Dark/Light Mode

Terima Delegasi Jerman, Kemlu Tawarkan Peningkatan Kerja Sama Dialog Regional

Rabu, 23 Oktober 2024 00:10 WIB
Delegasi Akademi Federal untuk Kebijakan Keamanan Jerman diterima tim Badan Kerja Sama Strategis Luar Negeri Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin (21/10/2024).  (Foto Kemlu RI)
Delegasi Akademi Federal untuk Kebijakan Keamanan Jerman diterima tim Badan Kerja Sama Strategis Luar Negeri Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin (21/10/2024). (Foto Kemlu RI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Delegasi Akademi Federal untuk Kebijakan Keamanan Jerman (German Federal Academy of Security Policy - BAKS) sowan ke Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin (21/10/2024). Delegasi Jerman yang terdiri dari 22 pejabat tinggi dan pengusaha terkemuka di Jerman tersebut dipimpin Mayor Jenderal Wolf-Jurgen Stahl.

BAKS adalah lembaga antar kementerian Pemerintah Federal Jerman yang memberikan pelatihan dan pendidikan kepada para pengambil kebijakan untuk keamanan politik. Tugasnya adalah untuk meningkatkan pemahaman komprehensif mengenai kebijakan keamanan nasional, regional dan global.

Pertemuan dengan delegasi Jerman berlangsung di Gedung Kantin Diplomasi Kemlu, Senin 21 Oktober 2024. Kedatangan para delegasi Jerman tersebut disambut Kepala Badan Kerja Sama Strategis Luar Negeri (BKSLN) Kementerian Luar Negeri Yayan GH Mulyana, Direktur Eropa 2 Kemlu, Winardi Hanafi Lucky, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa Kemlu, Spica A. Tutuhatunewa, dan mantan Deputi Sekretariat Jenderal ASEAN Dubes Bagas Hapsoro, dan para pejabat lain.

Dalam memberikan sambutannya, Winardi Hanafi menyatakan,  kerja sama antara Indonesia dengan Jerman tercatat semakin meningkat. Kedua negara memiliki kemitraan komprehensif serta bertekad untuk melaksanakan komitmen demi manfaat timbal-balik.

Winardi Hanafi juga bilang bahwa hubungan diplomatik RI-Jerman terjalin secara resmi dimulai pada Juni 1952 dengan disepakatinya Jakarta Declaration. Kesepakatan tersebut menjadi dasar Kemitraan Strategis kedua negara untuk meningkatkan kerja sama di bidang: Trade, Tourism and Investment (TTI), Polhankam, Pensosbud, Ristek, Perubahan iklim dan Energi, Kesehatan, serta People-to-people contact.

Di samping itu, kedua negara juga melakukan kerja sama pembangunan melalui pertemuan rutin setiap 2 tahun antara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ). Saat ini kedua negara sedang membahas prioritas sektor kerja sama bilateral jangka menengah, proyek-proyek kerja sama pembangunan bilateral, serta komitmen pendanaan dari Pemerintah Jerman.

Yang menarik adalah bahwa kerja sama yang saat ini dilakukan juga mencakup investasi, atau Indonesia-Germany Joint Economic and Investment Committee (JEIC). JEIC merupakan mekanisme kerja sama bilateral Jerman di bidang ekonomi dan investasi yang dapat melibatkan kalangan swasta.

Baca juga : Ingrid Terima Penghargaan Pemimpin Gerakan Perempuan Paling Progresif

Platform JEIC bertujuan meningkatkan kerja sama di sektor perdagangan, industri, investasi, lingkungan hidup dan sumber daya alam, energi, maritim, pariwisata, kesehatan, pendidikan vokasi dan pelatihan tenaga kerja, penelitian dan inovasi,ekosistem bisnis rintisan/start up, dan pengembangan UKM (Usaha Kecil Menengah). 

Menurut Direktur Winardi Hanafi, Jerman adalah mitra penting di bidang ekonomi, yaitu rekan dagang urutan pertama di kawasan Eropa dan menempati posisi 16 sebagai destinasi ekspor Indonesia dalam skala global. Pada 2023 nilai perdagangan bilateral mencapai 7,17 miliar dolar AS.

Selanjutnya Kepala BKSLN, Yayan memaparkan tentang hasil kajian BKSLN tentang kedudukan Indonesia di kawasan Indo-Pasifik dan harapan Indonesia terhadap Jerman baik secara bilateral maupun sebagai negara anggota Uni Eropa. Disampaikan juga bahwa forum Policy Planning Dialogue RI-Jerman semakin relevan dan perlu terus dilanjutkan.

Dalam menyampaikan pidato balasannya, Ketua BAKS, Mayor Jenderal Wolf-Jurgen Stahl mengucapkan selamat atas pembentukan Kabinet Merah Putih di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Diharapkan bahwa Pemerintah baru akan meneruskan langkah-langkah yang telah dirintis Presiden Jokowi yang selalu konsisten dan memegang teguh komitmennya dalam kemitraan dengan Jerman.

Secara khusus Mayjen Wolf-Jurgen Stahl juga mengungkapkan kegembiraannya bahwa salah satu Wakil Menlu sekarang adalah Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno. Disampaikan pula harapannya bahwa hubungan dan kerja sama kedua negara akan semakin meningkat.

Sebagai mitra strategis Jerman, Indonesia menurut Mayjen Wolf-Jurgen telah sukses menunjukkan kepemimpinannya pada ASEAN (2023) dan G-20 (2022). Jerman mengaku ingin belajar lebih banyak tentang cara menghadapi rivalitas negara-negera Adi Daya (AS dan China). Disampaikannya pula, kemandirian Indonesia dalam memecahkan persoalan global dan regional perlu dipelajari secara mendalam di negara-negara Asia-Pasifik, Afrika, Amerika dan Eropa.

