Dark/Light Mode

Video Tim Medis Yang Didor Israel Bikin Haru, Sebelum Wafat Minta Maaf Ke Ibu

Senin, 7 April 2025 10:54 WIB
Massa membuat iring-iringan mengantar jenazah petugas medis dari Palang Merah Palestina yang menjadi sasaran peluru Israel. (Foto IG Palang Merah Palestina)
Massa membuat iring-iringan mengantar jenazah petugas medis dari Palang Merah Palestina yang menjadi sasaran peluru Israel. (Foto IG Palang Merah Palestina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Militer Israel (Israel Defence Forces/IDF) kembali melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza. Video ponsel salah satu dari 15 petugas medis Palestina yang tewas terbunuh, menjadi bukti baru.

Video yang viral di media sosial itu menunjukkan tentara Israel secara brutal menembaki mobil ambulans yang membawa petugas medis. Termasuk di antaranya relawan dari Bulan Sabit Merah Palestina (Palestine Red Crescent Society/PRCS).

Dilansir Al Jazeera, video itu ditemukan di ponsel salah satu korban bernama Rifat Radwan. Video yang dirilis PRCS pada Sabtu (5/4/2025), menunjukkan saat-saat terakhir para petugas medis berseragam di dalam ambulans PRCS.

Petugas medis ditembak pasukan Israel di wilayah Tal as-Sultan, Rafah, Gaza selatan pada 23 Maret 2025. Jenazah mereka ditemukan sepekan setelah kejadian.

 PRCS kehilangan delapan pekerjanya dalam serangan itu. Serangan saat bulan Ramadan itu juga menewaskan enam anggota Badan Pertahanan Sipil Palestina dan seorang karyawan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Jenazah mereka ditemukan terkubur di Rafah.

Baca juga : Coretax Bikin Pusing, Sri Mulyani Minta Maaf Ke Wajib Pajak

Dalam video tersebut terdengar suara gemetar ketakutan, sementara suara tembakan terus terdengar sebagai latar belakang. Pemilik video juga memberikan pesan mengharukan untuk ibunya.

“Maafkan aku, Ibu, karena aku memilih jalan ini, jalan untuk menolong orang. Terimalah kesyahidanku Tuhan dan maafkan aku,” ujarnya.

Tepat sebelum video berakhir, dia terdengar berkata: “Orang-orang Yahudi datang, orang-orang Yahudi datang,” yang tampaknya merujuk pada tentara Israel.

PRCS mengatakan, ambulans itu dikirim sebagai tanggapan atas panggilan darurat dari warga sipil yang terjebak setelah pemboman Israel di Rafah. Juru bicara pertahanan sipil Gaza mengatakan, Israel harus bertanggung jawab atas kejahatan yang dinilai tidak ada bandingannya dalam sejarah modern.

Israel Ngaku

Dilansir BBC, IDF mengklaim setidaknya ada enam paramedis yang tewas terkait dengan Hamas. Namun hingga saat ini belum ada bukti terkait tudingan tersebut.

Baca juga : Virus HMPV Merebak Di China, Pemerintah Minta Masyarakat Tak Panik

IDF mengakui bahwa para paramedis itu tidak bersenjata saat tentara melakukan serangan. Namun, seorang pejabat IDF berdalih bahwa sebelumnya tentara telah menembak mobil yang berisi tiga anggota Hamas.

Ketika ambulans datang ke area tersebut, pengawasan udara memberitahu tentara bahwa konvoi tersebut mencurigakan.

IDF mengaku mengubur mayat 15 pekerja tersebut di pasir untuk melindungi mereka dari santapan hewan liar. Mayat-mayat tersebut baru ditemukan seminggu setelah insiden. Sebab, badan internasional, termasuk PBB, tidak dapat mengatur jalur aman ke lokasi atau menemukan titik tersebut.

Ketika tim bantuan menemukan mayat-mayat tersebut, mereka juga menemukan ponsel Refat Radwan yang berisi rekaman kejadian. Pejabat militer Israel membantah bahwa para paramedis dipasangi borgol sebelum meninggal. IDF juga mengklaim mereka tidak dieksekusi dari jarak dekat, seperti yang diberitakan.

Seorang paramedis yang selamat sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa ambulans memiliki lampu menyala dan menegaskan bahwa rekannya tidak terhubung dengan kelompok militan manapun.

Baca juga : Dirjen WHO Jadi Saksi Serangan Biadab Israel Di Bandara Yaman

Palang Merah dan banyak organisasi internasional lainnya menyerukan penyelidikan independen terhadap kejadian ini. IDF juga berjanji untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap insiden ini.

Israel melanjutkan pemboman udara dan ofensif darat di Gaza pada 18 Maret lalu, setelah fase pertama gencatan senjata berakhir dan negosiasi untuk fase kedua terhenti. Sejak saat itu, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas di Gaza.

Serangan militer Israel untuk menghancurkan Hamas dimulai setelah serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang Israel dan 251 orang disandera. Lebih dari 50.600 orang telah tewas di Gaza sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.