Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Komentari Kunjungan Menlu AS Ke Indonesia
Dubes China: Amerika Provokator!
Kamis, 29 Oktober 2020 22:14 WIB
Sebelumnya
6. AS adalah faktor paling berbahaya bagi perdamaian di Laut China Selatan.
Xiao menuturkan, Laut China Selatan merupakan rumah bersama bagi negara-negara di kawasan. China telah bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk memelihara perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan, mendorong kerja sama dan perkembangan, serta menyelesaikan pertikaian dengan sebaik-baiknya melalui konsultasi dan negosiasi bersahabat.
Sedangkan AS, demi kepentingan hegemoni maritimnya, justru tidak pernah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), tetapi malah bertingkah sebagai pembela UNCLOS
Baca juga : Didatangi Menlu AS, Indonesia Mending Jangan Gampang Ge-Er
"Demi kepentingan geopolitiknya, AS juga terus-menerus memprovokasi konflik, memamerkan kekuatan militer, dan menciptakan ketegangan di Laut China Selatan. Ini adalah pendorong terbesar bagi militerisasi Laut China Selatan, dan merupakan faktor paling berbahaya yang menghancurkan perdamaian di Laut China Selatan," jelas Xiao.
7. AS adalah perusak kerja sama regional.
Xiao menilai, strategi Indo-Pasifik.yang dicetuskan AS penuh nuansa konfrontasi militer dan mentalitas Perang Dingin. Menurutnya, strategi ini merupakan upaya membangun sesuatu, yang disebut sebagai sebuah "NATO" baru versi kawasan Indo-Pasifik, yang akan dipimpin oleh AS sendiri.
Baca juga : Kunjungan Di Indonesia Dipadatin Sehari, Pompeo Terbang Ke Vietnam
"Langkah ini bertentangan dengan semangat kerja sama yang saling menguntungkan di Asia Timur, menyerang posisi sentral dan kepemimpinan ASEAN dalam urusan regional, sekaligus merusak momentum positif kerja sama Asia Timur yang telah berlangsung sekian lama," terang Xiao.
"Langkah yang membalikkan sejarah ini merupakan ancaman besar bagi perdamaian dan stabilitas kawasan," lanjutnya.
Roda sejarah terus berputar, tren sejarah terus bergulung. Perdamaian dan kemajuan dunia adalah kecenderungan yang tidak mungkin diputar mundur kembali.
Baca juga : Spectrum Sharing Mendesak Jika Indonesia Ingin Terapkan Industri 4.0
Karena itu, Xiao meminta agar sejumlah politisi AS harus menghentikan kebijakan keliru yang bermusuhan terhadap China.
Mereka diminta berhenti memprovokasi dan mengintervensi hubungan kerja sama bersahabat antara Chin dengan negara-negara lain di kawasan, berhenti mengganggu perdamaian dan stabilitas regional, serta berhenti menginjak-injak keadilan internasional.
"Kalau tidak, semua upaya mereka itu hanya akan berakhir dengan kegagalan total," pungkasnya. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya