Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Internet Padam
Bangladesh Rusuh Gegara Kuota PNS, 133 Tewas, Kampus Dirazia
Minggu, 21 Juli 2024 15:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan di Dhaka, Bangladesh memanas dan memakan ratusan korban jiwa. Internet dikabarkan padam, stasiun TV pemerintah dibakar hingga kampus dirazia.
Channel News Asia (CNA) menyebutkan, sudah 133 orang meninggal dunia akibat rangkaian aksi demonstrasi yang didominasi mahasiswa dari kampus swasta. Korban paling banyak berjatuhan pada hari Kamis (18/07) lalu: 25 orang tewas dalam sehari.
Aksi represif aparat diduga semakin memperburuk keadaan. Stasiun TV milik pemerintah setempat menjadi sasaran amuk massa. Bangladesh Television atau BTV dibakar.
Aksi protes ini awalnya dipicu oleh kebijakan reformasi kuota pegawai pemerintah yang dianggap menguntungkan kerabat veteran Bangladesh.
Baca juga : KPK Geledah Kantor Dan Rumah Wali Kota Semarang, Terkait Kasus Dugaan Korupsi
Kebijakan yang sempat dibekukan pada tahun 2018 itu diberlakukan kembali usai keputusan pengadilan tinggi yang memberikan kuota 30 persen atau hampir separuh kuota penerimaan pegawai pemerintah atau PNS kepada perempuan, difabel, dan keturunan veteran Perang Kemerdekaan 1971.
Namun, aksi protes yang mulanya dipicu oleh kebijakan kuota PNS ini melebar menjadi gerakan yang lebih besar. Mereka menuntut perubahan sistem yang lebih adil dan mensejahterakan.
Data Bank Pembangunan Asia menunjukkan, 18,7 persen penduduk Bangladesh hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 6 persen lainnya berpenghasilan kurang dari Rp35.000 per hari.
Pemerintah mengklaim telah menawarkan dialog, namun ditolak oleh mahasiswa. Mahasiswa bilang tawaran tersebut sudah terlambat. Mereka menuntut agar pemerintah menghentikan kekerasan, membuka kembali kampus-kampus, dan memenuhi tuntutan mereka.
Baca juga : Demo Kenaikan Pajak Di Kenya, 13 Tewas, Ratusan Terluka
"Pemerintah telah memperburuk situasi dengan menggunakan kekerasan dalam gerakan damai," ujar Nahid Islam, salah satu koordinator aksi dilansir laman BBC.
Tindakan kekerasan yang dimaksud adalah pengerahan aparat keamanan untuk membubarkan massa, melakukan razia ke kampus-kampus dan menembakkan peluru karet dan gas air mata hingga mematikan akses internet di seluruh Dhaka.
"Di satu sisi Perdana Menteri meminta mahasiswa tenang, di sisi lain polisi, BGB (Penjaga Perbatasan Bangladesh), Liga Chhatra (sayap mahasiswa dari partai berkuasa) mengambil sikap menentang mahasiswa demonstran. Ini adalah standar ganda pemerintah," kecam Alim Khan, mahasiswa yang ikut dalam aksi protes.
Akibat situasi keamanan yang semakin tidak terkendali, membuat rencana kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina ke Spanyol dan Brasil dibatalkan.
Bahkan menurut Sekretaris Pers Hasina, Nayeemul Islam Khan, pemerintah kini telah membelakukan jam malam dan mengerahkan pasukan militer.
Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Senin 13 Mei, Cek Di Sini Lokasinya
"Pemerintah telah memutuskan untuk memberlakukan jam malam dan mengerahkan militer untuk membantu otoritas sipil," ungkapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya