Dark/Light Mode

Pasca Razia Pekerja Pabrik Baterai Hyundai-LG, Trump Takut Investor Kabur

Selasa, 16 September 2025 04:05 WIB
JADI BAHAN EJEKAN: Spanduk bergambar Presiden AS Donald Trump berseragam ICE dipasang 
di Bandara Incheon, Korea Selatan, untuk menyambut 316 pekerja korsel yang dideportasi dari 
Amerika Serikat pada 12 September 2025. (Foto Tangkapan Layar)
JADI BAHAN EJEKAN: Spanduk bergambar Presiden AS Donald Trump berseragam ICE dipasang di Bandara Incheon, Korea Selatan, untuk menyambut 316 pekerja korsel yang dideportasi dari Amerika Serikat pada 12 September 2025. (Foto Tangkapan Layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Usai merazia para pekerja di pabrik baterai Hyundai-LG pada 4 September lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang biasanya garang, kini malah ketar-ketir. Dia takut investor bakal kabur, gara-gara aparat Imigrasi main sikat.

Trump menegaskan, pemerintahannya memberi izin sementara bagi para ahli asing masuk ke AS. Alasannya, kehadiran pekerja asing juga bisa menjadi ajang transfer ilmu.

“Saya tidak berniat menakuti calon investor besar yang ingin masuk ke AS,” tulis Trump di akun Truth Social, Minggu (14/9/2025).

Politisi Partai Republik itu menjelaskan, Pemerintahnya memberikan izin sementara bagi para ahli asing membangun produk yang sangat kompleks.

Baca juga : 2 Lukisan Di Ruang Kerja Prabowo Bikin Macron Takjub, Istrinya Terpukau

“Mereka bisa membuat chip, semikonduktor, komputer, kapal, kereta api dan begitu banyak produk lain,” tulis Trump.

Menurutnya, pekerja AS akan belajar segala pembuatan produk rumit dari pekerja asing. Hingga akhirnya seluruh prosedur dikerjakan mandiri oleh pekerja AS.

“Karena pekerja kami dulu ahli. Sayangnya sekarang tidak,” keluh Trump. Dia yakin, dalam waktu singkat, para pekerja AS dapat mempelajarinya.

Pernyataan Trump itu dilontarkan kurang dari dua pekan setelah razia besar-besaran di pabrik baterai Hyundai-LG di Georgia, AS, pada 4 September lalu. Dalam operasi Imigrasi, sebanyak 475 pekerja asing diamankan.

Baca juga : Perjuangkan Hak Pekerja, Partai Buruh Bentuk KSP-PB

Dari jumlah itu, 316 orang di antaranya adalah tenaga kontrak asal Korea Selatan (Korsel). Petugas mengatakan, mayoritas pekerja Korsel yang ditangkap melanggar aturan Imigrasi, baik karena overstay maupun bekerja tanpa izin.

Razia ini disebut sebagai operasi di satu lokasi terbesar sejak Trump kembali menggencarkan kebijakan Imigrasi keras.

Meski AS memutuskan tidak mendeportasi, pemberitaan tentang pekerja yang diborgol dan dirantai saat penggerebekan bikin geger publik Korsel. Aksi protes pun pecah di Bandara Incheon, Korsel, pada 12 September lalu, saat 316 pekerja yang diamankan dipulangkan.

Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Korsel Park Yoon Joo mengatakan, insiden di Hyundai-LG harus jadi momentum memperkuat hubungan bilateral sekaligus membahas aturan visa baru untuk pekerja Korsel.

Baca juga : Soal Rencana Hadiah Jet Mewah Dari Qatar, Trump: Bodoh Kalau Tak Mau Terima

Senada dengan Park, Wakil Menlu AS Christopher Landau menyesalkan kejadian itu. Namun, dia mengusulkan agar peristiwa ini dijadikan titik balik untuk memperbaiki sistem dan memperkuat hubungan Korsel-AS.

Kini, Korsel mendesak adanya pedoman lebih jelas soal penggunaan visa bisnis. Bahkan mendorong dibuatnya kategori visa baru khusus tenaga profesional asal Korsel. Langkah ini dianggap penting untuk mendukung proyek investasi besar Hyundai-LG dan perusahaan Korsel lainnya di AS.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.