Dark/Light Mode

Presiden AS Diomelin `Kapolres` Houston

Rabu, 3 Juni 2020 06:05 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Istimewa)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) sedang panas akibat gelombang ujuk rasa yang memprotes sikap rasisme atas tewasnya warga kulit hitam, George Floyd. Di tengah kondisi ini, bukannya ngademin situasi, Presiden Donald Trump malah mengeluarkan perintah pengerahan pasukan militer dan garda nasional untuk mengamankan massa. Hal ini membuat Kepala Kepolisian "Kapolres" Houston, Texas, Art Acevedo, geram. Dia pun tak sungkan “ngomelin” Trump.

Acevedo meminta Trump diam dan tidak memperkeruh kondisi sehingga membahayakan nyawa banyak orang. Menurutnya, Trump tidak pernah memberikan solusi yang terbaik untuk meredam aksi demonstrasi.

"Atas nama Kepala Polisi di negara ini, saya ingin mengatakan kepada Presiden Amerika, tolong, jangan banyak bicara kalau Anda tidak punya solusi yang konstruktif. Tutup mulut Anda karena omongan Anda hanya membahayakan pria dan wanita berusia produktif," ujarnya, kepada Presenter CNN TV, Senin (1/5).

Baca juga : Presiden dan Kabinetnya Tidak Gelar Open House Saat Lebaran

Dia mengatakan, Kepolisian akan bersikap persuasif dalam mengahadapi yang turun ke jalan. Dia pun meminta tak ada pihak yang mengacaukan kerjanya dalam memenangkan massa.

"Kami tidak mau arogan dalam menghadapi massa. Kami harus menenangkan hati dan pikiran massa. Saya tegaskan kami tidak ingin ada orang yang mengacaukan kerja kami. Kami juga tidak ingin masyarakat bingung membedakan antara kebaikan dan kelemahan," ungkapnya.

Sebagai orang nomor satu di institusi Kepolisian di Houston, Acevedo tidak ragu mengkritik kebijakan Trump. Dia lantas menjelaskan, yang dibutuhkan sekarang adalah sosok Presiden AS sebagai pemimpin. Dia meminta Trump bersikap layaknya seorang presiden. Rakyat AS butuh seorang pemimpin, bukan seorang aktor.

Baca juga : Presiden Minta Alat Kesehatan Tak Diekspor Semua

"Kami memilih atau tidak memilih, Anda tetap presiden kami. Dan sekarang waktunya bersikap seperti seorang presiden. Ini bukan Hollywood, ini kehidupan nyata," imbuhnya.

Acevedo mengaku, setiap tindakannya tentu akan diperhatikan kolega dan sesama kepala polisi di seluruh dunia. Makanya, dia tidak ingin ada warga AS yang terluka dalam aksi unjuk rasa. "Kami tidak ingin lepas tangan ketika kolega dan sesama kepala polisi menanyakan, kenapa anggota dan masyarakat AS ada yang terluka dalam demontrasi," ucapnya.

Selain itu, dia mengingatkan kepada massa agar fokus pada Pilpres AS yang rencananya digelar akhir tahun ini. Dia khawatir, para demonstran ini merupakan orang-orang yang enggan berpartisipasi dalam demokrasi Amerika.

Baca juga : Presiden Akhirnya Keluarkan Larangan Mudik

Pada Pilpres AS 2016, jumlah pemilih dari golongan kulit hitam hanya 59,6 persen. Angka tersebut turun untuk pertama kalinya dalam sejarah Pilpres AS. Padahal 8 tahun silam, tepatnya 2012, jumlah pemilih dari kulit hitam tercatat yang terbanyak, mencapai 66,6 persen.

Berkurangnya jumlah pemilih dari golongan kulit hitam bukan tanpa alasan. Pasalnya, terdapat 14 negara bagian Amerika yang menerapkan pembatasan suara baru sebelum waktu pemilihan. Termasuk membatasi pendaftaran pemilih, persyaratan ID pemilih yang ketat, dan membatasi pemilihan awal.

Setelah ditelisik hakim federal, dampak dari kebijakan ini menyebabkan kaum Republikan di negara bagian Carolina Utara menekan jumlah pemilih kulit hitam. "Anda (golongan kulit hitam) punya pilihan, angkat suara Anda di bilik suara dan terus bergotong royong serta berdamai. Jangan terfokus pada isu polisi arogan dan kriminal," seru Acevedo kepada pengunjuk rasa. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.