Dark/Light Mode

Opini

Mengenang Prof Arief Budiman: Disiden Keras Kepala Tapi Sentimentil

Jumat, 24 April 2020 19:50 WIB
M Wahid Supriyadi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia Merangkap Republik Belarus.
M Wahid Supriyadi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia Merangkap Republik Belarus.

 Sebelumnya 
Saya tanyakan apakah sebagai PNS dan diplomat saya boleh bergabung dengan Melbourne Discussion Group (MDG), forum diskusi mahasiwa dan masyarakat Indonesia di Melbourne yang didirikannya. Tanpa ragu Arief mempersilakan saya bergabung dalam setiap diskusi, baik yang diselengarakan di Melbourne University maupun sebagai anggota di email-group.

Banyak para aktivis Indonesia baik dari kalangan akademis maupun LSM di MDG  mencurigai saya sebagai mata-mata Pemerintah. Namun Prof Arief Budiman meyakinkan anggotanya bahwa saya bukanlah mata-mata, dan ia mengenal secara pribadi. Buat saya ini adalah forum yang bagus untuk saling berbagi informasi.

Baca juga : Wali Kota Arief Terima Penghargaan Kepala Daerah Pelopor RS Syariah

Pernah suatu ketika sekitar akhir 1999 saya diminta untuk menjadi salah satu narasumber pada acara seminar yang diselenggarakan gabungan berbagai LSM di Melbourne. Saya diminta untuk mewakili Pemerintah RI karena pembicara dari Pusat “berhalangan” hadir.

Sungguh suasana yang tidak nyaman karena temanya tentang Indonesia usai jatuhnya Presiden Soeharto yang diikuti dengan “jejak pendapat” Timtim dan rangkaian berbagai krisis di Indonesia. Image Indonesia di mata Australia, terutama di kalangan LSM dan media sangatlah tidak menguntungkan.

Baca juga : Jokowi Ajak Berdoa dan Kerja Keras Hadapi Pelambatan Ekonomi Dunia

Saya satu panel dengan Prof Arief Budiman, yang tentu saja sangat kritis terhadap berbagai kebijakan Pemerintah Indonesia. Hal positif yang menjadi senjata saya adalah kenyataan bahwa pada masa Presiden Habibie lah Pemerintah RI memutuskan untuk membebaskan para tahanan politik dalam jumlah yang sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Ini adalah bentuk nyata dari niat baik pemerintahan Habibie untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Saya harus mengakui masih banyak kekurangannnya, tetapi Indonesia telah memutuskan untuk menjadi sebuah negara demokrasi modern. 

Baca juga : Ketua KPU Arief Budiman Dipanggil KPK

Selesai seminar kita berjabat tangan, minum kopi dan berbicara santai. Ada satu hal yang sangat berkesan di hati saya. Terjadinya kerusuhan rasial Mei 1998 menyebabkan KJRI Melbourne menjadi berbagai target demonstrasi besar-besaran khususnya dari Melbourne Chinese Association. KJRI juga memiliki “unesay relations” dengan komunitas Indonesia keturunan Tionghoa di Melbourne.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.