Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Trump Masih Terobsesi Mencaplok Greenland
PM Nielsen: Masa Depan Kami Bukan Urusan AS!
Rabu, 20 Mei 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah konflik Iran yang masih membara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum melupakan obsesinya untuk menguasai Greenland.
Selama empat bulan terakhir, AS diam-diam menggelar negosiasi dengan Greenland dan Denmark terkait masa depan pulau kaya mineral di kawasan Arktik itu.
Negosiasi awalnya untuk meredam ancaman Trump yang sebelumnya ingin mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer. Namun, para pemimpin Greenland kini justru khawatir karena proposal AS dinilai terlalu jauh mencampuri kedaulatan mereka.
Kekhawatiran mereka makin besar jika perang Iran mereda. Politisi Greenland takut perhatian Trump kembali tertuju penuh ke Arktik. Bahkan, sejumlah politisi mulai memberi tanda khusus di kalender mereka pada 14 Juni, hari ulang tahun Trump, karena khawatir dia bakal membuat manuver mengejutkan.
Washington saat ini tengah memburu akses lebih besar terhadap sumber daya alam Greenland. Pulau es itu diketahui menyimpan cadangan minyak, uranium, logam tanah jarang, dan mineral strategis lain yang sangat dibutuhkan industri teknologi, serta pertahanan modern.
Di saat bersamaan, Pentagon (Departemen Pertahanan AS) bergerak cepat memperluas jejak militernya di kawasan Arktik. Seorang perwira marinir AS telah dikirim ke Kota Narsarsuaq di Greenland selatan untuk memeriksa bandara peninggalan Perang Dunia II, pelabuhan, hingga lokasi potensial penempatan pasukan AS.
“Jika Amerika mendapatkan semua yang diinginkan, tidak akan pernah ada kemerdekaan yang nyata,” ujar anggota parlemen Greenland, Justus Hansen, dikutip dari New York Times, Senin (18/5/2026).
Jenderal Gregory M. Guillot mengatakan, Greenland akan menjadi bagian penting jaringan radar dan pangkalan militer Arktik milik AS yang terhubung dengan Alaska dan Kanada. AS juga membutuhkan pelabuhan laut dalam dan basis pasukan operasi khusus di wilayah tersebut.
Baca juga : Inka Andestha, Dipanggil Bebe Oleh Arhan
Rencana itu memanfaatkan pakta pertahanan tahun 1951 antara AS dan Denmark, ketika Greenland masih berstatus koloni Denmark. Kesepakatan lama itu kini menjadi dasar negosiasi.
Para pejabat Greenland dan Denmark berargumen, perjanjian tersebut memberi Washington DC kebebasan yang begitu besar untuk menempatkan pasukan di Greenland, sehingga tidak perlu mengambil alih pulau tersebut.
Dikutip New York Times, Senin (18/5/2026), para negosiator berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Trump, yang disebut mudah berubah pendirian.
Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Publik Global Dylan Johnson mengatakan, kekhawatiran keamanan nasional dan ekonomi yang menjadi alasan Trump menguasai Greenland, punya dasar kuat.
“Kami bernegosiasi agar kekhawatiran ini tidak jadi masalah permanen,” ucap Johnson.
Meski begitu, mayoritas warga Greenland tetap menolak menjadi bagian dari AS. Mereka memang membuka peluang penambahan pasukan AS, tetapi menolak intervensi politik maupun ekonomi yang terlalu dalam.
“Tidak ada yang adil dalam situasi ini. Pilihan terbaik bagi kami hanya tidak dijajah atau dikendalikan,” tegas Ketua Komite Luar Negeri Parlemen Greenland Pipaluk Lynge.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen.
Baca juga : Dimulai Bulan Depan, Jokowi Start Blusukan Dari NTT
Kekhawatiran Greenland juga datang dari arah lain. Jika perang di Iran dan Ukraina berakhir, Rusia diperkirakan kembali fokus memperkuat pengaruhnya di Arktik. Situasi itu membuat Greenland merasa terjepit di antara kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia.
“AS dan Rusia akan datang dari kedua sisi Greenland,” ujar mantan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt.
Perdana Menteri (PM) Jens-Frederik Nielsen menegaskan, Greenland tetap terbuka untuk bisnis dan investasi asing. Namun, dia memastikan aturan lingkungan hidup yang ketat tidak akan dikorbankan demi kepentingan ekonomi.
“Kami memiliki regulasi lingkungan yang sangat ketat dan akan tetap seperti itu,” ucap Nielsen.
“Yang jelas, Greenland harus memiliki keputusan terakhir dalam hal siapa yang akan diajak berbisnis,” imbuhnya.
Nielsen merupakan figur unik di tengah panasnya persaingan geopolitik Arktik. Sebelum menjadi PM pada usia 33 tahun, dia dikenal sebagai salah satu atlet bulu tangkis terbaik Greenland.
Sejak menjabat, Nielsen memilih mempererat hubungan dengan Denmark sebagai benteng menghadapi tekanan AS. Dia menegaskan, persoalan kemerdekaan Greenland harus diputuskan rakyatnya sendiri tanpa campur tangan negara lain.
“Masa depan Greenland bukan urusan Amerika atau siapa pun,” tegasnya.
Baca juga : Rupiah & IHSG Rontok, Purbaya Menepis Kekhawatiran
Dalam negosiasi terbaru, AS mendorong hak veto terhadap investasi asing agar Rusia maupun China tidak menguasai proyek strategis di Greenland. Namun, Greenland dan Denmark menolak jika Washington ikut menentukan keputusan investasi karena itu melanggar kedaulatan mereka.
Meski memiliki otonomi yang terus berkembang, Greenland belum memiliki kemampuan intelijen memadai untuk menyaring investor asing yang memiliki hubungan dengan Moskow atau Beijing. Karena itu, Denmark kemungkinan akan mengambil peran lebih besar dalam proses pengawasan investasi dengan melibatkan masukan dari AS.
Ironisnya, negosiasi yang awalnya disebut untuk memperkuat kedaulatan Greenland, justru berpotensi membuat Denmark semakin berpengaruh atas pulau raksasa di Arktik tersebut.
Duduk di kantornya di Nuuk, Nielsen tampak frustrasi menghadapi tekanan geopolitik yang makin membesar.
“Kami ingin semua ini segera berakhir. Ini situasi yang sangat aneh,” pungkasnya. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Rabu, 20 Mei 2026 dengan judul "Trump Masih Terobsesi Mencaplok Greenland PM Nielsen: Masa Depan Kami Bukan Urusan AS!"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya