Dark/Light Mode

Donald Trump Menang Pilpres AS, Ukraina Kudu Ekstra Putar Otak

Rabu, 6 November 2024 21:08 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dengan terpilihnya kembali Donald Trump, Ukraina sepertinya harus ekstra putar otak atau segera menyesuaikan diri dengan pengurangan drastis dukungan Amerika Serikat (AS), yang berdampak signifikan dalam perang melawan Rusia.

Sepanjang kampanyenya, presiden terpilih dari Partai Republik dan wakilnya: JD Vance, memunculkan keraguan kuat atas komitmen AS yang berkelanjutan terhadap Kiev. Sementara perang Rusia-Ukraina telah berlangsung lebih dari dua setengah tahun.

Tak cuma itu, Trump juga telah melontarkan pernyataan yang menyebut AS dapat menekan Ukraina, agar melakukan gencatan senjata dengan Rusia.

Kemenangan Trump terjadi di saat yang genting dalam konflik di Kiev. Rusia terus meraih kemenangan di wilayah Donbas timur, yang ingin direbut sepenuhnya oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam sebuah pernyataan di Telegram pada Sabtu (2/11/2024), Panglima Tertinggi Ukraina Oleksandr Syrskyi mengatakan, situasi di garis depan tetap sulit.

Beberapa wilayah Ukraina bahkan memerlukan pembaruan sumber daya unit secara terus-menerus.

Sementara Rusia, seperti dilaporkan CNN International, tengah memperkuat pasukannya dengan bantuan tenaga dari Korea Utara.

Peringatan pejabat AS menyebut, sebanyak 10 ribu tentara Korea Utara yang berada di wilayah Kursk, Rusia diperkirakan akan memasuki pertempuran melawan Ukraina dalam beberapa hari mendatang,

Baca juga : Donald Trump: Ini Adalah Kemenangan Rakyat Amerika Yang Luar Biasa

Di bawah pemerintahan Biden, AS telah memberikan bantuan puluhan miliar dolar kepada Ukraina, baik dalam bentuk persenjataan atau bantuan anggaran.

Pemerintah AS berencana untuk terus mengalirkan dukungan kepada Kiev, sebelum Trump menjabat.

Trump telah berulang kali memuji Putin, dan berulang kali mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang memiliki sejarah rumit dengannya.

Menghargai Komitmen Trump

Saat mengucapkan selamat atas kemenangan Trump pada Rabu (6/11/2024), Zelensky mengatakan, dia menghargai komitmen Trump terhadap perdamaian melalui kekuatan.

"Kami menantikan era Amerika Serikat yang kuat di bawah kepemimpinan Presiden Trump yang tegas. Kami mengandalkan dukungan bipartisan yang kuat dan berkelanjutan untuk Ukraina di Amerika Serikat,” tulis Zelensky dalam sebuah unggahan di media sosial.

“Kami tertarik untuk mengembangkan kerja sama politik dan ekonomi yang saling menguntungkan, yang akan menguntungkan kedua negara kita," sambungnya.

Trump telah berulang kali mengklaim bahwa perang Ukraina-Rusia tidak akan terjadi, jika dia menjadi presiden.

Baca juga : Pemenang Pilpres AS Tidak Langsung Ditentukan Peraih Suara Terbanyak

Trump juga telah berjanji untuk mengakhiri perang, bahkan terkadang mengklaim bahwa ia akan menghentikan konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum dia menjabat.

Juli 2024, Trump mengaku dapat menyelesaikan konflik tersebut dalam satu hari.

Dalam debat melawan Wakil Presiden Kamala Harris pada September 2024, Trump menolak untuk mengatakan bahwa dia berkomitmen agar Ukraina mengalahkan Rusia.

Akhir bulan itu, Trump menyarankan, Ukraina seharusnya "menyerah sedikit" kepada Moskow.

Menurutnya, kesepakatan apa pun, bahkan kesepakatan terburuk sekali pun, akan lebih baik daripada apa yang kita miliki saat ini.

"Jika mereka membuat kesepakatan yang buruk, itu akan jauh lebih baik. Mereka akan mengalah sedikit, dan semua orang akan hidup," kata Trump.

Beberapa hari setelah komentar tersebut, dalam pertemuan dengan Zelensky di New York City, Trump menekankan bahwa dia akan berusaha untuk mendapatkan kesepakatan yang baik bagi kedua belah pihak.

Baca juga : Dukungan Terus Menguat, ASR-Hugua Yakin Wujudkan Sultra Sejahtera Dan Merata

"Kami memiliki hubungan yang sangat baik. Saya pun memiliki hubungan yang sangat baik, seperti yang Anda ketahui, dengan Presiden Putin. Saya pikir, jika menang, kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat," paparnya.

Zelensky yang telah menyusun rencana kemenangan mengatakan, Ukraina tidak menentang negosiasi. Asalkan dilakukan dari posisi yang kuat.

Dalam konferensi pers pada akhir Oktober 2024, Presiden Ukraina mengatakan, Trump banyak bicara, tetapi saya tidak mendengar dia akan mengurangi dukungan untuk Ukraina.

Zelensky menuturkan, dalam pertemuan September 2024 dengan Trump, dia membahas secara rinci kemitraan strategis Ukraina-AS, rencana kemenangan, dan cara-cara untuk mengakhiri agresi Rusia terhadap Ukraina.

Namun, dalam sebuah wawancara dengan KBS Korea Selatan, Zelensky mengakui bahwa presiden AS berikutnya dapat memperkuat atau melemahkan dukungan untuk Ukraina.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.