Dark/Light Mode

Biden Desak Netanyahu Setujui Gencatan Senjata Di Gaza

Jumat, 2 Agustus 2024 20:23 WIB
Presiden AS Joe Biden (kiri) dan PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Net)
Presiden AS Joe Biden (kiri) dan PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendesak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk menyetujui gencatan senjata dengan Hamas, di tengah rasa frustrasi Gedung Putih atas meningkatnya eskalasi perang di Gaza.

Hal itu disampaikan Biden, dalam pembicaraan dengan Netanyahu pada 1 Agustus 2024. Meski berjanji mendukung Israel dalam melawan ancaman baru dari Iran dan milisi sekutunya seperti Hizbullah, Biden meyakinkan Netanyahu tentang dampak regional perang yang telah berlangsung hampir 10 bulan.

“Kami punya dasar melakukan untuk gencatan senjata. Netanyahu harus move on. Begitu juga Hamas,” kata Biden kepada wartawan, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (2/8/2024).

Biden menambahkan, pembunuhan pemimpin politik sekaligus negosiator utama Hamas Ismail Haniyeh di Iran minggu ini, sama sekali tidak membantu upaya gencatan senjata.

Iran dan Hamas menyalahkan Israel atas pembunuhan tersebut. Namun, Israel tidak membenarkan atau menyangkal. Secara pribadi, pihak berwenang Israel tidak menolak klaim tersebut.

Negosiasi gencatan senjata yang dimediasi Qatar, AS, dan Mesir tak terwujud selama berbulan-bulan.

Baca juga : Gandeng DMI, BPJamsostek Wilayah Jakut Beri Perlindungan Bagi Imam Dan Marbot

Israel dan Hamas Palestina menjalankan rencana yang digariskan Biden pada Mei 2024. Salah satu hasilnya, jeda pertempuran selama enam minggu. Beberapa sandera dan warga Palestina di penjara-penjara Israel dibebaskan.

Tahap kedua dan ketiga akan menghasilkan lebih banyak pembebasan tahanan, dan berpotensi mengakhiri perang secara permanen.

Masih ada kendala yang harus diatasi. Salah satu masalah utamanya adalah Israel tidak akan menyetujui gencatan senjata apa pun, yang dianggap membatasi kemampuannya untuk memulai kembali perang dan menghancurkan Hamas.

Kematian Haniyeh menambah gejolak di Timur Tengah. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Israel menargetkan dan membunuh seorang komandan senior Hizbullah Fuad Shukr di Beirut, ibu kota Lebanon.

Israel membenarkan serangan itu, dan mengatakan Shukr bertanggung jawab atas serangan roket di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel akhir pekan lalu.

Serangan tersebut menewaskan 12 anak-anak dan remaja yang sedang bermain sepak bola.

Baca juga : Menhub Dorong Pemda Gencarkan Skema BTS

Iran dan Hizbullah telah bersumpah membalas dendam terhadap Israel. Teheran memerintahkan pasukan keamanannya untuk mempertimbangkan opsi-opsi menyerang negara Yahudi tersebut.

Iran dan Israel saling baku tembak pada April 2024, ketika Teheran menuduh musuh bebuyutannya menyerang gedung konsulat di Suriah.

Iran pun membalas dengan meluncurkan 300 drone dan rudal ke Israel. Namun, Israel berhasil mencegat hampir semua proyektil, dengan bantuan tentara sekutu. Serta memastikan proyektil tersebut hanya menimbulkan sedikit kerusakan.

Di bawah tekanan AS dan Eropa, Israel diminta tidak merespons secara agresif, dan melancarkan serangan terbatas terhadap pangkalan udara Iran.

Netanyahu mengatakan, Israel berada pada tingkat kesiapan yang sangat tinggi untuk skenario apa pun.

"Kami akan menuntut harga yang sangat tinggi untuk setiap tindakan agresi dari pihak mana pun,” katanya, Kamis (1/8/2024).

Baca juga : Presiden Didampingi Mentan Akselerasi Pompanisasi Di Lampung

Perang di Gaza meletus ketika Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober. Serangan tersebut menewaskan 1.200 orang dan menyandera 250 orang.

Serangan Israel selanjutnya di Gaza telah menewaskan sekitar 40 ribu warga Palestina, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas.

Bloomberg menyebut, Hamas dan Hizbullah adalah bagian dari Poros Perlawanan Iran, yaitu sekelompok milisi anti-Israel dan anti-AS di Timur Tengah. AS menetapkan keduanya sebagai organisasi teroris. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.