Dark/Light Mode

Senat Filipina Mencekam, Tujuh Tembakan Iringi Pengepungan Senator Buron ICC

Kamis, 14 Mei 2026 05:35 WIB
Ronald Dela Rosa berbicara kepada media di Gedung Senat Filipina, Rabu (13/5/2026), untuk menanggapi isu-isu terkini terkait surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). (Foto Maria Tan/ABS-CBN News)
Ronald Dela Rosa berbicara kepada media di Gedung Senat Filipina, Rabu (13/5/2026), untuk menanggapi isu-isu terkini terkait surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). (Foto Maria Tan/ABS-CBN News)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketegangan politik melanda Filipina setelah rentetan tembakan terdengar di dalam kompleks Senat di Pasay City, Metro Manila, Rabu (13/5/2926). Insiden itu di tengah upaya pengepungan Senator Ronald dela Rosa (Bato), mantan Kepala Kepolisian Filipina yang menjadi buron Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Hingga Kamis (14/5/2026) pagi, Dela Rosa belum berhasil ditangkap. Dia dalam kondisi sehat, dan masih berada di bawah perlindungan otoritas Senat.

Dikutip dari GMA News, Kamis (14/5/2026), sedikitnya tujuh letusan senjata terdengar di kompleks Senat Filipina pada Rabu malam waktu setempat. Gedung parlemen telah diberlakukan lockdown terkait rencana penangkapan seseorang.

Ketegangan berlangsung lebih dari dua jam. Sekitar pukul 19.30 waktu setempat, Pelaksana Tugas Senate Sergeant-at-Arms sekaligus purnawirawan Mayor Jenderal Polisi Mao Aplasca mengumumkan bahwa pihaknya akan melakukan penangkapan, namun menolak mengungkap identitas target.

“Kami akan menangkap seseorang. Mohon kosongkan area,” ujar Aplasca kepada wartawan.

Menyusul peningkatan status siaga, Office of the Senate Sergeant-at-Arms (OSAA), satuan pengamanan Senat Filipina, meminta seluruh orang yang hendak keluar agar segera meninggalkan gedung Senat. Pintu gulung gedung parlemen kemudian ditutup rapat.

Personel OSAA tampak mengenakan perlengkapan tempur lengkap dan rompi antipeluru. Pasukan berseragam militer juga dikerahkan ke lokasi untuk memperketat pengamanan.

Di tengah situasi tersebut, Dela Rosa terlihat bersama stafnya menaiki lift setelah keluar dari kantor Presiden Senat Alan Peter Cayetano.

Baca juga : Menperin Dan Menkeu Percepat Pertumbuhan Industri Manufaktur

Tak lama kemudian, wartawan mendengar suara mirip alat gerinda dari salah satu pintu di area Senat yang berbatasan dengan gedung Government Service Insurance System (GSIS).

OSAA menerima informasi adanya dugaan upaya penyusupan oleh orang tak dikenal ke dalam gedung parlemen.

Pada saat bersamaan, staf Sekretaris Jenderal DPR Filipina Cheloy Garafil tiba di Senat untuk menyerahkan dokumen pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte.

Beberapa saat kemudian, tujuh suara tembakan terdengar dari dalam kompleks Senat. Rekaman video dari lantai dua gedung menunjukkan banyak orang berlarian mencari perlindungan.

Dalam siaran langsung di Facebook, Peter Cayetano membenarkan adanya insiden penembakan, namun belum diketahui siapa pelaku penembakan tersebut.

“Kami mendengar ada dugaan personel NBI yang ingin masuk. Ada yang mengebor pintu atau dinding dari sisi GSIS,” kata Peter Cayetano.

Cayetano bahkan menyebut Senat Filipina “diduga sedang diserang”.

Senator Pia Cayetano dan Senator Loren Legarda kemudian menghubungi Direktur National Bureau of Investigation (NBI) Melvin Matibag untuk meminta bantuan.

Baca juga : Rina Nose, Tak Ingin Punya Anak

Sementara itu, Senator Vicente Sotto III mengaku kecewa terhadap aparat keamanan yang dinilai gagal mengendalikan massa di luar gedung Senat. Ia mengatakan mobilnya dipukuli dan dilempari botol kosong saat hendak keluar dari kompleks parlemen.

Senator Imee Marcos juga mengecam situasi tersebut. Menurut dia, upaya penangkapan terhadap Senator Dela Rosa tidak seharusnya membahayakan institusi Senat maupun para senator.

Terpisah, Menteri Dalam Negeri Filipina Jonvic Remulla memastikan Dela Rosa berada dalam kondisi aman dan tidak ada surat perintah penangkapan yang akan dijalankan malam itu.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. juga menegaskan tidak ada instruksi untuk menangkap Dela Rosa yang tengah menghadapi surat perintah penangkapan ICC terkait perang narkoba era pemerintahan Rodrigo Duterte.

Insiden di Senat bermula Senin (11/5/2026), ketika ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan Dela Rosa. Dia berusaha kabur

Akar Kasus: Perang Narkoba yang Berdarah

Dela Rosa diburu ICC atas perannya sebagai arsitek utama kampanye hitam Perang Melawan Narkoba (2016-2018) di era Presiden Rodrigo Duterte. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan ribuan warga sipil kelas pekerja dan pengguna narkotika tingkat rendah tanpa proses peradilan.

Duterte berhasil ditangkap ICC pada Maret 2025 dan saat ini tengah mendekam di sel tahanan Den Haag, Belanda, menunggu persidangan.

Langkah penangkapan Dela Rosa ini dipandang sebagai kelanjutan pembersihan sisa-sisa kekuatan politik Duterte oleh Presiden Marcos, dan memperlihatkan semakin dalamnya konflik politik antara keluarga Duterte dan Marcos Jr.

Baca juga : Seruan Tobat Ekologis Menggema dari Gunung Padang di Hari Bumi

Padahal, Marcos Jr. dan Sara Duterte sebelumnya merupakan pasangan politik yang memenangkan pemilu 2022 melalui koalisi besar. Namun hubungan keduanya memburuk dalam waktu singkat dan berkembang menjadi konflik terbuka, terutama setelah Duterte ditangkap di Manila tahun lalu sebelum diterbangkan ke Den Haag untuk menghadapi proses hukum ICC.

Sara Duterte menghadapi tuduhan penyalahgunaan dana publik, akumulasi kekayaan yang tak transparan, serta ancaman terhadap keselamatan presiden dan ibu negara Filipina. Apabila dinyatakan bersalah, Sara Duterte dapat dilarang menduduki jabatan publik, sekaligus menghancurkan peluangnya maju dalam Pemilihan Presiden Filipina 2028.

Namun posisi keluarga Duterte di senat dinilai masih cukup kuat. Sara Duterte hanya membutuhkan dukungan sembilan senator untuk menghindari pemakzulan.

Analis politik dari University of the Philippines Diliman, Jean Encinas-Franco, mengatakan dominasi politik keluarga Duterte di senat dapat memengaruhi jalannya persidangan. 

“Jika mereka memiliki mayoritas pendukung di senat, maka mereka bisa menentukan apakah sebagian bukti akan dimunculkan atau tidak dalam persidangan tersebut. Mereka juga bisa menentukan apakah saksi tertentu diizinkan hadir atau tidak,” ujarnya.

Di tengah tekanan hukum dan politik, Sara Duterte masih memimpin sejumlah survei opini publik nasional. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.