Dark/Light Mode

Hizbullah: Ogah Tinggalkan Irak, Pasukan AS Bakal Terus Diserang

Selasa, 13 Oktober 2020 13:21 WIB
Brigade Hizbullah Irak. [Foto: parstoday]
Brigade Hizbullah Irak. [Foto: parstoday]

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah kelompok milisi di Irak sepakat menghentikan sementara serangan roket ke pasukan militer Amerika Serikat (AS). Syaratnya, pemerintah Irak memberikan jadwal penarikan pasukan AS dari negara itu.

Juru Bicara Kataib/Brigade Hizbullah, salah satu kelompok terkuat, Mohammed Mohi pada Ahad (11/10) lalu mengatakan, mereka tidak akan menentukan tenggat waktu penarikan pasukan AS. Namun jika pasukan AS masih enggan minggat, mereka harus bersiap menerima serangan yang lebih dahsyat.

"Berbagai faksi telah mengajukan gencatan senjata bersyarat. Itu mencakup semua faksi perlawanan (anti AS), termasuk mereka yang menargetkan pasukan AS," katanya.

Seperti dilansir kantor berita Reuters pada Senin (12/10), Mohi, mengatakan pemerintah Irak harus melaksanakan resolusi parlemen yang dibuat pada Januari lalu, yang meminta penarikan pasukan asing dari Irak.

Baca Juga : Kapolda Metro Siapkan Rompi Bagi Wartawan Peliput Aksi Unjuk Rasa

Dia menyebut, sudah ada beberapa kelompok milisi yang setuju ikut dalam penghentian serangan pada Sabtu (10/10). Namun, Mohi tidak menyebut kelompok mana saja yang sepakat dalam keputusan ini.

Keputusan parlemen muncul setelah serangan pesawat tak berawak AS di bandara Baghdad, yang menewaskan jenderal militer Iran, Qassem Soleimani dan Kepala Paramiliter Irak, Abu Mahdi al-Muhandis. Serangan itu menimbulkan kekhawatiran konfrontasi skala penuh Iran-AS di wilayah Irak.

Dia mengatakan, penembakan roket ke pasukan dan kompleks diplomatik AS hanyalah pesan, bahwa pasukan dan kehadiran AS tak lagi diterima. Selain itu, serangan yang lebih buruk juga bisa terjadi di waktu mendatang.

Amerika saat ini memang tengah mengurangi jumlah pasukan mereka di Irak. Di saat yang sama, negeri Paman Sam itu juga meminta, agar pasukan milisi memberi waktu dan tidak memprovokasi pemerintah Irak dan pasukan AS yang bertugas di sana.

Baca Juga : Ekonomi Lagi Sulit, Gapero Dan APTI Minta Tak Ada Kenaikan Cukai Rokok

Sebelumnya, Irak merupakan salah satu negara yang memiliki kerja sama yang cukup dekat dengan AS dan Iran. Kedua negara ini memberi bantuan pasukan militer untuk melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Namun, setelah aksi pembunuhan pemimpin militer Iran Qassem Soleimani di bandara Baghdad pada Januari lalu, membuat hubungan Iran dan AS meruncing. Irak khawatir negara mereka dijadikan medan perang oleh kedua pihak tersebut.

Brigade Hizbullah adalah kelompok paramiliter Syiah di Irak, yang merupakan bagian dari Popular Mobilization Forces (Pasukan Mobilisasi Rakyat) yang didukung Iran. Brigade ini sebenarnya ikut bertempur dalam perang saudara di Irak dan Suriah.

Selama Perang Irak, brigade ini juga berperang melawan pasukan koalisi. Kelompok ini dipimpin Abu Mahdi al-Muhandis, hingga dia tewas oleh serangan udara AS di Baghdad pada 3 Januari 2020. Setelah kematian al-Mohandes, dia digantikan oleh Abdul Aziz al-Muhammadawi (Abu Fadak).

Baca Juga : Tanggapi Demo UU Cipker, Hendardi: Ketertiban Sosial Harus Jadi Prioritas Bersama

Kataib Hizbullah secara resmi terdaftar sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat. [DAY]