Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
AS Vs China Kembali Perang Dagang, Indonesia Kena Getahnya?
Senin, 3 Februari 2025 08:20 WIB
Sebelumnya
Laporan US-China Business Council menyebutkan hingga akhir 2019, perang dagang telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 108 miliar dolar AS dan kehilangan 245.000 lapangan kerja. Tarif yang diterapkan Trump membuat harga barang impor lebih mahal, terutama untuk industri otomotif dan elektronik yang sangat bergantung pada suku cadang dari China.
Lantas, apakah perang dagang Amerika dengan China ya kali ini akan berdampak pada perekonomian Indonesia? Pakar ekonomi yang juga Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan, perang dagang antara AS dan China secara umum akan menurunkan permintaan global. Dampaknya akan mengganggu perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Menurut Piter, dampak dari perang dagang ini diperkirakan akan menyebabkan penurunan ekspor dan produksi di berbagai sektor.
“Hanya saja, situasi ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Tiap negara punya banyak keterkaitan ekonomi,” kata Piter kepada Rakyat Merdeka, Minggu (2/2/2025).
Piter mengingatkan, dampak negatif kebijakan Trump sudah mulai terasa sejak ia terpilih. Trump, lanjutnya, bukan hanya memicu ekspektasi negatif terhadap perekonomian global, tetapi juga mempengaruhi aliran modal yang mengarah ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga : Raup Duit Ratusan Triliun, Penghematan APBN Berbuah Manis
Meski begitu, Piter menekankan, pentingnya fokus pada upaya penyelesaian masalah internal. Ia mengingatkan, Indonesia pernah menghadapi krisis ekonomi yang lebih serius, yaitu saat pandemi Covid-19. Krisis saat itu jauh lebih merusak ekonomi dibandingkan dengan kondisi saat ini.
“Jika kita bisa mengatasi persoalan-persoalan dalam negeri dengan baik, maka dampak dari krisis global ini tidak akan separah yang dibayangkan,” ujarnya. Piter juga menambahkan, jika fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dampak dari krisis global akan lebih dapat diatasi.
Sementara, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan perang dagang jilid kedua ini berpotensi membawa dampak buruk bagi perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bhima mengatakan, perang dagang kali ini berbeda dengan kebijakan Trump jilid 1 yang fokus pada kenaikan tarif produk dari China.
“Saat ini tarif meluas bahkan ke negara tetangga AS seperti Kanada dan Meksiko, ini berita buruk. Indonesia bisa kena getahnya,” kata Bhima, kepada Rakyat Merdeka, Minggu (2/2/2025).
Baca juga : Pemindahan ASN Ke IKN Ditunda Lagi
Pertama, pasar ekspor Indonesia bukan cuma ke China yang lesu, tapi juga ke negara lain karena ada penurunan permintaan. Kedua, Indonesia bisa jadi pelarian produk-produk dari China, Kanada dan Meksiko untuk cari pasar lain. Kalau banjir impor meluas maka PHK massal di industri dalam negeri karena kalah bersaing. UMKM juga terpukul. “Hadapi produk China saja susah apalagi ditambah Meksiko,” ujarnya.
Ketiga, kata Bhima, memang ada peluang relokasi industri dari China dan Meksiko. Namun, kesiapan perizinan, infrastruktur dan SDM jadi kendala utama. “Sejauh ini Vietnam, Kamboja, Thailand dan Malaysia yang lihai manfaatkan peluang relokasi industri,” pungkasnya.
Lalu, apa kata pengusaha? Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, perang dagang antara AS-China memberikan sejumlah keuntungan bagi Indonesia.
Dia menyebut, Indonesia bisa mendapat keuntungan dari sisi besaran bea masuk barang. Dengan demikian, barang-barang dari Indonesia lebih mudah dijangkau oleh konsumen AS lantaran harganya yang lebih murah.
Selain itu, Benny menyebut, akan ada investasi dari China ke Indonesia, di mana produk-produk yang dihasilkan akan di kirim ke AS dengan country of origins Indonesia. Dia berharap, Pemerintah memudahkan proses perizinan investasi, utamanya yang berorientasi ekspor.
Baca juga : Kami Happy RI Masuk BRICS
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini dinamika global yang terjadi menjadi faktor yang akan turut mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia ke depan.
“Sejumlah risiko tentu masih akan kita hadapi, seperti volatilitas harga komoditas, kemudian tingkat suku bunga yang relatif tinggi, dan tentunya kebijakan perdagangan dari pemerintahan Amerika yang sering kita sebut sebagai Trump 2.0, serta kerentanan ketahanan pangan dan energi akibat perubahan iklim,” kata Airlangga di kantornya, Jumat (31/1/2025). [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya