Dark/Light Mode

Kampus Dan Pusat Riset Lumpuh Pasca Dibom AS-Israel

Menristek Iran: Dunia Kembali Ke Zaman Batu

Senin, 6 April 2026 06:10 WIB
Institut Penelitian Laser dan Plasma Universitas Shahid Beheshti di Evin, utara Teheran, Iran, tampak hancur dalam serangan udara AS dan Israel, Jumat (3/4/2026). Foto: Maziar Motamedi/Al Jazeera
Institut Penelitian Laser dan Plasma Universitas Shahid Beheshti di Evin, utara Teheran, Iran, tampak hancur dalam serangan udara AS dan Israel, Jumat (3/4/2026). Foto: Maziar Motamedi/Al Jazeera

RM.id  Rakyat Merdeka - Suasana sunyi menyelimuti Kompleks Universitas Shahid Beheshti di Teheran utara, Iran. Bangunan yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas ilmiah itu kini berubah menjadi puing setelah dihantam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Salah satu yang paling parah terdampak adalah Institut Riset Laser dan Plasma yang diserang pada Jumat (3/4/2026). Serangan ini menambah daftar panjang fasilitas sipil yang terdampak dalam perang antara AS dan Israel melawan Iran.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sejak konflik pecah, Pemerintah Iran telah memindahkan seluruh kegiatan perkuliahan ke sistem daring.

Asrama mahasiswa di sekitar lokasi hanya mengalami kerusakan ringan. Dalam pernyataan resminya, pihak universitas mengecam keras serangan tersebut.

“Tindakan permusuhan ini tidak hanya menargetkan keamanan akademisi dan lingkungan ilmiah negara, tapi juga menjadi serangan terhadap akal, penelitian dan kebebasan berpikir,” tulis pihak kampus.

Mengutip laporan Al-Jazeera, Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran Hossein Simaei Saraf mengungkapkan bahwa dampak serangan tidak terbatas pada satu kampus saja.

“Sejauh ini, setidaknya 30 universitas telah terdampak sejak perang dimulai pada 28 Februari,” ujarnya saat meninjau lokasi, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, para ilmuwan Iran telah lama menjadi target. Bahkan, beberapa profesor kembali menjadi korban dalam konflik terbaru.

“Menyerang universitas dan pusat riset berarti membawa dunia kembali ke Zaman Batu,” tegasnya.

Serangan juga menyasar Universitas Sains dan Teknologi Teheran. Salah satu pusat risetnya hancur, sementara beberapa departemen lain mengalami kerusakan. Fasilitas tersebut diketahui terlibat dalam pengembangan satelit domestik.

Baca juga : Vicky Shu Berhasil Diet, Turun 10 Kg

Tak hanya itu, Institut Pasteur di pusat Kota Teheran yang telah berdiri lebih dari satu abad turut terdampak. Lembaga ini berperan penting dalam penelitian penyakit menular serta produksi vaksin.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk serangan tersebut. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan keprihatinannya.

Menurutnya, layanan kesehatan tidak dapat dilanjutkan meski tidak ada korban jiwa.

“Institut tersebut mengalami kerusakan signifikan dan tidak dapat melanjutkan layanan kesehatan,” ujarnya.

Menurut WHO, lebih dari 20 fasilitas kesehatan telah menjadi sasaran sejak awal Maret. Salah satunya adalah Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina yang mengalami kerusakan berat.

Selain itu, serangan juga menyasar sektor ekonomi Iran. Kota industri Mahshahr menjadi target pemboman besar yang merusak sejumlah kilang minyak. Sedikitnya lima orang dilaporkan terluka.

Institut Penelitian Laser dan Plasma Universitas Shahid Beheshti di Evin, utara Teheran, Iran, tampak hancur dalam serangan udara AS dan Israel, Jumat (3/4/2026).

Alat pengukur suara yang disebut sound level meter atau decibel meter.

Senin Pon

• 6 April 2026

Baca juga : Top, Prabowo Bawa Oleh-oleh Rp 574 T

• 18 Syawal 1447 H

• 18 Sawal 1959

Duta Besar Indonesia untuk China Djauhari Oratmangun Dampingi Menteri Maman, Dorong Penguatan UMKM

Foto Maziar Motamedi/Al Jazeera

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengklaim keberhasilan militernya.

“Kami telah menghancurkan 70 persen kapasitas produksi baja Iran,” katanya.

Serangan lain menghantam jembatan B1 di dekat Teheran. Padahal, jembatan gantung setinggi 136 meter itu belum sempat diresmikan.

Serangan tersebut menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai lebih dari 90 lainnya. Sebagian besar korban merupakan warga sipil yang tengah merayakan Sizdah Bedar, yaitu Hari Alam dalam kalender Persia.

Seorang pejabat AS mengatakan, jembatan itu menjadi target karena diduga digunakan untuk kepentingan militer.

Terpisah, Presiden AS Donald Trump merespons dengan nada ancaman. “Akan ada lebih banyak lagi yang menyusul,” ancamnya, usai merilis video runtuhnya jembatan tersebut.

Baca juga : 3 TNI Gugur Di Lebanon, RI Kebut Pemulangan Jenazah

Trump juga memberikan ultimatum kepada Iran membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, dia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air yang secara hukum internasional tergolong sebagai objek sipil.

Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan sikap mereka. IRGC akan meningkatkan serangan balasan di kawasan.

Serangan juga dilaporkan terjadi di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Meski reaktor utama tidak terkena, satu orang penjaga tewas dan bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan.

Gelombang serangan ini menuai kecaman luas. Lebih dari 100 pakar hukum di AS menyatakan kekhawatiran serius.

“Serangan terhadap warga sipil menimbulkan potensi pelanggaran hukum hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional,” tulis mereka.

Di tengah konflik yang terus memanas, kampus-kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar dan penelitian, kini berubah menjadi saksi bisu kehancuran. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 6 April 2026 dengan judul "Kampus Dan Pusat Riset Lumpuh Pasca Dibom AS-Israel Menristek Iran: Dunia Kembali Ke Zaman Batu"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.