Dark/Light Mode

Sekalipun Didukung Presiden Trump, Elon Musk Nggak Mau Beli Tik Tok

Minggu, 9 Februari 2025 13:44 WIB
Miliarder AS sekaligus orang dekat Presiden Donald Trump, Elon Musk. (Foto: Instagram)
Miliarder AS sekaligus orang dekat Presiden Donald Trump, Elon Musk. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Orang terkaya dunia Elon Musk (53) mengaku tak tertarik mengakuisisi TikTok - aplikasi video pendek populer milik perusahaan asal China, ByteDance - yang saat ini dilarang Amerika Serikat (AS) karena dianggap mengundang masalah keamanan nasional.

Komentar Musk pada akhir Januari 2025 itu dirilis secara daring oleh The WELT Group, unit perusahaan media Jerman Axel Springer SE pada Sabtu (8/2/2025).

The WELT Group sebelumnya menggelar pertemuan puncak yang dihadiri Musk secara virtual.

Baca juga : Soal Rencana Pertemuan Trump-Putin, Pihak AS Disebut Belum Kontak Rusia

"Saya belum mengajukan tawaran untuk TikTok," kata Musk, seminggu setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan dukungannya untuk Musk, jika bos Tesla itu mau.

"Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, jika saya memiliki TikTok," kata Musk, yang mengaku tidak menggunakan aplikasi video pendek itu secara pribadi, dan tidak familiar dengan format aplikasi tersebut.

"Saya tidak berkeinginan membeli TikTok. Saya tidak mengakuisisi perusahaan secara umum. Itu cukup langka," kata Musk, seperti dilansir Reuters.

Baca juga : Hari Pertama Jadi Presiden, Donald Trump Banyak Tingkah

Dia pun lantas menuturkan, akuisisi senilai miliaran dolar yang dilakukannya terhadap platform media sosial Twitter (saat ini berganti nama menjadi X) adalah hal yang tidak biasa.

"Saya biasanya membangun perusahaan dari awal," cetus Musk.

Sekadar latar, 20 Januari lalu, Trump yang berasal dari Partai Republik menandatangani perintah eksekutif yang menunda penegakan larangan TikTok selama 75 hari, yang semula dijadwalkan pada 19 Januari 2025.

Baca juga : Bamsoet: Kadin Dukung Kebijakan Presiden Prabowo Hapus Utang UMKM

Dalam konteks ini, ByteDance diberi deadline untuk menjual aset TikTok di AS atau menghadapi larangan AS. Menyusul kekhawatiran anggota parlemen bahwa aplikasi tersebut memunculkan risiko keamanan nasional, karena China dapat memaksa perusahaan untuk membagikan data penggunanya di AS.

Sejauh ini, TikTok membantah telah atau akan membagikan data pengguna AS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.