Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Karena itu, dalam mencari jalan tengah, kedua negara sepakat membentuk tim teknis dan kerangka acuan sebagai dasar penyelesaian negosiasi dalam waktu 60 hari. Rangkaian pertemuan teknis lanjutan akan digelar dalam satu hingga tiga putaran dan diharapkan bisa ditindaklanjuti dalam bentuk format perjanjian yang disetujui kedua negara.
"Diharapkan dengan seluruh pertemuan itu, proses negosiasi bisa diselesaikan dalam waktu yang ditargetkan 60 hari," ujarnya
Selain itu, Airlangga menyampaikan, Pemerintah Indonesia tengah menyusun paket kebijakan ekonomi, termasuk revisi format Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi insentif-based dan membentuk tim deregulasi untuk memperbaiki ekosistem investasi dan perdagangan.
Baca juga : Posisi Hasan Nasbi Dipertanyakan, Mensesneg Kini Merangkap Jubir
Airlangga juga menegaskan pentingnya diversifikasi pasar ekspor, termasuk percepatan perjanjian EU-CEPA serta perluasan akses pasar ke Australia, Inggris, Meksiko, dan kawasan Amerika Latin. "Tentu kita akan mitigasi penurunan ekspor ke Amerika akibat tarif tinggi, tapi Indonesia optimis perundingan 60 hari bisa mencapai hasil yang positif," tandasnya.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menambahkan, Pemerintah akan memberikan perhatian khusus kepada sektor-sektor yang rentan, seperti industri padat karya dan perikanan, khususnya udang. Bahkan, Pemerintah sudah melakukan mitigasi dampak penerapan tarif resiprokal terhadap industri padat karya.
“Kami sedang mempelajari langkah-langkah spesifik yang bisa dilakukan untuk sektor-sektor terdampak. Pemerintah juga membentuk satgas ketenagakerjaan dan PHK untuk mengantisipasi dampak langsung," ujarnya.
Baca juga : Menko Polkam Optimalkan Pengamanan Terbuka Dan Tertutup
Ia juga menyampaikan, dalam beberapa bulan terakhir, pelaku usaha khususnya di sektor garmen, alas kaki, dan industri padat karya, telah mencari lokasi produksi baru untuk menjaga akses ekspor ke pasar AS.
Pemerintah juga punya program revitalisasi padat karya untuk memfasilitasi investor agar rantai pasoknya lebih luas. Mengingat, saat ini Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan Korea, Jepang dan Australia.
Dalam konteks pasar global, Mari juga menegaskan pentingnya diversifikasi ekspor ke kawasan lain, termasuk Eropa, Asia Timur, dan ASEAN. Percepatan penyelesaian perjanjian dagang seperti EU–CEPA juga menjadi prioritas agar rantai pasok Indonesia lebih luas dan menguntungkan.
Baca juga : Idrus: Isu Matahari Kembar Menyesatkan & Tidak Berdasar
Menurutnya, jika Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang antara AS dan China, ada potensi untuk mengambil peran penting dalam rantai pasok global di sektor-sektor strategis seperti mineral kritis dan semikonduktor.
"Diversifikasi pasar itu sangat penting seperti di Eropa. Termasuk untuk percepatan penyelesaian EU-CEPA, tapi di luar itu tentunya mitra-mitra dagang yang lain perlu kita libatkan termasuk di kawasan kita sendiri seperti di ASEAN," pungkasnya. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya