Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Donald Trump sedang berusaha mendongkrak elebtabilitasnya menghadapi Pilpres Amerika Serikat, 3 November nanti. Sabtu malam kemarin, Trump melakukan kampanye terbuka di Tusla, Oklahoma. Namun, massa yang datang sedikit. Kampanye pun sepi. Mendapati kenyataan ini, Trump cemberut.
Trump hadir di lokasi, Bank of Oklahoma Center, “disambut” banyak bangku kosong. Dari 19.000 kursi yang ada di ruangan, lebih dari separuhnya kosong. Seperti dikutip New York Times, jumlah peserta kampanye Trump itu hanya sekitar ribuan orang. Padahal, sebelumnya, tim sang Trump sesumbar ada 1 juta orang meminta tiket untuk menghadiri acara tersebut.
Atas hal ini, The Guardian memberitakan timbulnya keraguan Trump akan terpilih kembali. Pasalnya, untuk memenuhi arena berkapasitas 19.000 di kubu Republikan saja, Trum gagal.
Sepinya peserta kampanye Trump ini jadi ledekan kubu lawannya. “Sang kaisar tidak punya massa,” cuitan Dan Pfeiffer, mantan penasihat senior Barack Obama di akun Twitter @danpfeiffer
Baca juga : Gila, Kepala Polisi Houston Berani Nyuruh Trump Mingkem
Dari foto-foto yang viral di media sosial juga terlihat para pendukung Trump tidak menerapkan aturan jarak sosial. Mereka kebanyakan tidak mengenakan masker.
Di depan para pendukungnya yang minim, Trump tetap berusaha membakar semangat. “Kamu adalah pejuang!” kata Trump, menyapa pendukungnya, seperti dikutip CNN, kemarin. “Kami memiliki beberapa orang yang sangat jahat di luar. Mereka melakukan hal-hal buruk.”
Soal minimnya pendukung, Trump beralasan, ada pemberitaan negatif terkait enam tim kampanyenya yang dinyatakan positif Covid-19. Gara-gara pemberitaan itu, kata Trump, banyak warga takut menghadiri kampanyenya. Selain itu, kubu Trump juga menuding demonstrasi antirasial Black Lives Matter yang menghambat kedatangan pendukung Trump ke lokasi kampanye.
Dalam kampanye itu, Trump menyerukan hal yang kontroversial seperti meminta menurunkan tes Covid-19 dan mengutarakan ujaran rasisme. “Uji (Covid-19) seperti pedang bermata dua. Bagian jeleknya adalah ketika Anda melakukan tes, Anda akan menemukan semakin banyak orang (sakit), semakin banyak kasus. Maka, tolong turunkan jumlah tesnya,” ucapnya.
Baca juga : Pac Man Naik Ring November
Pidato itu mengejutkan mengingat AS mencatatkan kasus terbesar Covid-19 di dunia yang telah menelan 121.000 jiwa. Pakar kesehatan telah menegaskan bahwa tes menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi kasus, melakukan tracing, dan menyetop penyebaran virus. Pihak Trump mengungkapkan, jagoannya hanya bercanda.
Tak hanya itu, Trump juga mengungkapkan ujaran rasisme dengan melabeli nama Covid-19 menjadi ‘kung flu’. “Aku bisa menamainya kung flu. Aku bisa menyebutkan 19 versi nama lagi,” ungkap Trump.
Keputusan Trump mengadakan kampanye di Tulsa juga menuai kritikan tajam. Trump dianggap tidak mendukung gerakan Black Lives Matter karena sempat ingin menurunkan militer untuk membubarkan massa. Untungnya, Pentagon menolak. Tulsa pernah menjadi lokasi kekerasan rasial berdarah terhadap warga kulit hitam AS 100 tahun lalu.
Sebelumnya, Trump mencibir jumlah peserta kampanye capres rivalnya dari Partai Demokrat, Joe Biden. Biden, yang melaksanakan kampanye terbuka, pekan lalu. Saat itu, peserta kampanye Biden juga sepi. Trump mengejek Biden bahwa pendukungnya tidak antusias. “Kampanye Joe Biden. NOL antusiasme,” cuit Trump di Twitternya, Jumat (19/6).
Baca juga : PLN Siapkan 3 Fase Sambut Kondisi New Normal
Kampanye di Tusla digelar di tengah elektabilitas Trump yang berada di belakang Biden. Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos pertengahan Juni kemarin, elektabilitas Biden lebih tinggi 13 persen dibanding Trump. Dikutip dari The Hill, 48 persen responden dalam survei tersebut mengatakan akan memilih Biden. Sedangkan 35 persen mengatakan akan mendukung Trump.
Selain itu, 50 persen responden mengatakan mereka tidak setuju dengan kebijakan Trump menangani pandemi. Hanya 40 yang menyetujui terhadap krisis. Tak hanya itu. Menurut jajak pendapat terbaru, dukungan untuk Trump di kalangan Partai Republik juga telah menurun 13 poin sejak Maret lalu. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya