Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jelang Pertemuan Menteri ASEAN, Demo Marak Di Myanmar

Militer Bantah Pake Peluru Tajam Hadapi Demonstran

Rabu, 3 Maret 2021 05:17 WIB
Demonstran mengantar jenazah Nyi Nyi Aung Htet Naing, yang tewas karena ditembak aparat dalam unjuk rasa damai di Yangon, Myanmar, Selasa (2/3/2021). (Foto : STR/AFP).
Demonstran mengantar jenazah Nyi Nyi Aung Htet Naing, yang tewas karena ditembak aparat dalam unjuk rasa damai di Yangon, Myanmar, Selasa (2/3/2021). (Foto : STR/AFP).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjelang pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN, rezim junta militer Myanmar meminta pasukan keamanan tidak menggunakan amunisi tajam. Ini seiring dengan terus berkembangnya kecaman internasional.

Pengumuman itu dibuat dalam siaran TV negara, MRTV, setelah Myanmar pada Minggu (28/2) mengalami hari paling mematikan sejak kudeta 1 Februari. PBB mengatakan, setidaknya 18 pengunjuk rasa tewas dan 30 lainnya terluka.

Berita Terkait : Temui Menteri ATR, Apkasi Beri Masukan Tentang RPP Penataan Ruang

Rezim juga mengatakan, lebih dari 1.300 pengunjuk rasa di­tangkap selama demonstrasi nasional. “Mengenai metode penanganan massa, pasukan keamanan telah diperintahkan untuk tidak menggunakan peluru tajam,” bunyi siaran itu.

Namun militer Myanmar menuding, pengunjuk rasa menyulut kekerasan dengan menggunakan ketapel dan bom bensin. “Pasukan keamanan diizinkan melindungi diri ketika pengunjuk rasa membahayakan nyawa mereka, dengan melepas­kan tembakan ke arah pengunjuk rasa di bawah pinggang,” lanjut siaran tersebut.

Berita Terkait : Penjualan Tiket Kereta Di Gambir, Pasar Senen Dan Jakarta Kota Ludes 86 Persen

Kemarin unjuk rasa kembali berlansung. Polisi Myan­mar membubarkan unjuk rasa dengan dengan melepaskan tembakan granat setrum (stun grenades), menjelang pertemuan para Menteri Luar Negeri Persatuan Bangsa-bangsa Asia Teng­gara (Association of Southeast Asian Nations).

Pembicaraan itu akan dilaku­kan melalui video call, selama dua hari, yakni 2-3 Maret 2021. Pembicaraan tersebut berlang­sung setelah kerusuhan berdarah pada 28 Februari 2021, sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi, 1 Februari lalu.

Berita Terkait : Shinzo Abe: Banyak Masalah Yang Belum Saya Selesaikan

Para pengunjuk rasa, yang mengenakan pelindung kepala dan memegang perisai, berkumpul di belakang barikade di berbagai bagian kota utama Yangon. Mereka meneriakkan slogan-slogan menentang kekuasaan militer.
 Selanjutnya