipa yang rusak akibat serangan drone di fasilitas minyak Saudi Aramco di Khurais, Arab Saudi, (20/9/2019).  Sepekan lalu, fasilitas kilang minyak Aramco diserang dengan rudal yang diangkut oleh pesawat nirawak (drone), yang diduga berasal dari Iran. (Foto Reuters / Hamad l Mohammed)
Pekerja memperbaiki saluran pipa yang rusak akibat serangan drone di fasilitas minyak Saudi Aramco di Khurais, Arab Saudi, (20/9/2019). Sepekan lalu, fasilitas kilang minyak Aramco diserang dengan rudal yang diangkut oleh pesawat nirawak (drone), yang diduga berasal dari Iran. (Foto Reuters / Hamad l Mohammed)

RM.id  Rakyat Merdeka - Arab Saudi termakan provokasi Amerika Serikat (AS) soal pengebom kilang minyak Saudi Aramco. Pihak Saudi mengiyakan per- nyataan AS bahwa pelaku pengebom kilang minyak mereka adalah Iran. Sebenarnya, pihak Houthi sudah mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa pemboman yang terjadi pa da Sabtu, pekan lalu itu. Namun

Saudi tidak percaya. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Ju beir, menyebut, Iranlah pelaku pemboman. Alasannya, rudal dan drone yang ditembakkan ke Saudi itu buatan Iran. Dengan bukti ini, Saudi menganggap Iran sedang menantang perang.

“Jika itu masalahnya, letakkan kami dalam ka tegori yang berbeda. Ini akan dianggap sebagai tindakan perang,” kata Jubeir, seperti dilansir VOA, kemarin. Meski demikian, Jubeir memastikan Saudi tidak akan terpancing.

Baca juga : Teriknya Matahari Tak Halangi Warga Saksikan Pemakaman Habibie

Perang bukan opsi pertama yang akan di tempuh. Pihaknya saat ini sedang mencari resolusi damai untuk menyelesaikan per kara tersebut. “Tidak ada yang mau perang. Semua orang ingin menyelesaikan ini de ngan damai dan hasil akhirnya harus menjadi akhir dari kebijakan agresif Iran,” tandasnya.

Dia hanya menegaskan, pelaku penyerangan fasilitas kilang minyak Saudi di Abqaiq dan Khurais itu harus menerima konsekwensinya. Saudi akan membentuk satu front persatuan di Majelis Umum PBB di New York, yang akan digelar pekan depan, untuk mencari dan menghukum para pelaku itu. “Orang-orang Iran harus tahu,” imbuh dia.

AS merupakan pihak pertama yang menuding Iran sebagai pelaku pegemboman kilang minyak milik Saudi. Tidak hanya menuding, AS bahkan sudah menyiapkan pasukan untuk membantu Saudi menggempur Iran.

Baca juga : Turunkan Bea Masuk Sawit, India Kasih Kado Manis

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan, penempatan akan “bersifat defensif”. Total jumlah pasukan belum diputuskan. “Arab Saudi dan Uni Emirat Arab meminta bantuan,” kata Esper seperti dikutip BBC, lalu.

Esper mengatakan, pasukan AS akan fokus pada peningkatan pertahanan udara dan rudal. Pihaknya pun akan mempercepat pengiriman peralatan militer ke kedua negara. Iran menyangkal semua tudingan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, mengatakan, tudingan para pejabat Saudi dan AS terkait keterlibatan negaranya dalam serangan ke Aramco sama sekali tidak berdasar. “Sangat disayangkan bahwa pemerintah Riyadh yang menganggap dirinya sedang dimusuhi Teheran, selalu menyeret nama Iran dengan tujuan untuk menutupi kekalahannya,” kata Mousavi, seperti dilansir IRIB, ke marin.

Baca juga : Masyarakat Kaltim Happy

Ia menyarankan, lebih baik Saudi mengakhiri perang dengan Yaman yang membunuh warga sipil dan menghancurkan negara itu. Daripada melemparkan tudingan tak berdasar ter hadap lain.

Serangan bom di Saudi Aramco telah membuat perdagangan minyak dunia guncang. Sebab, serangan tersebut diperkirakan telah memutus lebih dari 5 persen pasokan minyak global atau sekitar 5,7 juta barel produksi minyak mentah setiap hari. Jumlah tersebut lebih dari setengah dari total produksi Saudi.

Dampak nyata mulai dirasakan. Harga minyak dunia terus bergerak naik. Dalam perdangan akhir pekan kemarin, harga minyak mentah berjangka Brent me nguat 1,3 persen menjadi 64,4 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka AS West Texas Inter- mediate (WTI) hampir di level 58,13 dolar AS per barel.[SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.