Dark/Light Mode

Krisis Politik Malaysia Masih Bersambung

Mahathir Kembali Jegal Usaha Anwar Berkuasa

Selasa, 17 Nopember 2020 07:58 WIB
Anwar Ibrahim (kiri)  saat  pelantikan  Kabinet  Perdana  Menteri  Malaysia  Mahathir Mohamad di Istana Negara, Kuala Lumpur, Senin, 21 Mei 2018 lalu. (Foto: BERNAMA)
Anwar Ibrahim (kiri) saat pelantikan Kabinet Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Istana Negara, Kuala Lumpur, Senin, 21 Mei 2018 lalu. (Foto: BERNAMA)

 Sebelumnya 
Kala itu, mahathir memecat Anwar. Kemudian, Anwar membuat tulisan panjang mengenai responsnnya terhadap krisis 1997. Ia membela kinerjanya kala itu, dan mengkritik pendekatan Mahathir.

Dilansir Malay Mail, Anwar mengaku melihat rekomendasi IMF sebagai kesempatan untuk mereformasi sistem pemerintahan yang di penuhi tindakan korupsi. Untuk diketahui, Anwar sebelumnya mengaku memiliki mayoritas dukungan di parlemen.

Presiden PKR itu mengklaim, memiliki mayoritas yang kuat dan tangguh untuk meng gulingkan pemerintahan Muhyiddin. meski begitu, Mahathir tidak yakin dan khawatir, Anwar mengalami delusi. “Dia masih bukan perdana menteri hari ini meskipun dia mengklaim beberapa kali akan menjadi perdana menteri. Ada persiapan yang dibuat untuknya dilantik, tapi sayangnya itu tidak terjadi,” cetusnya.

Juru bicara PKR, Shamsul iskandar Mohd Akin meminta Mahathir berhenti menggagal kan upaya PH untuk mengembalikan mandat rakyat. “Pernyataan Tun Dr Mahathir Mohamad menggambarkan bahwa beliau ingin tetap berada di arus politik utama,” katanya. “Kita semua paham, kegagalan Tun Dr Mahathir sebagai Perdana menteri dalam mempertahankan agenda reformasi dan mandat yang diberikan rakyat sepanjang 22 bulan PH memerintah negara,” bebernya, seraya menuding tindakan Mahathir yang meletakkan jabatan tanpa bermusyawarah dengan pimpinan PH adalah penyebab kejatuhan pemerintahan.

Baca Juga : Terawan Terjelek, Ah, Sudah Biasa

Shamsul kembali menegaskan, Anwar dan pimpinan PH sedang berjuang untuk mendapatkan kembali mandat rakyat yang dirampas. Karena itu, lanjut dia, Mahathir perlu menghentikan tindakantindakannya untuk memecah belah PH, serta menggagalkan usaha tersebut. “Tun Dr Mahathir seharus nya insaf dan menyadari bahwa segala ketidakstabilan politik yang terjadi saat ini gara-gara tindakannya sendiri. Beliau seharusnya menunjukkan sikap sebagai seorang negarawan dan membantu usaha Dato’ Seri Anwar dan PH untuk mengem balikan mandat rakyat, dan bukan menggagalkannya,” tegas Shamsul.

Asal Bukan Anwar

Menurut pengamat James Chin dari University of Tasmania, Australia, selama Mahathir masih ada, dia akan melakukan berbagai cara untuk menghalangi upaya Anwar menduduki posisi teratas.

Menurutnya, itu sudah bisa dilihat saat keduanya duduk di satu pemerintahan pada 1990an. Saat itu, Anwar adalah wakil mahathir. “Pada dasarnya, Mahathir memiliki agenda pribadi untuk memastikan bahwa Anwar tidak menjadi perdana menteri. Tidak lebih dari itu,” ujar James, dikutip Free Malaysia Today.

Baca Juga : Sedih Sih, Tapi Sabar Ya....

“Bahkan, jika mahathir bukan perdana menterinya, orang lain yang harus jadi perdana menteri. Asal bukan Anwar,” lanjutnya.

Soal koalisi Mahathir dengan Anwar dalam Pemilihan umum Malaysia ke-14 pada 9 Mei 2018, Chin menilai, Mahathir tidak pernah berniat membiarkan Anwar mengambil alih kursi PM.

Hal senada dilontarkan Pengamat Politik dari University Malaya, Awang Azman Pawi. Menurutnya, Mahathir tampaknya “terjebak di dunianya sendiri”. Yakni, Mahathir merasa tidak ada orang lain selain dirinya yang layak memimpin bangsa.

Awang mencatat, mahathir telah melakukan gerakan untuk menjatuhkan Abdullah Ahmad Badawi dan Najib Razak, karena mereka tidak memimpin sesuai keinginannya.

Baca Juga : Jokowi Jengkel

Meski mahathir telah memilih Abdullah sebagai penggantinya. mahathir ke mudian memberikan restunya kepada Najib. Awang menambahkan, Mahathir takut pada Anwar, yang jauh lebih mampu daripada dia. “Mahathir takut orangorang lupa dengan masa kejayaan di bawah kepemimpinannya,” sambungnya.

Dilansir Malaysia Insight, Mahathir mengatakan, pemerintahan saat ini, Koalisi Perikatan Nasional merupakan masa depan yang cerah bagi masyarakat Malaysia, yang bosan dengan pemerintahan yang mempolitisir segala hal di tengah pandemi Covid-19. [DAY]