Dark/Light Mode

Pasca Kebakaran Di Apartemen Wang Fuk Court

Warga Hong Kong Desak Investigasi Transparan

Rabu, 3 Desember 2025 06:48 WIB
Kepala Eksekutif Daerah Adminstratif Khusus Hong Kong John Lee. (Foro Gov HK)
Kepala Eksekutif Daerah Adminstratif Khusus Hong Kong John Lee. (Foro Gov HK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebakaran yang terjadi di kompleks Apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong, menewaskan 151 orang hingga Selasa (2/12/2025). Warga mendesak mendesak dilakukan investigasi secara transparan.

Pemimpin Hong Kong John Lee menyatakan, komite independen yang dipimpin hakim akan dibentuk untuk menyelidiki penyebab kebakaran. Melansir Reuters, polisi telah menangkap 13 orang yang diduga menjadi tersangka dalam peristiwa tersebut pada Rabu (26/11/2025). Mereka dijerat dengan pasal pembunuhan tidak disengaja.

Sementara, badan anti-korupsi wilayah itu juga telah menangkap 12 orang terkait dugaan suap. Dugaan kasus suap yang dimaksud merujuk pada¬ penggunaan jaring plastik dan busa isolasi yang tidak memenuhi standar saat apartemen direnovasi.

“Untuk menghindari tragedi serupa di masa depan, saya akan membentuk komite independen yang dipimpin hakim untuk memeriksa alasan penyebab dan penyebaran cepat (kebakaran), serta isu terkait,” kata Lee yang juga menjabat Kepala Eksekutif Daerah Adminstratif Khusus Hong Kong.

Namun belum bisa dipastikan, apakah ada di antara tersangka yang terkait dua kasus itu sekaligus. Penyidik telah memeriksa semua menara yang terbakar, me-nemukan menemukan jenazah warga di lorong tangga dan atap, terjebak saat mencoba melarikan diri dari api. Sekitar 30 orang masih hilang.

Kelompok masyarakat di Hong Kong mendesak Pemerintah membuka informasi seluas-luasnya terkait penanganan bencana terbaru. Seruan ini muncul di tengah peringatan keras dari Beijing dan otoritas Hong Kong yang menegaskan bahwa upaya mempolitisasi tragedi akan dikenai hukuman berat.

Tuntutan transparansi semakin menguat setelah kabar penahanan seorang mahasiswa dari salah satu kelompok masyarakat mencuat. Dua orang lainnya dilaporkan tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran terkait provokasi.

Baca juga : PRT Dari Asia Terancam Dipulangkan & Jobless

Ketika dimintai tanggapan soal penahanan tersebut, Lee menegaskan, Pemerintah tidak akan berkompromi terhadap tindakan kriminal apa pun.

“Saya tidak akan mentoleransi kejahatan. Terutama yang memanfaatkan tragedi yang sedang kita hadapi,” ujarnya. Kendati begitu, Lee tidak memberikan komentar tentang kasus-kasus individual.

Langkah aparat keamanan itu memicu kritik dari organisasi hak asasi manusia internasional. Amnesty International dan Human Rights Watch, menyuarakan keprihatinan atas laporan penangkapan tersebut.

Amnesty International menyerukan Pemerintah Hong Kong mengutamakan penyelidikan transparan terkait penyebab kebakaran besar yang menimbulkan korban jiwa, alih-alih membungkam pihak yang mengajukan pertanyaan publik. Menurut organisasi itu, masyarakat berhak mengetahui detail penyebab tragedi.

Sementara, Kantor Keamanan Nasional China mengeluarkan pernyataan keras yang menyoroti potensi upaya memanfaatkan bencana sebagai alat politik. Mereka memperingatkan individu maupun kelompok yang mencoba membawa Hong Kong kembali ke situasi kacau seperti pada 2019, ketika gelombang protes menantang Beijing dan memicu krisis politik berkepanjangan.

Dalam pernyataannya, kantor tersebut menyebut adanya pihak yang berusaha “mengacaukan Hong Kong lewat bencana ini”.

“Tidak peduli metode apa yang digunakan, Anda pasti akan dimintai pertanggungjawaban dan dihukum dengan tegas pernyataan lembaga itu.”

Baca juga : Kemlu: WNI Korban Tewas Kebakaran Apartemen Hong Kong Bertambah Jadi 9 Orang

Di tengah meningkatnya ketegangan, Lee memastikan, pemilihan legislatif yang dijadwalkan Minggu (7/12/2025), akan berjalan sesuai rencana. Pemerintah menekankan, stabilitas sosial harus tetap dijaga, termasuk selama masa pemungutan suara.

WNI Di Hong Kong

Sebanyak 9 Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi korban tewas dalam kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court. Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Vahd Nabyl Mulachela mengungkapkan, terdapat sekitar 140 WNI yang tinggal di kompleks apartemen tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 100 WNI dipastikan selamat, 9 terverifikasi meninggal dunia, 1 dirawat di rumah sakit dan 30 lainnya masih dalam kategori unknown whereabouts.

Menurutnya, angka ini masih bisa berubah mengikuti perkembangan pencarian dan konfirmasi otoritas setempat.

“KJRI Hong Kong terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk melakukan upaya terbaik repatriasi jenazah dan pemenuhan hak-hak korban,” tegas Nabyl.

Ribuan warga hadir untuk memberi penghormatan kepada korban. Pencarian yang dilakukan setelahnya adalah untuk mencari jenazah yang paling rusak. Pihak berwenang setempat mengatakan, pencarian mungkin memakan waktu berminggu-minggu.

Gambar yang dibagikan polisi menunjukkan petugas mengenakan pakaian hazmat, masker wajah dan helm. Petugas memeriksa ruangan dengan dinding yang hangus dan furnitur yang hancur menjadi abu, serta berjalan melalui air yang digunakan untuk memadamkan api yang berkobar selama berhari-hari.

Baca juga : 2 WNI Tewas, 2 Luka-Luka Dalam Musibah Kebakaran Hebat Di Apartemen Hong Kong

Menurut data sensus, blok apartemen ini dihuni lebih dari 4.000 orang. Hampir 1.500 orang telah dipindahkan dari pusat evakuasi ke tempat tinggal sementara. Sebanyak 945 orang ditampung di asrama pemuda dan hotel, kata pihak berwenang.

Penyintas kebakaran yang selamat sekarang harus mencoba menata kembali kehidupan mereka. Banyak warga meninggalkan barang-barang mereka saat melarikan diri.

Pemerintah Hong Kong menawarkan dana darurat sebesar 10.000 dolar Hong Kong (sekitar Rp 21,3 juta) untuk setiap rumah tangga dan bantuan untuk pembuatan kartu identitas, paspor dan akta nikah baru.

 

Artikel ini telah dimuat di surat kabar Harian Rakyat Merdeka edisi 3 Desember 2025.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.