Dark/Light Mode

AS-Iran Berdamai Di Swiss Besok

Selat Hormuz Kini Sudah Aman

Kamis, 18 Juni 2026 08:13 WIB
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)
Selat Hormuz. (Foto: Wikipedia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan diteken besok, Jumat (19/6/2026), di Swiss. Rencana perdamaian kedua negara tersebut membuat Selat Hormuz kini sudah aman. Kapal-kapal tanker minyak mulai bebas melintasi selat tersebut.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Federal Swiss (FDFA) Pierre-Alain Eitschinger mengatakan, pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan AS dan Iran, serta Pakistan dan Qatar yang berperan sebagai mediator.

“Pada tahap ini, penandatanganan dijadwalkan pada hari Jumat, 19 Juni, di Burgenstock, canton Nidwalden, Swiss,” kata Eitschinger seperti dikutip Anadolu Agency, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, lokasi penandatanganan diusulkan oleh Pakistan dan Qatar serta disepakati oleh AS dan Iran. Swiss sendiri bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan dukungan diplomatik dan teknis agar pertemuan dapat berlangsung.

Meski demikian, Swiss belum mengungkap isi nota kesepahaman maupun detail prosesi penandatanganan.

Sinyal positif perdamaian sudah terlihat dari aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker minyak yang selama ini menunggu di sekitar perairan Teluk mulai bergerak keluar menuju jalur perdagangan internasional.

Baca juga : IHSG-Rupiah Terus Menguat. Kepercayaan Investor Ke RI Semakin Tinggi

Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker Iran telah mengaktifkan kembali transponder mereka dan terlihat berlayar keluar dari Selat Hormuz maupun Teluk Oman. Dua di antaranya merupakan Very Large Crude Carrier (VLCC) yang mampu mengangkut hingga dua juta barel minyak mentah.

Sementara itu, TankerTrackers.com melaporkan sedikitnya tiga kapal yang sebelumnya menunggu di Pelabuhan Chabahar, tepat di luar Teluk Persia, juga telah meninggalkan posisinya.

“Setidaknya dua kapal tanker super VLCC milik National Iranian Tanker Company (NITC) bernama DIONA dan HERO2 telah keluar dari perimeter blokade Angkatan Laut AS dengan membawa total 3,8 juta barel minyak mentah Iran,” tulis TankerTrackers dalam unggahannya di platform X.

Lembaga pemantau tersebut juga menyebut satu kapal tanker lainnya telah keluar dari garis blokade dengan membawa sekitar satu juta barel minyak mentah Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, telah mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Ia juga memastikan, Selat Hormuz akan segera dibuka sepenuhnya setelah kesepakatan damai resmi berlaku.

Menurut Trump, perjanjian tersebut menjamin Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS disebut akan mengakhiri blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Sebagai imbalannya, Teheran membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Baca juga : Dihadiri 1 Menteri, 1 Kepala Badan, 1 Wamen, Diskusi Di UGM Ricuh

Namun, Trump belum mengungkap isi dokumen perjanjian tersebut. Hanya saja, berdasarkan dokumen yang beredar, terdapat 12 poin utama dalam kesepakatan antara AS dan Iran.

Di antaranya, penghentian seluruh pertempuran di kawasan, komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pencabutan bertahap blokade dan sanksi AS, hingga pembentukan dana rekonstruksi Iran senilai 300 miliar dolar AS.

Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi kembalinya ekspor minyak Iran ke pasar internasional melalui mekanisme pengecualian sanksi sementara.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi masih berat hati karena ada sejumlah isu yang mengganggu perhatian. Ia menegaskan, perdamaian tidak akan benar-benar terwujud apabila pasukan Israel masih bertahan di wilayah selatan Lebanon.

“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki selama perang ini, perang belum benar-benar berakhir,” tegas Araghchi.

Selain itu, Iran juga mengisyaratkan kemungkinan penerapan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Baca juga : MBG Dievaluasi Total

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menjelaskan, biaya tersebut bukan merupakan tarif transit, melainkan pembayaran atas berbagai layanan yang diberikan kepada kapal.

“Kami selalu menegaskan bahwa kami tidak berusaha memungut biaya transit, namun biaya untuk layanan navigasi, perlindungan lingkungan, asuransi kapal, dan layanan lain yang diperlukan akan dikenakan,” ujar Baghaei.

Ia menegaskan, Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi Iran dan pengelolaannya akan tetap mengacu pada ketentuan hukum internasional. Meski demikian, Baghaei menyebut pihaknya masih memerlukan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan pihak-pihak terkait.

“Begitu banyak layanan lain yang akan ditawarkan oleh Iran dan Oman, dan ini akan memerlukan biaya. Oleh karena itu, biayanya akan ada dan ini jelas,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.