Dark/Light Mode

Jatuhkan Sanksi Baru Untuk Tekan Havana

Trump Bidik Dinasti Politik & Militer Kuba

Sabtu, 6 Juni 2026 04:20 WIB
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. (Foto Reuters)
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. (Foto Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan sanksi terbaru untuk Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel dan keluarganya. Ini merupakan langkah terbaru Washington untuk menekan Havana.

Sanksi ekonomi ini tidak hanya dijatuhkan untuk Diaz-Canel, tapi juga kepada keluarga dan anggota keluarga mantan Presiden Kuba Raul Castro.

Istri Diaz Canel, Lis Cuesta Peraza, dan anak tirinya Manuel Anido Cuesta, juga terkena dampak gelombang sanksi AS terbaru.

Tidak berhenti di situ saja, Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner, beberapa kementerian dan perusahaan milik negara Kuba juga mendapat sanksi dari Negeri Paman Sam.

Meskipun Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan AS sejak 1962, Presiden AS Donald Trump telah secara drastis meningkatkan tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Dengan memutus pasokan bahan bakar dan mengancam untuk mengambil alih pulau tersebut.

Washington menuding negara sosialis di Amerika Selatan itu berpotensi mengancam keamanan warga AS. Trump telah berulang kali menyatakan, Kuba bisa menjadi negara berikutnya yang akan jatuh.

Baca juga : Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Sebelumnya, AS juga sudah berhasil menggulinglan pemimpin sosialis Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun ini.

“Kami sedang mengurus Iran dan segera setelah itu selesai, kami hanya akan singgah sebentar,” seloroh Trump di hadapan jurnalis dikutip Reuters, Jumat (5/6/2026).

Washington telah menargetkan Diaz-Canel sejak tahun lalu. Dia dan keluarganya dilarang memasuki AS.

“Padahal kami hanya ingin Kuba menjadi negara yang dikelola dengan baik dan dapat memberi makan rakyatnya. Tetapi negara itu kelaparan, dan tidak memiliki energi, tidak memiliki minyak, tidak memiliki uang, tidak memiliki apa pun,” tegas Trump.

Diaz-Canel menyuarakan pendapatnya usai dijatuhi sanksi. Diaz-Canel menuduh Trump mencoba untuk memperkuat blokade atas Kuba.

“Kuba akan menentang agresivitas dan kebejatan pemerintah Yankee dan serangan imperialis,” cuit Diaz-Canel dalam postingan di X, Kamis (4/6/2026).

Baca juga : Ratusan Pelajar Banten Ikuti Retreat Ramadan Camp, Dapat Materi Kebangsaan

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengatakan, sanksi itu akan dihadapi dengan persatuan dan tekad yang lebih besar dari rakyat Kuba.

Embargo bahan bakar yang diberlakukan sejak Januari 2026 telah membuat Kuba kekurangan solar untuk generator yang digunakan untuk memperkuat pasokan listriknya yang semakin menipis.

Ini mengakibatkan pemadaman listrik hingga 22 jam sehari dan kekurangan air bersih. Semua transportasi juga hampir tidak ada yang beroperasi.

Kuba juga kekurangan makanan dan obat-obatan, sehingga bergantung pada pengiriman bantuan dari Meksiko dan China.

Sanksi baru ini semakin meningkatkan tekanan terhadap Pemerintah Kuba. Namun ini bukanlah kali pertama AS menjatuhkan sanksi terhadap para kepala negara atau pemerintahan serta kerabat mereka.

AS pernah menjatuhkan sanksi terhadap mantan Presiden Sudan Omar Bashir dan mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pada awal tahun 2000-an.

Baca juga : Sikap Indonesia Bela Palestina Tidak Berubah

Sanksi terhadap pemimpin negara bukan hal baru dalam kebijakan luar negeri AS. Langkah ini sebagai bagian dari strategi tekanan diplomatik dan ekonomi.

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.