Kepala BSKLN pada kesempatan itu juga memaparkan mengenai Politik Luar Negeri Indonesia 2025-2029: tantangan dan strateginya. Dalam presentasinya, Kepala BSKLN menjelaskan tentang determinasi polugri RI, konteks regional dan global, naiknya kompetisi kekuatan antara China dengan negara adi daya lainnya, implikasi dan strategi.

Baca juga : Asyik! Hari Pelantikan Presiden Ada Konser Hingga Makan Gratis Di Semanggi-Monas

Determinasi Polugri menurut Yayan sangat dipengaruhi lingkungan regional dan global, lingkungan domestik, kepentingan nasional, kerangka kelembagaan, dan fondasi hukum. Perkembangan dunia saat ini dipengaruhi persoalan geo-politik dan ini ditandai dengan situasi internasional yang sangat kompleks dan terfragmentasi.

Contoh yang paling konkret adalah semakin banyaknya ancaman untuk menggunakan kekerasan, ancaman terhadap aturan yang berlaku, pertahanan regional dan global, persaingan untuk mempengaruhi, unjuk kekuatan (theater) untuk proksi (perluasan pengaruh), minilateralism dan perang yang asimetris (asymmetric wars).

Secara khusus Yayan menggambarkan bahwa saat ini menuju kearah dunia multipolar yang tidak sama (towards an unequal multipolar world). Jadi gambaran yang menghawatirkan adalah “era pasca perang dingin berakhir dan kompetisi antara kekuatan utama berlangsung”. Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa terjadi kemajuan teknologi yang luar biasa di China. Yakni terjadi kenaikan tingkat riset dan teknologi selama 20 tahun (2000-2020) sebesar 1.458 persen. Dalam situasi ini terdapat persaingan antara AS dan China. Dunia menjadi terstruktur di sekitar kompetisi ini.

Mengutip pandangan Wakil Tingkat Tinggi Uni Eropa, Joseph Borell, Kepala BKSLN menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitis dan dan ketidakpastian ekonomi akan menimbulkan ketegangan dan dikhawatirkan merusak tata internasional yang ada. Oleh karena itu Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya diundang untuk berdialog dan bekerja sama dengan negara-negara Asia Pasifik demi kemakmuran bersama.

Sebagaimana dinyatakan dalam ASEAN Outlook on the Indo-Pasific (AOIP) beberapa kerja sama yang ditawarkan adalah kerja sama maritim, konektivitas, sustainable development goals (SDGs), dan kerja sama ekonomi. Konsisten dengan pengamatan Lowy Institute, menurut Yayan, pandangan ASEAN tentang negara-negara mitra tidak berubah. Urutan pertama selain AS dan China adalah Jepang dan Uni Eropa. Jepang tetap menjadi kekuatan besar yang paling dipercaya di antara masyarakat Asia Tenggara (58,9 persen). Amerika berada di urutan kedua (42,4 persen), mengungguli Uni Eropa(41,5 persen) dengan selisih yang tipis.

Masih menurut Lowy Institute, Indonesia memainkan peran besar jika ketegangan terjadi di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik. Dalam kaitan ini Yayan menegaskan “We need German focus on Indonesia”.

Kiprah Indonesia Dalam Perdamaian Dunia

 Indonesia tercatat sebagai negara yang mengirimkan pasukan perdamaiannya di Timur Tengah sejak 1957. Saat ini, baik Indonesia maupun Jerman adalah negara-negara pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Dengan bekal pengalaman dan kiprah di PBB, Indonesia dan Jerman juga layak untuk ikut merumuskan reformasi PBB khususnya Dewan Keamanan. Disampaikan Mayjen Wolf-Jurgen Stahl, negara-negara Uni Eropa sering menyampaikan keprihatinan mereka di panggung global selama beberapa dekade khususnya sikap negara-negara adi daya lainnya.

Baca juga : Lewat Irigasi Perpompaan, PVTPP Kementan Gelar Gerakan Tanam di Kabupaten Kebumen

Peranan Indonesia sangat terasa dan direfleksikan selama kepemimpinannya pada ASEAN dan G-20. Kepemimpinan di kedua kelompok regional dan mendapat tanggapan positif tidak saja dari mitra dialog Jerman, tetapi juga negara adi daya (AS, China dan Rusia) yang selama ini turut memberikan pengaruh pada hubungan ekonomi dan politik di kawasan Asia Pasifik.

Terhadap perkembangan demikian Mayor Jenderal Wolf-Jurgen Stahl mengajak Indonesia untuk terus mengamati, melakukan langkah-langkah penting tidak saja untuk kepentingan ASEAN dan Uni Eropa tetapi juga untuk dunia.

Diskusi diteruskan dengan tanya jawab dari para peserta BAKS. Topik yang menjadi perhatian adalah tentang perubahan iklim, teknologi, pendidikan, investasi, penundanaan berlakunya peraturan Uni Eropa tentang deforestasi.

Delegasi Jerman lainnya, Dr. Christian Wirth meyakini bahwa Indonesia akan melakukan kebijakan strategis, terukur dan berkelanjutan dalam meningkatkan hubungan dengan semua mitranya. Diharapkan juga Indonesia terus memperkuat penetrasi produk ekspor yang sesuai dengan kebutuhan utama pasar Jerman, seperti minyak sawit, karet dan kopi. Pertemuan Delegasi Jerman dan Indonesia di Kemlu diakhiri dengan pertukaran tanda mata (souvenir) dari kedua delegasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.