Dark/Light Mode

Dihadiri 1 Menteri, 1 Kepala Badan, 1 Wamen, Diskusi Di UGM Ricuh

Rabu, 17 Juni 2026 08:02 WIB
Foto: Instagram Sudaryono
Foto: Instagram Sudaryono

RM.id  Rakyat Merdeka - Forum diskusi yang menghadirkan 1 menteri, 1 kepala badan, dan 1 wakil menteri (Wamen) di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada Senin (15/6/2026) malam, berakhir ricuh. Aksi saling lempar botol hingga penghadangan terhadap rombongan pejabat, mewarnai jalannya diskusi.

Acara diskusi yang dibungkus dengan nama "Kopdar" itu, dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Acara malam itu bertemakan 'Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia' digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Acara diskusi ini semula berjalan lancar. Ketiga narasumber bicara di atas panggung. Lalu, saat Budiman membahas soal eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto—bahwa jangan ada yang menyentuh Tiyo, sejumlah mahasiswa naik ke panggung.

Spanduk dibentangkan mulai dari "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Terpantau pula sempat terjadi pelemparan gelas air mineral.

Kericuhan tidak berhenti di dalam arena. Ratusan mahasiswa kemudian berkumpul di luar lokasi dan menghadang rombongan pejabat yang hendak meninggalkan kampus. Massa meminta para narasumber keluar dan berdialog secara langsung.

Nusron dan Sudaryono akhirnya menemui mahasiswa dengan duduk lesehan dan berdialog singkat di bundaran UGM. Sementara itu, Budiman tak tampak.

"Mana Budiman!?" teriak mahasiswa.

Nusron dan Sudaryono sempat berdebat dengan mahasiswa. Salah satunya ketika salah seorang mahasiswa bertanya soal ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dialihfungsikan sehingga masyarakat tergusur.

"Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?" kata mahasiswa.

Baca juga : Soal Kenaikan Harga BBM, Seskab: Pertamax RI Termurah Di Dunia

Nusron merespons dengan mengajak mahasiswa ke Papua. Namun, itu tak bikin puas mahasiswa. "Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana (Papua)," ujar Nusron.

Namun para mahasiswa itu tidak merespon dialog dan ajakan tersebut. Beberapa diantara mereka terus berteriak-teriak. Nusron dan Sudaryono akhirnya beranjak, karena situasi terlihat makin tidak kondusif.

Keesokan harinya, ketiga pejabat memberikan penjelasan soal diskusi yang berakhir ricuh. Nusron mengatakan, bersama Sudaryono dan Budiman datang ke UGM untuk berdialog langsung dengan sivitas akademika.

"Kami datang ada panitianya baik-baik, ada surat izin lengkap dari rektorat. Kita siap datang ke situ untuk berdialog dengan siapa saja, dengan civitas akademika, dengan topik apa pun," kata Nusron kepada wartawan.

Nusron menegaskan pemerintah tidak anti kritik. Bahkan, ia menyebut para pejabat yang hadir telah menyiapkan diri menerima berbagai kritik. "Kami siap untuk di-bully, siap dicaci maki di hadapan siapa pun, karena itulah konsekuensi daripada jabatan," sambungnya.

Menurut Nusron, diskusi awalnya berlangsung baik. Namun, situasi berubah karena ada sekelompok peserta yang tidak siap berdialog.

"Ada sekelompok orang yang a-demokratis, mengedepankan pemaksaan kehendak dan mengedepankan kekerasan, karena itu kami sangat sayangkan," klaim politisi Partai Golkar itu.

Senada, Sudaryono mengatakan bersama dua pejabat Kabinet Merah Putih datang ke UGM dengan tujuan berdialog secara terbuka dan demokratis dengan mahasiswa. "Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujarnya.

Ia mengatakan, sejak awal forum berlangsung, para narasumber membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah. "Ditanya apa saja tidak masalah. Dihadapi seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," tuturnya.

Baca juga : Program MBG Tidak Dihentikan Tapi Diperbaiki

Namun, di tengah jalannya forum, Sudaryono menyebut ada sekelompok peserta yang tidak menginginkan diskusi dilanjutkan sehingga suasana menjadi tidak kondusif.

"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.

Sudaryono mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron karena meyakini dialog merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

Namun, situasi disebut semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," jelasnya.

Sementara itu, Budiman Sudjatmiko mengaku menghormati aspirasi mahasiswa. Namun, ia mempertanyakan munculnya tuntutan yang menolak sejumlah program pemerintah yang ditujukan untuk kepentingan rakyat.

"Kami menghargai demonstrasi mahasiswa. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa ada aspirasi yang meminta menghentikan program koperasi dan MBG (Makan Bergizi Gratis)? Padahal itu program yang berpihak kepada rakyat," kata Budiman.

Menurut salah satu pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu, koperasi merupakan amanat konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 33 UUD 1945. Karena itu, pemerintah justru berkewajiban menjalankannya.

"Kalau ada kekurangan dalam pelaksanaan silakan dikritik. Tapi kalau meminta pemerintah tidak menjalankan koperasi, itu sama saja meminta pemerintah tidak menjalankan amanat konstitusi," ujarnya.

Baca juga : Dicalonkan Jadi Ketua Dewan Pembina, Jokowi Bakal Berjaket PSI?

Hal yang sama berlaku terhadap program MBG yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. "Kalau Presiden tidak menjalankan program yang menjadi mandat dan janjinya kepada rakyat, justru itu yang melanggar kewajiban politiknya," tegas Budiman.

Mantan politisi PDIP itu mengaku heran dengan munculnya tuntutan yang menurutnya tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi rakyat."Saya tidak mengatakan ditunggangi. Namun, jangan sampai masyarakat tidak sadar ada kelompok-kelompok yang anti-ekonomi rakyat. Mahasiswa jangan dibenturkan dengan ekonomi kerakyatan," ujarnya.

Budiman berjanji akan terus mendorong dialog terbuka antara pemerintah dan mahasiswa. "Kami ingin bertemu dan berdialog. Saya percaya mahasiswa banyak yang idealis. Jangan sampai idealisme mereka justru bertabrakan dengan agenda keadilan sosial dan ekonomi rakyat yang sedang diperjuangkan pemerintah," tandasnya.

Terpisah, Bintang Mesa, perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM yang turut terlibat dalam aksi, mengungkap alasan di balik penggerudukan terhadap Budiman cs. "Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat," ujar Mesa.

Mesa menilai gesekan antara mahasiswa dan pemerintah merupakan hal wajar dalam kehidupan demokrasi, terlebih ketika saluran penyampaian aspirasi tidak lagi efektif.

"Saat ini mereka tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki. Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah," katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.