Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ukraina Stop Transit Gas Rusia Ke Uni Eropa
Zelensky Tak Izinkan Rusia Raup Keuntungan Dari Rakyatnya
Rabu, 1 Januari 2025 08:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pasokan gas Rusia ke negara-negara Uni Eropa melalui Ukraina akan berakhir pada Rabu (1/1/2025), saat kesepakatan lima tahun antara operator transit gas Ukraina Naftogaz dan Gazprom Rusia berakhir.
Melansir BBC, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan, negaranya tidak mengizinkan Rusia untuk meraup tambahan miliaran dolar Amerika Serikat (AS) dari darah rakyatnya. Menurutnya, Ukraina telah memberi waktu satu tahun kepada Uni Eropa untuk mempersiapkan.
Terkait hal ini, Komisi Eropa memastikan, sistem gas benua biru tangguh dan fleksibel, serta memiliki kapasitas yang cukup untuk mengatasi masalah akhir periode transit melalui Ukraina.
Rusia masih dapat mengirim gas ke Hongaria, serta Turki dan Serbia, melalui pipa TurkStream melintasi Laut Hitam, jika tak transit di Ukraina.
Sejauh ini, Uni Eropa telah mengurangi impor gas dari Rusia secara signifikan, sejak negara yang dipimpin Vladimir Putin itu meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022.
Namun, sejumlah negara anggota Eropa Timur masih sangat bergantung pada pasokan gas Rusia. Hingga Rusia memperoleh pemasukan 5,2 miliar dolar AS per tahun.
Menurut catatan blok tersebut, kontribusi gas Rusia terhadap impor gas Uni Eropa pada tahun 2023, tak sampai 10 persen. Angka ini turun dibanding tahun 2021, yang mencapai 40 persen.
Baca juga : Prabowo: Tidak Ada Toleransi Bagi Korupsi & Pengkhianatan Rakyat
Namun, sejumlah anggota Uni Eropa seperti Slovakia dan Austria, masih terus mengimpor gas dari Rusia dalam jumlah yang signifikan.
Regulator energi Austria mengatakan, pihaknya tidak memperkirakan adanya gangguan pasokan gas dari Rusia, karena telah mendiversifikasi sumber dan membangun cadangan.
Slovakia Sewot
Keputusan Ukraina telah menyebabkan ketegangan serius dengan Slovakia, yang saat ini menjadi titik masuk utama gas Rusia ke Uni Eropa, dan mendapat keuntungan dari biaya transit penyaluran gas ke Austria, Hongaria, dan Italia.
Jumat (29/12/2024), Perdana Menteri Slovakia Robert Fico - yang baru saja melakukan kunjungan mendadak ke Moskow untuk pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin - mengancam akan menghentikan pasokan listrik ke Ukraina.
Zelensky pun menuduh Fico membantu Putin mendanai perang dan melemahkan Ukraina.
"Fico menyeret Slovakia ke dalam upaya Rusia, yang menyebabkan lebih banyak penderitaan bagi warga Ukraina," kata Zelensky.
Tawaran Dari Polandia
Polandia telah menawarkan untuk mendukung Kiev, jika Slovakia memotong pasokan ekspor listrik yang sangat penting bagi Ukraina, yang pembangkit listriknya diserang secara teratur dari Rusia.
Baca juga : Rayakan Hari Jadi Ke-66, Rektor Unisba Selesaikan Masa Tugasnya
Moldova - yang bukan bagian dari Uni Eropa - dapat terpengaruh secara serius oleh berakhirnya perjanjian transit. Mengingat gas tersebut adalah pasokan utama pembangkit listrik yang diandalkan Moldova, untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya.
Pasokan gas tersebut juga memasok wilayah separatis Transnistria yang didukung Rusia, sepotong kecil tanah yang diapit antara Moldova dan Ukraina.
Hemat Energi
Menteri Energi Moldova, Constantin Borosan menuturkan, pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan pasokan listrik yang stabil ke Moldova.
Namun, dia meminta warga untuk menghemat energi.
Asal tahu saja, keadaan darurat energi selama 60 hari telah diberlakukan di Moldova sejak pertengahan Desember 2024.
Presiden Maia Sandu menuduh Kremlin melakukan "pemerasan" yang mungkin ditujukan untuk mengacaukan negaranya, menjelang Pemilu 2025.
Pemerintah Moldova juga mengatakan, pihaknya telah menawarkan bantuan kepada Transnistria.
Baca juga : Dubes Indonesia Untuk Uni Eropa Denis Chaibi Promosi Keuntungan Kuliah Di Eropa
Rusia telah mengangkut gas ke Eropa melalui Ukraina sejak tahun 1991. Karena Uni Eropa telah mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia, Uni Eropa telah menemukan sumber alternatif dalam bentuk gas alam cair (LNG) dari Qatar dan AS, serta gas pipa dari Norwegia.
Desember 2024, Komisi Eropa menyusun rencana yang memungkinkan negara-negara anggota Uni Eropa, untuk sepenuhnya mengganti gas yang transit melalui Ukraina.
Di bawah rencana kontinjensi Uni Eropa, negara-negara terdampak akan disuplai dengan gas Yunani, Turki, dan Rumania dari rute Trans-Balkan. Sementara gas Norwegia akan disalurkan melalui Polandia.
Pasokan gas yang lebih banyak juga akan mencapai Eropa tengah melalui Jerman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya