Dark/Light Mode

Pendukung Kembali Diuji

Raja Cabut Gelar Thaksin

Senin, 1 April 2019 08:23 WIB
Dua hari sebelum pemilu, Thaksin Shinawatra (kedua kiri) menghadiri pernikahan anak perempuan bungsunya di Hong Kong. Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana (kiri) hadir dalam acara itu. (Foto : Istimewa).
Dua hari sebelum pemilu, Thaksin Shinawatra (kedua kiri) menghadiri pernikahan anak perempuan bungsunya di Hong Kong. Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana (kiri) hadir dalam acara itu. (Foto : Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mencabut bintang kehormatan kerajaan dari mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra. Perilakunya dianggap tak pantas karena kabur dalam kasus korupsi.

Thaksin memiliki gelar Chula Chom Klao yang diberikan Istana karena mengabdi kepada negara. Thaksin hidup dalam pengasingan sejak melarikan diri pada 2008 lalu.

Dia melarikan diri untuk menghindari pengadilan korupsi. “Mencabut seluruh gelar yang diberikan kerajaan karena Thaksin divonis bersalah oleh Mahkamah Agung.

Selain itu, dia meninggalkan kerajaan ini dan merupakan sikap yang sangat tidak patut,” demikian isi sabda Raja Vajiralongkorn, seperti dilansir AFP, Minggu (31/3).

Baca juga : NU Dukung Tembakau Rendah Risiko

Raja mencabut gelarnya, sepekan setelah pemilu 24 Maret. Sikap Raja menjadi ujian lagi bagi kubu pro-Thaksin, Pheu Thai. Di mata rakyat, kerajaan dipuja tanpa keraguan dalam budaya Thailand. Padahal saat ini partai loyalis Thaksin saling bersaing ketat dengan kubu militer Partai Palang Pracharat.

Pengumuman pemenang pemilu ditunda hingga 9 Mei. Sebelumnya, kubu Thaksin juga mengalami ujian, karena Raja menyatakan pencalonan kakaknya, Putri Ubol Ratana menjadi PM bagi Partai Thai Raksa Chart, tak pantas. Baik putri maupun partai didiskualifikasi dari pemilu. Parahnya lagi, partai itu dibubarkan.

Sikap Raja Vajiralongkorn menjadi sinyal dia tidak rela jika kelompok pendukung Thaksin, melalui Partai Pheu Thai, menang dalam pemilu.

Menurut hasil perhitungan sementara Komisi Pemilihan Umum Thailand, partai pro junta militer Palang Pracharath meraih 8,4 juta suara. Sedangkan partai pendukung Thaksin, Pheu Thai, meraup 7,9 juta suara. Angkatan bersenjata Thailand mengkudeta Thaksin pada 2006.

Baca juga : Mantap, Balikpapan Kembali Dapat Sambungan Jargas

Dia kemudian kabur ke luar negeri dua tahun kemudian ketika proses hukum terkait skandal korupsinya sedang berjalan. Sang adik, Yingluck Shinawatra, kemudian terpilih menjadi perdana menteri pada 2011.

Namun, nasibnya sama dengan sang kakak yakni dikudeta pada 2014. Yingluck juga dibelit skandal korupsi skema pembelian beras. Dia juga tidak mengikuti proses hukum dan kabur ke luar negeri.

Thailand Klaim Kuasai Parlemen Saat ini baik Palang Pracharath dan Pheu Thai sama-sama mengklaim unggul dalam pemilu.

Mereka juga menyatakan sudah mencari mitra koalisi untuk membentuk pemerintahan. Akan tetapi, banyak pihak meragukan keabsahan hasil pemilu Thailand.

Baca juga : PLN Tak Takut Beban Listrik Naik

Menurut kalangan pemantau pemilu, kuat dugaan proses pemungutan suara direkayasa demi memenangkan faksi pendukung junta militer. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.