Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pengangguran Digaji Negara, Sungguh Senangnya Jadi Rakyat Prancis
Sabtu, 1 Agustus 2020 05:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Prancis sangat memanjakan rakyatnya. Di sana, pengangguran digaji langsung negara. Besarannya 200-300 euro atau sekitar Rp 3,4-Rp 5,2 juta per bulan. Enaknya jadi rakyat Prancis.
Soal gaji pengangguran tersebut disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Prancis, Arrmanatha Nasir, dalam program RM Insight, Kamis (30/7). Acara yang dipandu wartawan senior Rakyat Merdeka, Budi Rahman Hakim itu, mengangkat tema: Jungkir Balik Prancis Lawan Covid-19.
Pak Dubes mula-mula menceritakan kondisi Prancis sejak pandemi corona (Covid-19) menyerang hingga saat ini. Salah satu poinnya, Kota Mode itu kini berubah dari kota yang sibuk menjadi lengang. Tapi semakin romantis.
Apa sebabnya? Karena, beberapa destinasi wisata favorit, seperti Menara Eiffel yang biasanya ramai, sekarang sepi. "Eiffel tower jadi milik berdua bagi orang bercinta," canda Tata, sapaan akrab Arrmanatha, menghangatkan suasana diskusi sore itu.
Baca juga : Pengalaman Hidup Membuat Raline Shah Jadi Wanita Kuat
Ia tampil rapi dengan jas biru dongker berpadu dasi warna keemasan. Tata duduk diapit dua bendera. Sebelah kanan, bendera merah putih. Di kirinya, bendera Prancis. Meskipun terlihat serius memaparkan beberapa slide presentasi, Tata pintar menyisipkan beberapa joke ringannya.
"Sekarang curvanya mulai menurun," ujar Tata, menerangkan tingkat penyebaran Covid-19 di Prancis, ketika confinement diberlakukan.
Confinement adalah PSBB-nya Prancis. Ada beberapa fase confinement yang sudah dilalui. Pertama, masa confinement yang dimulai 17 Maret. Di fase ini, sekolah, universitas, kafe, dan lainnya ditutup. Ke mana-mana wajib bawa surat keterangan hingga larangan mudik. Bagi yang melanggar, didenda 135 euro atau Rp 2,3 juta. Jika pelanggaran berulang, dendanya berlipat-lipat. Hingga Rp 65,2 juta.
Penerapan denda ini, kata Tata, tak pandang bulu. Termasuk istri Dubes. "Pernah sekali istri saya kebetulan harus ke supermarket. Dia jalan, sekitar 500 meter dari rumah dia distop. Ditanya mana surat izinnya untuk keluar," kisah Tata.
Baca juga : Penyaluran Bansos Tepat Sasaran, Mensos Diingat Rakyat
"Dia bawa, tapi dia lupa tanda-tangan dan isi tanggal. Didenda 135 Euro, itu kan sekitar 2 juta ya. Jadi agak lumayan itu," sambungnya.
Pelonggaran secara bertahap dilakukan di deconfinement fase I, deconfinement fase II dan deconfinement fase III atau new normal saat ini. Kafe atau restoran sudah boleh buka sejak deconfinement fase II. Tapi jualannya hanya boleh di trotoar.
Dalam slide presentasinya, Tata menyampaikan bahwa Prancis mengalokasikan anggaran 560 miliar euro atau Rp 9,7 ribu triliun untuk penanganan corona. Dengan dana jumbo itu menjamin listrik dan gas tidak diputus kalau menunggak, hingga bisa memaksa pengusaha yang kehilangan pemasukan akibat corona untuk tidak memecat karyawannya.
Soal gaji pekerja, negara yang bayar 70 persennya. Pemerintah juga menjamin pinjaman hingga 300 miliar euro. Pemerintah juga tidak memutus listrik dan gas perusahaan dan fasilitas penundaan pajak.
Baca juga : Berat Badan Presiden Turun, Beban Hidup Rakyat Naik
Untuk UMKM, Pemerintah Prancis mengalokasikan 2 miliar euro atau sekitar Rp 34,7 triliun. Sedangkan untuk sektor pariwisata diguyur anggaran hingga 18 miliar euro atau sekitar Rp 313 triliun.
Soal pengangguran yang digaji negara baru mencuat ketika menjawab pertanyaan salah satu wartawan senior Rakyat Merdeka, Muhammad Rusmadi. Dia menanyakan tentang bantuan sosial atau bansos, sebagaimana program pemerintah Indonesia di tengah pandemi. "Bansos di sana (Prancis) ada gak sih pak?" tanya Rusmadi, sambil terkekeh.
Dengan tangkas Tata menjawab: Ada. "Tapi bukan dalam bentuk barang, dalam bentuk uang," jelas Tata. Ia mencontohkan bansos untuk pengangguran. Selama pandemi, mereka dijatah uang hingga Rp 5,2 juta perorang perbulan.
"Kalau gak salah itu, 200-300 euro per orang," ungkapnya. Bahkan biaya asrama Mahasiswa juga digratiskan oleh pemerintah selama pandemi corona. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya