Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Irak berusaha memediasi Iran dan Amerika Serikat (AS) agar segera menghentikan perang. Namun, Iran dengan tegas menolak damai dengan AS.
Iran menolak proposal gencatan senjata teranyar dari AS yang disampaikan lewat Perdana Menteri (PM) Irak Ali al-Zaidi, Kamis (23/7/2026). Kabar penolakan ini dilansir Anadolu Agency dan diungkap oleh surat kabar terkemuka AS, New York Times (NYT). NYT mengutip keterangan para pejabat Iran dan Irak yang mengetahui soal proposal gencatan senjata ini.
"PM Al-Zaidi membawa proposal gencatan senjata saat berkunjung ke Teheran, setelah sebelumnya bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih," tulis laporan NYT, Jumat (24/7/2026).
Belum jelas isi detail proposal gencatan senjata dari AS. Para pejabat Iran yang berbicara kepada NYT mengungkap, proposal terbaru ini satu-satunya usulan yang ditawarkan saat ini. Teheran, berdasar laporan NYT, menolak proposal gencatan senjata karena dianggap tidak menyelesaikan perselisihan soal kendali atas Selat Hormuz.
Dalam laporan yang sama, kedatangan PM Al-Zaidi itu menjadi kunjungan resmi pertamanya ke Iran sejak menjabat pada Mei lalu. Ia didampingi delegasi level tinggi setingkat menteri dan bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Selain bicara kerja sama bilateral lebih luas di bidang perdagangan, energi, transportasi, dan urusan regional, dari laporan itu, PM Al-Zaidi juga bertemu dengan negosiator utama dan ketua parlemen Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi.
Kantor PM Irak Ali al-Zaidi menyatakan, kunjungannya ke Teheran bertujuan mendorong perdamaian dan dialog di kawasan. Pemerintah Irak juga menegaskan tak akan mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan terhadap Iran.
Baca juga : Prabowo Jelaskan Perilaku Londo Ireng, Ada Kampanye Besar Goyahkan Indonesia
Saat ini, Presiden AS Donald Trump menggelar kembali operasi tempur berskala besar terhadap Iran. Ancaman ini dilontarkan di tengah situasi kedua negara yang kembali memanas.
"Saya sedang mempertimbangkan serangan masif. Lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya. Saya sudah hampir membuat keputusan. Kita sudah bersiap sepenuhnya untuk itu," kata Trump, seperti dilansir Aljazeera, Jumat (24/7/2026).
Trump mengakui keputusan serangan skala besar bakal membawa konsekuensi bagi AS. Karenanya, dia belum menetapkan tenggat waktu. Jika waktunya tiba, Israel akan kembali ambil bagian dalam serangan. "Israel akan bergabung dalam waktu dua menit jika saya meminta mereka," klaim Trump.
Departemen Luar Negeri (Deplu) AS sebelumnya telah mengeluarkan imbauan bagi warga Panas Sam di Timur Tegah untuk siaga menghadapi situasi perjalanan darurat. Peringatan yang dirilis Senin (20/7/2026) menyatakan bahaya meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dengan potensi eskalasi yang tak terduga.
"Warga Amerika di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan kembali perjalanan ke Timur Tengah dan melalui wilayah tersebut," kata Deplu AS dalam peringatannya, dilansir AFP, Selasa (21/7/2026).
Deplu AS juga memperingatkan kemungkinan meningkatnya serangan yang menargetkan fasilitas diplomatik AS dan lokasi yang terkait dengan AS di seluruh dunia.
Di luar itu, Trump juga menuding Iran bertanggung jawab atas serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Trump menegaskan, AS akan menuntut tanggung jawab. Trump mengancam akan melakukan balasan secara besar-besaran kepada Houthi dan Iran.
Baca juga : Terima Keluhan Asosiasi Pangan, Sidak SPPG & SD, Mas Dar Sat Set
"Jika mereka melakukan ini lagi, hukuman militer besar-besaran akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, Houthi," ancamnya.
Selain itu, Trump juga mengancam mulai menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk menanggung kerugian akibat serangan terhadap kapal dan kargo di kawasan Selat Hormuz. "Mulai saat ini, semua kerusakan yang terjadi pada kapal, kargo, atau apa pun yang terkait dengannya, akan dibayar dengan uang Iran yang dimiliki dan dikendalikan oleh Amerika Serikat," tulis Trump lewat media sosial Truth, dilansir AFP, Jumat (24/7/2026).
Militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) terus melancarkan gempuran udara ke wilayah Iran hingga Jumat (24/7/2026). Ini menjadi rangkaian serangan 13 hari berturut-turut untuk melumpuhkan kekuatan operasional Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus merespons ancaman Iran di Selat Hormuz.
Langkah serangan udara ini dibarengi dengan aksi militer ketat di jalur laut. Blokade maritim yang dijalankan CENTCOM diklaim berhasil menghentikan dan mengalihkan rute 12 kapal komersial, serta melumpuhkan satu kapal lainnya guna menutup akses keluar-masuk logistik di wilayah pesisir Iran.
Iran pun tak tinggal diam. IRGC membalas, meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di negara Teluk. Pintu diplomasi pun semakin tertutup rapat.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga negosiator utama Teheran, menyatakan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Ghalibaf memperingatkan AS, tidak akan ada negara di kawasan Timur Tengah yang dapat menjual minyak, jika Iran dihalangi untuk melakukannya. Ia juga memperingatkan tidak akan ada yang aman di kawasan, jika keamanan Teheran tidak terjamin.
Ghalibaf mengatakan, konflik ini telah menjadi situasi all or nothing, yang berarti semuanya atau tidak sama sekali. "Persamaan dalam perang ini sudah jelas, semuanya atau tidak sama sekali! Di kawasan saat kami tidak dapat menjual minyak, tidak akan ada pihak lain yang akan menjual minyak," tegas Ghalibaf dalam pernyataan terbaru via media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya, Kamis (23/7/2026),
Baca juga : Datang Setelah Jumatan, Febrie Diperiksa Tim 9 Di Gedung Utama Kejagung
Ghalibaf juga memperingatkan jika keamanan Iran tidak terjamin, maka tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman. "Selat Hormuz hanya akan aman jika tidak ada kehadiran pasukan Amerika," tegasnya.
Militer Iran pun menegaskan mulai memasuki perang fase baru melawan AS. Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan, operasi pembalasan Angkatan Bersenjata Iran akan berlanjut selama serangan AS terhadap infrastruktur dan daerah pesisir Iran masih berlangsung.
Akraminia menegaskan, arena peperangan fase baru bisa menjadi salah satu pilihan strategis Iran. Ditegaskan, Angkatan Darat Iran telah menggunakan masa gencatan senjata untuk meningkatkan kesiapan tempurnya.
"Yang penting adalah moral, motivasi, dan kemauan yang tinggi dari rekan-rekan saya di angkatan udara dan pertahanan udara untuk menghadapi agresi musuh. Untungnya, hari ini kita berada dalam kondisi kesiapan yang lebih baik daripada sebelumnya," ujar Akriminia, dikutip dari media Iran, Mehr News.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya