Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pasca Kebakaran Di Apartemen Wong Fuk Court
PRT Dari Asia Terancam Dipulangkan & Jobless
Selasa, 2 Desember 2025 06:22 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tragedi kebakaran Apartemen Wong Fuk Court di Hong Kong yang menewaskan 146 orang menyisakan ironi bagi para Pekerja Rumah Tangga (PRT) asal Asia Tenggara. Setelah berjibaku menyelamatkan majikan, banyak dari mereka terancam kehilangan pekerjaan.
Melansir New York Times (NYT), Senin (1/11/2025), sejumlah PRT khawatir harus pulang kampung. Pasalnya, aturan di Hong Kong menyebutkan, PRT wajib menemukan majikan baru dalam waktu dua minggu. Dan jika tidak, akan dipulangkan.
Diperkirakan ada 230 PRT dari negara-negara Asia Tenggara tinggal di kompleks Wong Fuk Court. Dari jumlah itu, sekitar 140 berasal dari Indonesia dan 90 dari Filipina. Hong Kong mempekerjakan sekitar 370.000 PRT asing, yang diwajibkan tinggal satu rumah dengan majikan.
Dilansir media ChosunBiz, para PRT ini adalah tulang punggung banyak keluarga Hong Kong. Mereka mengurus rumah, menjaga orang tua, hingga merawat anak.
Meski sering tidak terlihat, mereka memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat kota itu. Karena musibah kebakaran ini, banyak majikan kehilangan rumah atau anggota keluarga, sehingga tidak lagi mampu membayar gaji para PRT.
“Situasinya membuat banyak pekerja cemas kehilangan pekerjaan,” kata Sring Sringatin, Sekjen Serikat Pekerja Migran Indonesia.
Baca juga : Kemlu: WNI Korban Tewas Kebakaran Apartemen Hong Kong Bertambah Jadi 9 Orang
Kuku Susilawati (43), PRT asal Indonesia mengaku, majikannya tidak lagi membutuhkan jasanya setelah wanita yang dirawatnya dipindahkan ke panti jompo.
“Saya harus cepat cari majikan baru,” ucapnya.
Di tengah kekacauan akibat si jago merah yang mengamuk pada 26 November lalu, banyak PRT bertindak heroik. Sing Tao Daily memberitakan, seorang pekerja asal Filipina ditemukan selamat setelah berjam-jam terjebak bersama keluarga majikan sambil menggendong bayi berusia tiga bulan. Dia baru beberapa hari bekerja di Hong Kong dan kini dirawat intensif di rumah sakit.
Kisah lain datang dari Karen Dadap, PRT asal Filipina. Setelah menerima pesan singkat bahwa gedung sebelah terbakar, dia langsung membawa bocah lima tahun yang diasuhnya turun menyelamatkan diri.
“Saya tidak sempat memikirkan barang, paspor atau uang. Yang penting anaknya selamat,” ujarnya.
Sementara, Konsulat Filipina menyebut satu warganya meninggal dan tujuh masih hilang. Korban jiwa dari kalangan PRT asal Indonesia pun tidak sedikit. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menginformasikan, jumlah korban jiwa akibat kebakaran di sebuah gedung hunian di Hong Kong kini mencapai sembilan orang.
Baca juga : Mantan Wonderkid Barcelona Terancam Postingan Homo
Selain itu, Kemlu juga melaporkan bahwa tiga orang lainnya mengalami luka-luka. Data korban insiden kebakaran dari Hong Kong Police Force sampai hari Minggu (30/11/2025) pukul 12.20 waktu setempat, jumlah WNI korban meninggal dunia bertambah dua orang dan korban luka-luka bertambah satu orang, demikian pernyataan resmi dari Kemlu.
Suasana duka terlihat di berbagai titik kumpul PRT pada hari Minggu. Lebih dari 1.000 perempuan Indonesia berkumpul di Victoria Park, Hong Kong Island, untuk mengenang para korban.
“Kami di sini bekerja jauh dari keluarga. Rasa duka ini kami rasakan bersama,” tutur Dwi Astuti, PRT WNI yang tinggal tak jauh dari lokasi kebakaran.
Penyebab kebakaran masih diselidiki. Kebakaran yang melahap tujuh dari delapan menara di Wang Fuk Court menewaskan sedikitnya 146 orang. Api dengan cepat menjalar ke luar gedung yang sedang menjalani renovasi.
Di tengah kemarahan publik terkait peringatan risiko kebakaran yang diabaikan dan dugaan praktik konstruksi tidak aman, Pemerintah Pusat di Beijing mengingatkan akan menindak setiap aksi protes yang dianggap bermuatan “Anti China”.
Kebakaran ini menjadi yang paling mematikan sejak 1948, ketika 176 orang tewas dalam insiden gudang terbakar. Situasi tersebut membuat kota itu terguncang, terlebih pemilihan legislatif akan digelar akhir pekan ini.
Baca juga : Tes Kemampuan Akademik (TKA) Dan Masa Depan Pendidikan Kita
Sebanyak 11 orang telah ditangkap terkait dugaan korupsi dan penggunaan material bangunan tidak sesuai standar selama proses renovasi. Saat peristiwa terjadi, gedung terbungkus jaring hijau, perancah bambu, serta lapisan busa insulasi. Otoritas juga menyebut sistem alarm kebakaran di kompleks tersebut tidak berfungsi dengan baik.
Posko Darurat KJRI
Sementara, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong menyatakan bahwa mereka telah dan akan terus melakukan penanganan bagi WNI/PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang terkena dampak. Termasuk berkoordinasi dengan Pemerintah Hong Kong untuk mendapatkan akses informasi mengenai WNI/PMI yang terdampak.
Membuka posko kedaruratan pada gedung KJRI Hong Kong sejak Rabu malam 26 November 2025, guna pengumpulan informasi, serta antisipasi WNI/PMI terdampak yang mengungsi, ungkap KJRI Hong Kong pada Sabtu (29/11).
Setelah memperoleh izin dari otoritas setempat, KJRI mengirimkan tim ke lapangan pada Kamis pagi 27 November 2025 untuk melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap WNI/PMI yang terkena dampak, serta mendistribusikan bantuan logistik yang dibutuhkan, seperti makanan, minuman, dan sanitary pack.
Selanjutnya, mereka mendirikan posko kedaruratan di Tai Po Community setelah mendapatkan clearance dari Pemerintah Hong Kong dan Tai Po District Office pada Jumat pagi 28 November 2025. Tujuannya, untuk identifikasi dan verifikasi WNI/PMI yang terdampak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya