Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Antisipasi Fiskal dan Moneter ASEAN+3 Hadapi Dampak Eskalasi Timur Tengah
Kamis, 7 Mei 2026 20:09 WIB
Dalam pertemuan ASEAN+3 Finance Ministers and Central Bank Governors' Meeting (AFMGM+3) ke-29, Minggu (3/5/2026), Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara anggota ASEAN bersama dengan Jepang, Korea, dan Republik Rakyat China (RRC) menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kolaborasi dalam menjaga stabilitas perekonomian dan keuangan di kawasan dari tantangan global, utamanya eskalasi politik dan keamanan di Timur Tengah.
Kolaborasi tersebut diatur dalam “Updated Strategic Direction of the ASEAN+3 Finance Process”, yang ditetapkan dalam pertemuan yang dilaksanakan di Samarkand, Uzbekistan. Pertemuan AFMGM+3 ke-29 ini juga mengesahkan “Roadmap for the Discussion on the Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM)”, yang diharapkan mendorong inklusi Paid-in Capital (PIC) dalam CMIM, sebagai jaring pengaman keuangan kawasan sekaligus bagian penting dari Global Financial Safety Net (GFSN).
Pertemuan juga menyepakati pengembangan Asian Bond Market Initiatives (ABMI) menjadi Asian Bond and Financial Markets Initiative (ABFMI), dengan menjajaki berbagai berbagai opsi instrumen keuangan selain obligasi dengan tetap menjadikan pasar obligasi local currency sebagai jangkar inisiatif ini. Selain itu AFMGM+3 ke-29 ini memufakati Disaster Risk Financing Initiative (DRFI) Roadmap 2026-2028, sebagai upaya penguatan tanggap bencana di sektor fiskal maupun moneter.
Baca juga : Gelar Rakor Lintas Sektoral, Kapolri Siapkan Mitigasi Dampak Eskalasi Global
Sesi Foto Bersama AFMGM+3, Foto: ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO)Dalam forum yang dipimpin oleh Co-Chairs Filipina dan Jepang ini, juga disetujui Cross-border digital payments sebagai area kerja sama baru antar negara ASEAN+3. Selain itu dialog terkait kebijakan fiskal dan moneter antar negara juga terus didorong melalui penyelenggaraan Fiscal Exchange di tingkat Menteri Keuangan maupun Central Banking Dialogue yang diikuti gubernur bank sentral. Pertemuan ini juga mengapresiasi peran strategis ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) sebagai penasihat kebijakan regional dalam menjaga stabilitas ekonomi dan moneter.
AFMGM+3 adalah forum tahunan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 untuk membahas perkembangan ekonomi global dan regional serta memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan di kawasan. Pertemuan ini dihadiri oleh seluruh negara anggota ASEAN bersama Jepang, Korea Selatan, dan China, serta perwakilan AMRO, Asian Development Bank (ADB), Sekretariat ASEAN, dan International Monetary Fund (IMF). Pertemuan tahun ini juga diikuti Timor-Leste yang mulai bergabung dalam ASEAN.
Dubes RI Siti Ruhaini Dzuhayatin dan Direktur Kerjasama Regional dan Bilateral Kemenkeu RI Yogi Rahmayanti, dalam AFMGM+3 Fiscal Exchange, Samarkand, 3 Mei 2026. Foto: KBRI Tashkent
Baca juga : Timnas Futsal Indonesia Siap Hadapi Malaysia
Delegasi Indonesia dalam AFMGM+3 kali ini dipimpin oleh Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin, yang mewakili Menteri Keuangan dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta, yang hadir mewakili Gubernur BI. Dubes Ruhaini antara lain menyampaikan, “Indonesia terus mengupayakan upaya reformasi pengelolaan keuangan sektor publik, melalui penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja yang didukung dengan upaya transformasi digital sebagai game changer peningkatan disiplin fiskal, transparansi dan akuntabilitas”.
Dubes Ruhaini juga mengingatkan tantangan dalam penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja bukan hanya menjaga disiplin fiskal, melainkan juga perlunya upaya untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran pemerintah harus dapat menghasilkan impact yang optimal.
Di sisi lain Dubes Ruhaini juga menyatakan, “Ke depan kebijakan moneter dan fiskal perlu mempertimbangkan aspek sosiologi masing-masing negara. Sebagaimana kita pahami bersama, Indonesia memiliki konsep ekonomi kerakyatan yang telah mandarah daging. Ekonomi kerakyatan kita berbasis pada prinsip kekeluargaan dan gotong royong, yang tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu kunci sukses kita dalam menghadapi berbagai goncangan ekonomi, termasuk saat krisis moneter di tahun 1998”.
Bharata
Fungsi Ekonomi KBRI Tashkent
Fungsi Ekonomi KBRI Tashkent
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya