Dark/Light Mode

Hasil Referendum Amandemen Konstitusi

Warga Buka Peluang Putin Terus Berkuasa

Kamis, 2 Juli 2020 18:40 WIB
Proses penghitungan surat suara di Moskow, Rusia, Rabu (1/7). (Foto Reuters/Evgenia Novozhenina)
Proses penghitungan surat suara di Moskow, Rusia, Rabu (1/7). (Foto Reuters/Evgenia Novozhenina)

 Sebelumnya 
Meski Putin belum memberikan keputusan, para kritikus sudah yakin dia akan mencalonkan lagi. Tetapi, beberapa analis mengatakan dia mungkin ingin menjaga pilihannya terbuka untuk menghindari kepemimpinannya menjadi lamban.

Sekelompok kecil aktivis menggelar protes simbolis di Lapangan Merah pada Rabu sore waktu Rusia. Menggunakan tubuh mereka, para demonstran membentuk angka 2036 sebelum ditahan dengan cepat oleh polisi.

Mereka merasa amandemen konstitusi tidak membawa banyak perubahan, apalagi jika Putin kembali mencalonkan diri. "Kita perlu mengingatkan pihak berwenang bahwa kita ada dan bahwa ada puluhan juta dari kita yang tidak ingin Putin memerintah hingga 2036," kata Andrei Pivovarov, aktivis, mengatakan dalam sebuah video online.

Baca juga : Rusia Gelar Referendum, Putin Siap Berkuasa Sampai 2036

Berdasarkan data Komisi Pusat Pemilihan Umum, 78.03 persen warga Rusia telah menyatakan dukungannya dalam amendemen konstitusi berdasarkan data dari Komisi Pusat Pemilihan Umum (CEC) setelah menghitung 99.02 persen surat suara. Sementara dilansir The Associated Press, 21.16 persen pemilih menolak mendukung amendemen konstitusi. Jumlah pemilih 65 persen. 

Ada pun syarat amendemen konstitusi mulai berlaku jika didukung lebih dari setengah yang ikut serta. Selain itu, diketahui bahwa tidak ada jumlah pemilih minimum.

Sebelumnya pada Selasa, Putin menyeru pada warga Rusia jelang pemungutan suara, untuk memilih, mencatat bahwa amendemen akan disetujui hanya jika warga negara mendukung.

Baca juga : Di Tengah Pandemi, Kinerja IHSG Terus Menguat

Kepala Komisi Pemilu Pusat Ella Pamfilova memastikan voting selama sepakan ini dilakukan transparan. Selama pelaksanaan referendum, seluruh petugas juga menjaga integritas dan menjalankan protokol kesehatan untuk penyebaran virus Corona.

Sejak pertama kali diusulkan hingga akhirnya digelar, referendum untuk menentukan 'ya' atau 'tidak' atas perubahan konstitusi Rusia, menuai kontroversi. Kritikus Kremlin menuduh Putin ingin berkuasa selamanya di Rusia.

Sampai saat ini Putin adalah pemimpin terlama sepanjang sejarah Rusia modern. Mantan anggota KGB ini sudah dua dekade memimpin Rusia, baik sebagai presiden atau menjabat perdana menteri.

Baca juga : Usai Lebaran, Kemenhub Minta Stakeholder Antisipasi Lonjakan Penumpang di Bandara Adi Sumarmo

Tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny mengatakan referendum kali ini ilegal. Bahkan sudah dirancang untuk memenangkan Putin. "Kami tidak akan pernah mengakui hasil pemungutan suara ini," ucap Navalny seperti dikutip dari Reuters.[DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.