Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
WNI di Kyrgyzstan Siap Siaga Bencana: Berlutut, Berlindung, Bertahan, Berdoa
Selasa, 2 September 2025 22:12 WIB
Seluruh Perwakilan RI di luar negeri, termasuk KBRI Tashkent, merupakan ujung tombak pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Pelindungan WNI tidak melulu berupa penanganan kasus yang dialami Pekerja Migran Indonesia, tetapi juga pelindungan dalam berbagai situasi darurat, termasuk bencana alam.
“Pelindungan WNI juga tidak hanya bersifat reaktif dalam bentuk penanganan kasus, namun juga dilakukan upaya preventif antara lain berupa kampanye penyadaran publik,” tegas Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Tashkent, Bharata, saat membuka kegiatan sosialisasi tanggap bencana bagi WNI di Kyrgyzstan, di Bishkek, Ibu Kota Kyrgyzstan, 24 Agustus 2025. Sosialisasi tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI) dengan KBRI Tashkent.
Berdasarkan country risk disaster risk profile United Nation Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), negara yang terletak di kawasan pegunungan Tian Shan dan Pamir ini memiliki hazard & exposure index sebesar 7,3 atau termasuk kategori tinggi. “Ancaman bencana alam utama di Kyrgyzstan adalah gempa bumi, tanah longsor dan kebakaran hutan,” ungkap Kepala Markas Pusat PMI, Arifin Muh. Hadi, dalam pemaparannya.
Pria yang sempat mendapatkan amanat sebagai Kepala Operasi Respons pengungsi di Jalur Gaza ini juga menjelaskan bahwa Kyrgyzstan memiliki tingkat aktivitas seismik sedang. Berdasarkan data gempa sejak tahun 1900, rata-rata terjadi 994 gempa bumi di negara yang kerap dianggap sebagai Swissnya Asia Tengah. Gempa paling besar terjadi di kawasan Oblast Cuyskaya, berkekuatan 8,0 skala Richter pada 3 Januari 1911.
Paparan oleh Kepala Markas PMI Pusat Arifin M. Hadi (Foto: KBRI Tashkent)
Baca juga : Mendikdasmen Terima Penghargaan sebagai Menteri Pendukung Gerakan Zakat
“Gempa tidak mematikan. Yang mematikan adalah bangunan yang tidak tahan gempa dan warga tidak siap siaga gempa,” lanjut pria yang akrab disapa Arifin tersebut.
Untuk itu, kesadaran dan kesiapsiagaan para WNI di Kyrgyzstan atas risiko bencana perlu terus dibangun. Hasil survei di Jepang pasca-gempa Great Hansin tahun 1995 memperlihatkan bahwa faktor utama selamatnya korban bencana gempa adalah kesiapsiagaan diri sendiri (35 persen), dukungan keluarga (31,9 persen) dan dukungan teman atau tetangga (28,1 persen).
Arifin pun berbagi tips praktis untuk mengurangi risiko bencana gempa “Cukup dengan 3B, Berlutut, Berlindung dan Bertahan. Ditambah pula dengan banyak berdoa,” ucap pria yang banyak makan asam garam dalam sejumlah operasi tanggap bencana internasional, seperti di Haiti, Myanmar, Pakistan, Syria, Afganishtan, dan Nepal.
Hal lain adalah penataan rumah yang perlu memperhatikan risiko gempa. Antara lain menempatkan lemari sejajar dengan tempat tidur maupun pintu kamar, untuk mengurangi risiko jatuhnya lemari saat gempa yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun menutup akses keluar masuk ruangan.
Baca juga : PGN Gaspol Bentang Pipa, Menyambung Barat dan Timur Indonesia
Tips lain ialah menghindari menaruh barang besar dan berat di posisi yang tinggi. Selain itu disarankan untuk memilih meja yang memiliki konstruksi kuat. WNI juga direkomendasikan untuk mencari tahu tingkat ketahanan gempa bangunan tempat tinggalnya. “Jika perlu lakukan penguatan bangunan atau retrofitting,” tegas Kepala Markas Pusat PMI ini.
Pentingnya masyarakat aman & tangguh bencana (Foto: KBRI Tashkent)Kondisi ini berbeda dengan ancaman tanah longsor yang relatif lebih sulit dihindari. Menurut Arifin akses informasi dari instansi terkait di Kyrgyzstan dan kesiapsiagaan masing-masing WNI menjadi vital. Saat terjadi longsor, WNI diharapkan segera mengevakuasi diri dan menjauhi jalur longsor maupun daerah aliran sungai. Penggunaan helm juga penting sebagai alat pelindung dari longsoran puing.
Oleh karena itu sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana, Arifin menegaskan pentingnya bagi WNI untuk mempersiapkan nomor kontak penting, mengamankan dokumen dan barang berharga, maupun kotak emergensi dan persediaan makanan minuman, jika sewaktu-waktu perlu melakukan evakuasi. “Menyimpan peluit dalam dompet juga perlu dilakukan,” imbuhnya. Peluit sangat berguna untuk memudahkan memberikan sinyal kepada tim SAR. Peralatan lain yang juga perlu disiapkan ialah helm dan lampu senter.
Sosialisasi dihadiri 19 WNI yang menetap di Kyrgyzstan. (Foto: KBRI Tashkent)Arifin juga mengingatkan bahwa akses terhadap informasi terkait peringatan bencana dari instansi terkait di Kyrgyzstan wajib dipastikan. Demikian halnya dengan menjaga hubungan baik dan mengenal tetangga serta pemukiman sekitar. “Oleh karena itu WNI di Kyrgyzstan harus mengenal lebih dekat antar satu sama lain,” tambahnya.
Baca juga : Grab Pastikan Tidak Ada Rencana Merger Dengan GoTo
Kegiatan sosialisasi tersebut mendapat sambutan baik para WNI di Kyrgyzstan, terutama yang bermukim di Bishkek. Mayoritas dari mereka mengharapkan agar sosialisasi seperti ini dapat lebih sering dilakukan. KBRI Tashkent juga diharapkan untuk terus menyempurnakan layanan kepada WNI.
“Saya yakin semua WNI di sini mengakui bahwa layanan KBRI sudah sangat baik. Terlebih bagi saya yang sudah pernah tinggal di sejumlah negara lain. Jadi bisa membandingkan dengan Perwakilan Indonesia lainnya. Pada saat terjadi suatu permasalahan, respons yang diberikan selalu sangat cepat. Namun tentunya hal ini perlu terus ditingkatkan,” sebut Nurmahati, salah satu pinisepuh WNI di Kyrgyzstan.
Bharata
Staf KBRI Tashkent
Staf KBRI Tashkent
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya