Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pendidikan Vokasi Kunci Hadapi Era Global, PPIT Dorong Kerja Sama RI-Tiongkok
Minggu, 24 Mei 2026 13:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pendidikan vokasi dinilai menjadi jembatan strategis yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Penguatan pendidikan vokasi juga dianggap penting untuk menyiapkan generasi muda agar siap menghadapi perubahan global yang bergerak sangat cepat.
Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur dalam 2026 Annual Conference of the China-Indonesia Vocational Education Development Education Center di Yangzhou, Tiongkok, Minggu (24/5/2026).
Menurut Al Busyra, pendidikan vokasi tidak hanya membantu menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, tetapi juga mampu melahirkan inovasi baru yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor industri.
Baca juga : Integrasi CCTV Jakarta Diperkuat, DPRD DKI Dorong Sistem Keamanan Modern
“Pendidikan vokasi yang kuat dapat mengurangi pengangguran, meningkatkan produktivitas, dan membantu industri agar tetap kompetitif dalam menghadapi pasar global,” kata Al Busyra.
Mantan Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika itu menilai dunia saat ini tengah menghadapi perubahan besar akibat perkembangan ekonomi digital, transformasi industri, manufaktur modern, energi hijau, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Karena itu, kata dia, penyiapan sumber daya manusia (SDM) berkualitas menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Al Busyra menegaskan Indonesia tidak bisa berjalan sendiri dalam membangun kualitas SDM. Menurut dia, Indonesia perlu memperkuat kerja sama dengan negara-negara yang memiliki kapasitas dan pengalaman di bidang pendidikan vokasi dan pengembangan industri, termasuk Tiongkok.
Baca juga : Ciptakan Lingkungan Sehat, PKB Dorong Gerakan Pilah Sampah Nasional
“Untuk membangun sumber daya manusia, Indonesia tidak bisa sendiri. Indonesia perlu bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki kapasitas untuk itu, seperti Tiongkok,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok perlu diperluas, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga melibatkan sektor industri di kedua negara. “Karena itu, Indonesia dan Tiongkok perlu membangun kerja sama pendidikan dan juga dengan industri-industri yang ada di kedua negara tersebut,” tambahnya.
Konferensi tersebut menghadirkan sejumlah delegasi dari Indonesia. Di antaranya Sekjen PPIT Rudi Suwito, Wakil Sekjen PPIT Aswen S. Utomo, Ketua KADIN Jiangsu di Indonesia Jason Guo, Afriyani dari kantor KADIN Jiangsu Jakarta, Wakil Rektor Universitas Kristen Petra Surabaya Leenawaty Limantara, Wakil Rektor Universitas 17 Agustus Surabaya Supangat, serta Rektor Universitas Politeknik Sukabumi Nur Fauzi Soelaiman.
Baca juga : Diplomasi Tanpa Jarak Menlu RI Dan Singapura
Selain delegasi Indonesia, konferensi juga menghadirkan para pembicara dari berbagai perguruan tinggi di Tiongkok. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Lestari Puspitaningsih, yang baru dua bulan bertugas di Beijing, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.
Konferensi yang digelar China-Indonesia Vocational Education Development Research Center bersama Yangzhou Polytechnic Institute itu dihadiri sekitar 150 mahasiswa dan akademisi.
Saat ini terdapat sekitar 80 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di kampus tersebut. Jumlah itu menjadikan mahasiswa Indonesia sebagai mahasiswa asing terbanyak di Yangzhou Polytechnic Institute.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya