Dark/Light Mode

Kasus Kematian Warga Kulit Hitam

Musuh Trump Ambil Manisnya

Selasa, 9 Juni 2020 06:44 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Instagram)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus kematian George Floyd jadi amunisi bagi lawan politik Donald Trump, Joe Biden. Capres dari Partai Demokrat itu terus mencari dukungan dari warga Amerika yang kecewa atas meninggalnya warga kulit hitam tersebut.

Sejak pandemi Covid-19 melanda Amerika Serikat, Biden sudah getol melancarkan kritik pada Trump. Serangannya bertambah kencang saat gelombang unjuk rasa memprotes kematian Floyd.

“Donald Trump adalah orang yang terburuk untuk memimpin kita pada situasi ini,” cecar Biden melalui akun Twitter @JoeBiden, kemarin.

Baca juga : Marcus Rashford, Dukung Keadilan Buat Kulit Hitam

Banyak hal yang menjadi bahan kritikan Biden pada Trump. Misalnya gaya bicara Presiden dari Partai Republik itu. Menurutnya, Trump dianggap pemimpin yang kerap menyulut perpecahan di tengah demo anti rasisme. “Kita tidak bisa memberikannya empat tahun lagi di Gedung Putih,” pesan Biden.

Tak hanya gencar mengkritik Trump, mantan Wapres Barack Obama ini sibuk mencari dukungan. Biden berencana melakukan perjalanan ke Houston, Texas untuk bertemu dengan keluarga George Floyd. “Biden berharap untuk memberikan belasungkawa kepada keluarga,” kata ajudan Biden seperti dikutip LBC.

Sementara itu, dukungan politik terhadap Biden terus mengalir jelang pemilihan Presiden, November mendatang. Selain Barack Obama dan Hillary Clinton, mantan pesaing Biden di internal Demokrat juga ikut mendukung. Di antaranya, Senator Bernie Sanders, Senator Elizabeth Warren, dan Senator Amy Klobuchar juga kompak mendukung Biden. Sayangnya, belum jelas siapa calon wakil Biden. Namun, dia sempat berkata ingin punya wapres perempuan.

Baca juga : Sri Mul Banyak Tapinya

Kembali ke demo antirasisme. Kebijakan Trump memerintah militer menangani pendemo banyak menuai kritik. Bahkan, saat menyampaikan keinginan tersebut, dia mendapat penolakan dari Menteri Pertahanan Mark Esper. Eks Menteri Pertahanan James Mattis juga bersikap sama. Kata Mattis, instruksi Trump mengerahkan tentara bisa memecah negara.

Mantan Kepala Staf Trump, John Kelly yang juga pensiunan jenderal turut berkomentar. Kelly memandang kebijakan itu mengancam elektabilitasnya pada pilpres. Dia berpesan, agar para pemilih lebih teliti siapa calonnya, dan mencari tahu tentang karakter dan etika para calon.

Untuk diketahui, Amerika Serikat akan menggelar pemilu pada Selasa pertama bulan November. Selain presiden, Pemilu tersebut untuk memilih sepertiga senat dan 435 kursi di DPR yang kini dikuasai Partai Demokrat. Ada dua kandidat capres yang akan bertarung, yakni Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.