Dark/Light Mode

Zelensky Tunggu Tanggapan AS Atas Gencarnya Serangan Rusia Ke Ukraina

Senin, 7 April 2025 14:07 WIB
Presiden Ukraina  Volodymyr Zelensky (kiri) mengunjungi barak militer di wilayah Sumy, Ukrainra utara. Foto dari akun X Zelensky, 4 April 2025.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kiri) mengunjungi barak militer di wilayah Sumy, Ukrainra utara. Foto dari akun X Zelensky, 4 April 2025.

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menunggu respons Amerika Serikat (AS) terhadap penolakan Rusia untuk menyetujui "gencatan senjata penuh dan tanpa syarat". Sementara itu Rusia terus melakukan serangan ke Ukraina menggunakan misil dan drone terhadap Ukraina.

Menurut Zelensky, Minggu (6/4/2025), serangan Rusia tersebut menewaskan dua orang dan melukai tujuh orang lainnya. Presiden dengan latar belakang pemain darama itu memperingatkan, Moskow telah meningkatkan intensitas serangan udara.

Ukraina telah menyetujui gencatan senjata tanpa syarat yang diusulkan AS t dalam perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin, menolak untuk melakukan hal yang sama.

Baca juga : H+3 Lebaran: 42 Ribu Orang Dan 12 Ribu Kendaraan Menyeberang Ke Bali

"Kami sedang menunggu respons dari Amerika Serikat, ssejauh ini belum ada respons," kata Zelensky.

Rusia mengklaim telah merebut sebuah desa di wilayah Sumy, Ukraina, dalam sebuah serangan lintas batas yang langka, tetapi Ukraina mencapnya sebagai "disinformasi".

Menurut Zelensky, peningkatakan jumlah serangan udara Rusia membuktikan bahwa tekanan terhadap Rusia tak banyak berdampak. 

Gencatan Senjata Rusia-Ukraina

Baca juga : Kemensos Beri Santunan ke Ahli Waris Korban Penyerangan KKB

Serangan Rusia tersebut merupakan serangan skala besar pertama yang menggunakan misil dan drone sejak AS mengumumkan akhir bulan lalu bahwa mereka telah menegosiasikan dua perjanjian gencatan senjata dengan Rusia dan Ukraina. Termasuk perjanjian yang mencakup infrastruktur energi masing-masing negara.

Zelenskiy menyatakan, serangan yang terus berlangsung menunjukkan bahwa Rusia tidak ingin mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga tahun.

"Serangan seperti ini adalah tanggapan Putin terhadap semua upaya diplomasi internasional. Setiap mitra kami - Amerika, seluruh Eropa, seluruh dunia - telah melihat bahwa Rusia akan terus berperang dan membunuh," ungkapnya melalui aplikasi pesan Telegram, dikutip dari Reuters.

Baca juga : Jamin Kelancaran Tunjangan Guru, Kemendikdasmen Gencarkan Validasi Data Rekening

Dalam pernyataan terpisah, ia menyebut bahwa dirinya telah menginstruksikan menteri pertahanan dan menteri luar negeri untuk memperkuat pembicaraan dengan para mitra, terutama AS, terkait pasokan peralatan pertahanan udara.

Presiden AS berusaha mendorong Rusia dan Ukraina untuk menyetujui gencatan senjata, tetapi sejauh ini belum berhasil. AS juga berupaya memperbaiki hubungan dengan Rusia. Utusan Kremlin, Kirill Dmitriev, dalam sebuah wawancara dengan televisi negara, mengatakan bahwa kontak berikutnya antara AS dan Rusia dapat terjadi "pekan depan," menurut pemberitaan kantor berita Rusia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.