Dark/Light Mode

Camping Sama Diaspora, Bahas Energi & Dwi Kewarganegaraan

Oleh: Dubes RI Untuk Norwegia Dan Islandia Teuku Faizasyah

Kamis, 29 Agustus 2024 07:16 WIB
Dubes Teuku Faizah (ketiga kanan, depan) berpose bersama saat camping bersama para diaspora di Kristiansand, Norwegia.(Foto: Dok. KBRI Oslo)
Dubes Teuku Faizah (ketiga kanan, depan) berpose bersama saat camping bersama para diaspora di Kristiansand, Norwegia.(Foto: Dok. KBRI Oslo)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada satu ungkapan yang kerap digunakan untuk menggambarkan proses beradaptasi, yakni “When in Rome do as the Ro­mans.” Artinya, saat di Roma, Italia, beraktivitaslah seperti masyarakat Roma. Ungkapan serupa di Indonesia, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Saya pun menerapkan kata-kata bijak ini dalam proses ber­adaptasi di Norwegia de­ngan mencontoh dan melakukan beragam aktivitas yang menjadi kegemaran warga lokal. Bangsa Norwegia dikenal sebagai pencinta alam dan banyak menghabiskan waktu mereka dengan beragam aktivitas di alam terbuka (out door activites). 

Di setiap musim, mereka melakukan banyak kegiatan berolahraga di alam terbuka. Saat musim panas, kegiatan memanjat gunung atau hiking, terkadang sekalian berkemah (camping), menjadi kegiatan yang sangat populer.

Banyaknya area hijau atau hutan kota juga memungkinkan mas­yarakat bersantai, membaca buku sembari rebahan di hammock atau kain yang digelantungkan dan diikat di antara dua pohon.

Baca juga : PIA DPR RI Kunjungi TMP Kalibata

Saya berkesempatan di satu akhir pekan (10-11 Agustus 2024) menikmati kegiatan berkemah bersama diaspora Indonesia, memenuhi undangan Bapak Barliansyah Saleh, Ketua Ikatan Ahli Tehnik Perminyakan Indonesia (IATMI) Chapter Nordic. Lokasi perkemahan Kristiansand Feriesenter berjarak tiga jam bermobil dari Oslo.

Area perkemahan yang cukup luas (10 hektar) terbagi dalam beberapa area, yaitu untuk mobil camping caravan, camping dengan tenda dan rumah-rumah kabin yang kalau di Indonesia masuk kategori glamping. Di lokasi camping di pinggir pantai yang tenang ini; selain mengobrol ringan atas beragam topik, sembari menikmati santapan sore berupa aneka daging panggang/barbeque; kami pun mendiskusikan beberapa topik.

Salah satu topik bahasan adalah dwi kewarganegaraan. Topik ini seringkali diangkat para diaspora Indonesia di luar negeri. Banyak warga negara Indonesia yang menaruh harapan di satu hari nanti, Indonesia dapat mengadopsi kebijakan dwi kewarganegaraan sehingga mereka dan anak keturunan mereka yang sudah lama bemukim di luar negeri, dapat tetap menjadikan Indonesia se­bagai kampung halaman, khususnya di hari tua.

Pejabat konsuler KBRI Oslo, Bapak Nico Adam yang menjadi narasumber saat diskusi, banyak menerima pertanyaan, masukan serta harapan. Dalam tanggapannya, Bapak Nico antara lain mendorong para peserta diskusi untuk memperjuangkan aspirasi mereka melalui organisasi yang sudah terbentuk, yakni Indonesian Diaspora Network (IDN).

Baca juga : Silahturahmi Keberagaman Untuk Toleransi Dan Kerukunan

Terlepas dari belum tercapai­nya kebijakan dwi kewarganegaraan ini, para diaspora Indonesia di Norwegia, sesuai kepakaran mereka tetap memberikan sumbangsih pemikiran bagi kebaikan Indonesia. Khususnya terkait isu-isu ketahanan ener­gi dan ener­gi hijau. Kami pun membahas isu energi ini di hari kedua, yaitu hari Minggu, sembari menikmati sarapan pagi. Terdapat banyak pandangan para diaspora yang sungguh relevan bagi Indonesia. 

Menurut Prof. Agus Hasan, diaspora Indonesia yang merupakan pakar Cyber-Physical Systems dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Indonesia perlu memaksimalkan kekayaan geothermal yang dimiliki untuk memastikan kemandirian dan ketahanan energi.

Prof Agus juga berpendapat bahwa Indonesia patut mempertimbangkan energi nuklir de­ngan menggunakan reaktor mini. Dijelaskan, teknologi nuklir yang semakin maju menjanjikan tingkat keamanan yang lebih baik lagi. Sayangnya, kami tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk mendiskusikan secara mendalam beragam pilihan energi ramah lingkungan atau energi hijau yang menjadi kecenderungan global di masa ini dan ke depan.

Bagi negara di dunia manapun, ketercukupan dan ketahanan energi menjadi modal untuk memba­ngun dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia yang mendambakan pertumbuhan berkualitas dan pemerataan pembangunan, ketersediaan ener­gi yang terjangkau (affordable) adalah satu keniscayaan.

Baca juga : Hari Ini, Jokowi Lantik Dubes RI Untuk Sudan, Filipina, Dan Selandia Baru

Saat ini, pembangunan ekono­mi Indonesia memang masih ba­nyak bergantung dan ditopang energi fosil (fossil energy), seperti batubara, minyak dan gas bumi. Namun, Indonesia juga terus berkomitmen untuk me­ngembang­kan beragam sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti sinar matahari dan air.

Kita sama-sama berharap, pada waktunya nanti bangsa In­donesia akan dapat menikmati lingkungan yang lebih hijau dan asri, karena Indonesia telah memaksimalkan penggunaan energi hijau yang ramah lingkungan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.