Dark/Light Mode

Ngoceh Pemilu Curang, Trump Dikeroyok Anggota Partai Republik

Jumat, 6 Nopember 2020 10:54 WIB
Ngoceh Pemilu Curang, Trump Dikeroyok Anggota Partai Republik

RM.id  Rakyat Merdeka - Tak lama setelah petahana Donald Trump koar-koar menuding Pilpres 2020 penuh dengan kecurangan, anggota Partai Republik langsung turun gunung. Lewat cuitan Twitter, mereka menyesali pernyataan Trump yang kelewatan. Menuduh tanpa bukti.

Anggota Parlemen AS dari Partai Republik yang juga mantan veteran Air Force, Adam Kinzinger, misalnya. Ia langsung mendesak publik untuk bersabar menanti seluruh surat suara selesai dihitung. Serta memohon Trump untuk berhenti menyerang Pilpres.

Berita Terkait : Trump Seperti Dewa Mabok

"Kami ingin seluruh suara tuntas dihitung. Suara yang legal, tentunya. Tapi jika Anda memiliki kekhawatiran yang sah tentang penipuan, tunjukkan BUKTI dan bawa ke pengadilan. BERHENTILAH menyebarkan informasi yang salah yang.... Ini semakin gila," cuit Kinzinger via akun Twitter pribadinya, Jumat (6/11).

Veteran Republik Will Hurd juga setali tiga uang. Ia bahkan mengutuk retorika presiden, dengan menyebutnya "berbahaya." "Seorang presiden berkuasa, merusak proses politik dan mempertanyakan legalitas suara orang Amerika yang tak terhitung jumlahnya, tanpa bukti. Itu tidak hanya keliru dan berbahaya, tetapi juga merusak pondasi dasar bangsa. Setiap orang Amerika harus menghitung suaranya," tulisnya di Twitter, Jumat (6/11).

Berita Terkait : Indonesia, Trump-Biden, Tyson-Ali

Anggota Partai Republik lain dari Michigan, Paul Mitchell menekankan perlunya menjaga kepercayaan dalam proses pemilu. Via akun Twitternya, Mitchell menulis, jika seorang kandidat memiliki bukti kesalahan, itu harus disampaikan dan diselesaikan.

"Apa pun yang merugikan integritas pemilihan kita dan berbahaya bagi demokrasi kita, harus disampaikan," kata Mitchell.

Berita Terkait : Biden Unggul Sementara, Trump Kuasai Benteng Republik

"Saya telah mengalami kekalahan dan kemenangan dalam pemilihan umum. Saya sangat paham, kekalahan itu menyakitkan. Tapi, bangsa kita menuntut agar para pemimpin politiknya bisa menerima kemenangan ataupun kekalahan, dengan anggun dan dewasa. Biarkan para pemilih yang memutuskan," lanjutnya.
 Selanjutnya